Tae Yong memarahi Jae Bum, meski Jae Bum lebih tua. Lalu Dong Min datang dan marah2 juga. Jae Yul heran, Dong Min bisa kenal kakaknya. Jae Bum pun bertanya, kenapa obat itu tidak bekerja? Ternyata cairan di dalamnya bukan amytal, tetapi air biasa. Jae Bum merasa tertipu. Dong Min mengancam akan melaporkan ke polisi dan Jae Bum tidak akan bisa keluar lagi selamanya, tapi Jae Bum tidak takut.
Dong Min pun bicara pada Jae Yul, kalau hal ini harus dilaporkan, karena Jae Bum itu berbahaya. Tetapi Jae Yul tidak mau. Daripada mencampuri urusannya sekarang, seharusnya 16 tahun lalu ada orang yang mencampuri urusan keluarganya. Jae Bum harus masuk penjara di usia 19 tahun karena membela diri atas perlakuan ayah tiri mereka, tetapi tidak ada yang mempedulikan hal itu. Semua hanya melihat Jae Bum sebagai pembunuh. Dan kalau benar2 berbahaya, dulu harusnya Jae bum menusukkan garpu di leher, bukannya bahu. Dan sekarang harusnya menusuk pisau, bukan jarum. Jae Yul menunjuk kakaknya yang makan roti seperti anak kecil.
Ibu menelpon dan Jae Yul membatalkan acara mereka dengan
alasan dia masih ngumpul2 dengan rekannya. Tapi dia bilang kalau sudah bertemu
sebentar dengan Jae Bum. Ibu pun tahu, bahwa terjadi sesuatu, tetapi tidak
mendesak, asal Jae Yul tidak apa2. Sementara itu Dong Min dan Tae Yong
mengantar Jae Yul kembali ke penjara. Di tengah jalan, Dong Min mengajak
berhenti sebentar. Dia mempersilahkan Jae Bum melakukan apapun sesukanya. Jae
Bum pun berlari. Tae Yong takut Jae Bum kabur, tetapi Dong Min tidak khawatir,
karena seperti kata Jae Yul, Jae Bum tidak berbahaya. Jadi dia membiarkan Jae
Bum menikmati satu hari kebebasannya ini.
Hae Soo menemui Hwan yang kini sudah tidak menggambar alat kelamin lagi, tetapi lukisan bunga yang indah. Meski begitu, dia masih belum menyapa ibunya. Dia masih dalam tahap pengobatan. Dia bisa melewati semua ini dengan kemauan yang kuat, seperti pesan Hae Soo. Hae Soo merasa iri, dia pun menceritakan traumanya sendiri. Dia hendak menghadapinya dengan menerima cinta seorang pria, akan tetapi dia merasa tertolak setelah pria itu tidak menepati janji. Hwan menyuruh Hae Soo tetap menghubunginya, siapa tahu cowok itu kena macet atau ada sesuatu, bukannya menolak. Tapi gengsinya Hae soo terlalu tinggi. Maka Hwan membalikkan kata2 Hae soo dulu.
Kemudian kakak Hae Soo mengirimkan mms foto2 Jae Yul waktu menggendong ponakan, dan Hae Soo pun tersentuh. Saat itu Jae Yul akhirnya menelponnya dan mengatakan hal yang terjadi tadi.
Hae Soo segera menemui Jae Yul dan memeriksa lukanya. Jae Yul tampak ceria, namun Hae Soo tahu bahwa Jae Yul butuh penghiburan. Dia pun memeluk kepala Jae Yul di perutnya. Jae Yul pun bisa menangis di sana.
Sambil perjalanan pulang, Jae Yul berjalan mundur. Hae Soo khawatir Jae Yul jatuh, maka dia mengajaknya jalan berdampingan. Jae Yul berhenti, dia takut Hae soo lari setelah tahu keadaan keluarganya yang separah ini. Tetapi Hae Soo tidak takut, karena selama menjadi dokter, dia melihat kejadian yang lebih seram lagi. Dia berharap masalah Jae Yul bisa selesai. “Kau sungguh beruntung, punya pacar seperti aku, kan?” Jae Yul mencium Hae Soo. Kali ini trauma Hae Soo bereaksi. Dia berkeringat dingin. Jae Yul mencemaskannya, tetapi Hae Soo mengatakan kalau sebentar lagi juga kembali normal.
Mereka pulang bareng. Hae Soo masih pusing. Dia bertanya, apa Jae Yul tidak merasa aneh melihatnya begini? Jae Yul berkata tidak. Mereka pun masuk. Choi Ho melihat dari jauh dan tampaknya sudah menyerah. Dia pergi melewati Soo Kwang dan Kakak yang lagi bersih2 café setelah tutup. So Nyeo pamit pulang, dia dijemput oleh pacarnya. Mereka berciuman di depan mata Soo Kwang. Soo Kwang yang cemburu, langsung kena serangannya. Kakak hanya melihatnya iba.
Jae Yul memberi Hae Soo minum, lalu kembali ke kamar. Mereka sama2 di mabuk cinta malam itu, kebayang2 terus, hahaha… bahkan sampai besok paginya. Jae Yul lari pagi (sambil ngelamun), sementara Woo naik sepeda di belakangnya. Mereka pun ngobrol sebentar. Woo ingin berhenti sekolah saja, karena gurunya menegur saat dia menulis novel di sekolah. Tapi Jae Yul melarangnya. Woo juga terluka di siku saat melewati jalan yang dilewati mereka saat terakhir bertemu. Woo berkata kalau dia mau bunuh diri kalau tidak memenangkan kontes novel kali ini. Jae Yul pun marah, tapi Woo berkata kalau dia hanya bercanda. Dia juga berkata kalau Jae Yul jangan mencemaskan tangannya yang sakit. Jae yul bertanya, apa Woo masih tinggal di rumah bibinya? Ternyata Woo sudah pulang karena ayah pergi. Jae Yul bertanya, apa ada polisi yang menangani kasus mereka? Woo berkata kalau tidak ada yang memperhatikannya selain Jae Yul.
Jae Yul membangunkan Hae Soo, yang ternyata sudah selesai mandi.
Jae Yul menanyakan ingin sarapan apa? Lalu bertanya, apa tidur Hae Soo nyenyak?
Dan bertanya, “Jadi? Kita lanjutkan? (pacarannya)”
“Kenapa? Kau mau berhenti? Kau tidak bisa mundur lagi. kau
tak tahu usaha apa saja yang kulewati sampai pada tahap ini, jadi jangan main2.
Aku sudah mengikatmu sekarang, jadi kita jalani sampai akhir.”
Saat mau kembali ke kamarnya, Jae Yul melihat Soo Kwang mau
masuk ke kamarnya. Dia pinjam pengering untuk mengeringkan sepatu. Jae Yul mau
protes, tapi Soo Kwang bilang moodnya lagi nggak enak habis melihat So Nyeo
ciuman dengan cowok brengsek. Lalu Soo Kwang masuk ke kamar Hae Soo sambil
ngomel karena baju2 Hae Soo bercampur dengan bajunya, jadi secara otomatis Soo
Kwang mencucikan baju Hae Soo, bahkan baju dalamnya. Dia membanting baju2 itu
dan mengomentari Hae Soo yang pakai lipstick merah, seperti mau menggoda cowok.
Dia heran melihat Hae Soo bersenandung riang, lalu minta Hae Soo bercerita,
sementara dia akan melipatkan baju Hae Soo. Tetapi Hae Soo tidak mengatakan apapun
dan pergi. “Kau memberinya dering 3 kali ya? Aish, kenapa hanya aku yang
kesepian!!!”
Di dapur, Jae Yul membuatkan roti, sementara Hae Soo datang
sambil menelepon dan tidak jadi sarapan karena nggak sempat. Jae Yul mau
protes, tapi Hae Soo menekan bibir Jae Yul dengan jari sambil tetap menelepon. Hae
Soo minta kopi dan segera dikasih. Saat meminumnya, kopi menetes keluar dari
mulutnya. Hae Soo minta pertolongan, Jae Yul mengelapkan mulut Hae Soo dengan
tangan. Soo Kwang ke dapur dan senyum2 “Dia juga melakukan itu pada Choi Ho.”. Mereka
tampak mesra. Setelah menutup telpon, Jae Yul memasukkan roti isi ke mulut Hae
Soo agar dia bisa makan di jalan. Ada serpihan di bibir Hae Soo dan Jae Yul
ingin membersihkannya. Tetapi Hae Soo melarang, “Lakukan hanya jika aku
meminta. Tidak bisa setiap saat kau mau hanya karena kuijinkan sekali.” Lalu
Hae Soo pergi.
Soo Kwang berkata, “Mulai sekarang noona akan menghujanimu
dengan ciuman sampai kau terkaget2. Dia juga akan mulai menyentuhmu. Kalian
akan nonton film bersama sementara dia membaringkan kepala di pangkuanmu. Tapi
sampai di situ saja. Dia akan membuatmu terangsang berkali2 tapi tak pernah
menindaklanjutinya. Dia akan mengangkat bahu dan berlagak lugu serta bodoh.
Tahu2 kalian sudah akan merayakan hari jadi ke 300 hari. Dia itu ratunya
membuat lelaki memohon dan menangis sepanjang 300 hari lamanya. Tidak akan
pernah lebih dari itu. Choi Ho hilang berat badan 5 kg saat pacaran dengannya.
Makan yang banyak, ya, hahahaha…”
Tetapi Jae Yul menjawab, “Aku bukan Choi Ho. Aku Jang Jae
Yul.”
Rencana Soo Kwang untuk memanas2i Jae Yul gagal. “Ah, kenapa
cuma aku yang kesepian???”
Hae Soo menemui pasien pemotong tangan, menunjukkan gambar perbandingan hasil operasi dari tangan orang yg terpotong, dengan yang hancur. Hae Soo berusaha memberi semangat, bahwa dia bisa sembuh dengan berpikir positif. Tetapi pria itu merasa tidak pernah bisa berpikir positif. Hae Soo meminta istri pria itu untuk menunjukkan foto waktu si pria menggendong anak mereka, sementara Hae Soo sendiri melihat foto Jae Yul yang menggendong ponakannya. Mungkin dia dapat ide ini dari foto itu. Dan setelah melihat foto anaknya, pria itu pun jadi sadar dan semangat, karena kalau tidak punya tangan, bagaimana dia menggendong anak mereka? Istrinya pun minta maaf karena tidak tahu kesulitan suaminya. Dia tidak akan minta anak kedua dan akan membantu ekonomi keluarga mereka.
Ibu menelpon Hae Soo, minta nomornya Jae Yul. Tapi Hae Soo
menutup telponnya. Kakak menyuruh ibu untuk berhenti mengganggu Hae Soo. Tapi
ibu bilang hanya ingin berterima kasih pada Jae Yul karena sudah membuat ayah
senang. “Apa kalian susah sekali mengerti kalau aku punya hubungan dengan
presdir Kim? Waktu itu mungkin sudah kubunuh ayahmu kalau aku tak bertemu
dengannya. Belum lagi kalian tidak akan bisa kuliah.” Kakak ipar mencoba
menenangkan istrinya, tapi Kakak malah memarahinya karena sering minum soju.
Apalagi setelah itu Ibu dapat telpon dari Presdir Kim, Kakak memperbesar
suaranya. Ibu ngobrol dengan Presdir Kim perihal istri si presdir, sambil
merawat ayah.
Tae Yong mempertanyakan produktivitas Jae Yul yang akhir2
ini menurun, sejak novel terakhir yang dikacaukan Tae Yong. Tapi Jae Yul
memaafkan Tae Yong karena dia baik pada ibu. Jae Yul berpesan, jika kakaknya
keluar, transferkan saham penerbitan Jae Yul pada Jae Bum. Dia tidak bisa
memberi apapun selain uang. Lalu ibu Hae Soo mengirim sms terima kasih setelah
mendapat nomor dari Soo Kwang. Dia juga mengirimkan foto. Jae Yul melihat
background foto itu, ada foto tebing, mirip dengan foto di kamar Hae Soo. Saat
Jae Yul pergi, seorang wanita menghampiri Tae Yong, dan Tae Yong mengenalnya.
Tampaknya mereka teman lama, namanya Sang Sook. Hm… apa dia akan jadi orang
ketiga nantinya?Dr. Lee akhirnya mau menemui Dong Min yang meminta maaf, ditemani Soo Kwang. Tetapi Dr. Lee berkeras tidak mau memaafkan sikapnya. Mereka pun akhirnya bertengkar. Soo Kwang mencoba melerai, tapi malah dimarahin. Dia pun menyingkir, tapi masih menguping. Sepertinya penyebab perceraian mereka adalah karena Dong Min pernah menyuruh dr. Lee cuti untuk mendukung dirinya yang mau jadi dokter spesialis. Tapi dr. Lee sendiri juga mau jadi spesialis. “Saat itu aku membutuhkanmu,” kata dong Min. “Dan bagaimana kalau aku masih membutuhkanmu?” tanya dr. Lee, mengungkapkan kalau dia masih punya perasaan pada Dong Min. Soo Kwang yang menguping hanya bisa komentar, “Ah, ini kacau…” Dong Min melarang dr. Lee menghubunginya lagi, lalu pergi.
Hae Soo lewat dan melihat mereka, dia hanya bisa menghela napas. Lalu Choi Ho datang, bertanya apa benar Hae Soo pacaran dengan Jae Yul? “Kau bertanya sebagai teman, atau karena kau masih punya perasaan?” Choi Ho mengaku masih menyayanginya, maka Hae soo tidak menjawab apapun. Sementara itu di café, Kakak menghampiri Soo Kwang dan mencemaskan So Nyeo yang pacaran sama cowok brengsek. Dia bisa dihamili. Tapi Soo Kwang tidak mau mempedulikan. Meski begitu, sebenarnya dia peduli.
Di bus, Hae Soo menelepon Jae Yul yang lagi nyetir. Mereka
saling tanya, sudah makan? Tipikal pembicaraan orang pacaran. Saat Jae Yul
bertanya, sudah makan? Jawaban Hae Soo, “Sudah, jangan tanya makan apa, aku tak
suka.” Setelah menutup telpon, mereka saling bergumam, “Dia sempurna, dia
tipeku sekali. Aku suka!”
Saat turun dari bus, Jae Yul sudah menunggu dengan 2 buah es
krim. Mereka berjalan bersama dan bergandengan tangan.
JY: “Akhir minggu depan ada waktu?”
DM: Ah, si playboy Jang Jae Yul…
HS: Akhir minggu depan? Mungkin bersih2 rumah. kenapa?
DM: Dia menghindar dengan cepat, kan?
JY : ayo jalan2
SK: uuuu… serangan mendadak! Aku harus belajar melakukannya.
DM: ada kesempatan menghindar di sini
SK: Wah, pelanggaran.
DM: Penyerangan pemain Ji Hae Soo sangat baik.
JY: Orang tidak pergi jalan2 untuk melakukan pergerakan. Jalan2 untuk melihat pemandangan. Kau jalan2 untuk melakukan pergerakan?
HS: pemandangan? Dari caramu bicara saja lihay sekali. Kau pintar bicara, pantas jadi penulis.
Jay Yul bertanya tentang gambar di kamar Hae Soo, tampak bagus. Ternyata itu Okinawa, diambil dari internet. Dia ingin pergi dengan ayahnya ke sana.
HS: Kalau kita sungguh pergi jalan2, apa kau bisa melindungiku?
HS: Apa kau bisa janji di depan Soo Kwang dan Dong Min saat ini juga?
JY: Aku bersumpah, kalau aku tak bisa melindungi Ji Hae Soo dalam tamasya, maka aku adalah bajingan. Kau pasti kaget dengan caraku melindungimu.
Hae Soo pun setuju, dan duluan ke kamar.
DM: yayaya! Mau bagaimanapun situasinya, mana bisa kau
berjanji pada hal seperti itu? dia itu perawan di usia 30an, apanya yang mau
kau lindungi dengan pergi jauh2 begitu? Lakukan saja disini.
SK: Dia gila, kan?
JY: seorang lelaki berkata ingin jadi lelaki sejati, kalian
ini kenapa? Seorang pria melindungi wanita yang dicintainya dari kecelakaan
atau dari lelaki lain…
SK dan DM: Tunggu dulu…
DM: Kecelakaan? Pria lain? Kau yang paling bahaya di sini.
Kenapa kau tidak diikutsertakan?
JY: memangnya aku termasuk?
DM: Eeyyy mungkinkah…???
Jae Yul hanya tersenyum penuh arti, lalu pergi. Soo Kwang
dan Dong Min berseru, “Yaaaa apa ini? Apa ini home run? Hahahhah”
Dan, besoknya mereka memulai perjalanan…







































Tidak ada komentar:
Posting Komentar