Hae Soo mendengar seseorang pulang dan segera menyambutnya dengan ceria. Tetapi saat tahu kalau yang pulang itu Dong Min, tampangnya langsung dingin. Dong Min tahu siapa yang sebenarnya ingin disambut oleh Hae Soo.
Cewek susu yang bernama So Nyeo, ingin menginap semalam di
rumah Hae Soo dkk, dengan alasan kunci rumahnya hilang, ayahnya nggak pulang2,
dan ibunya kabur sejak lama. Saat naik, Jae Yul kaget setelah disapa oleh Hae
Soo dengan senyuman. “Kau mau memulai pertengkaran dengan senyuman?” Hae Soo
pun mengacuhkannya dan menyalakan lilin. Jae Yul penasaran, lilin itu untuk
apa? Hae Soo berkata kalau dia mendoakan orang yang dia sayangi. Jae Yul pun
menebak, orang itu adalah cowok di hp dan menuduh Hae Soo juga selingkuh dari
Choi Ho. Hae Soo malah membalas menuduh Jae Yul sedang cemburu. Tiba2 terdengar
bunyi pecah di bawah.
So Nyeo nyari2 makanan di dapur. Hae Soo kaget melihat cewek
itu bisa ada di rumah mereka. Jae Yul pun mengatakan kalau sebagai pemilik
rumah, dia mengijinkan So Nyeo menginap semalam saja di ruang tamu. Hae Soo
tidak setuju. Dia menemui Jae Yul yang lagi mengetik di kamar, menuduh Jae Yul
sering dekat2 dengan anak2. Jae Yul berkata dia tidak dekat dengan So Nyeo,
tetapi anak yang lain (Kang Woo). Ekspektasi Hae Soo berbeda dengan
kenyataannya. Dia pun mempertanyaan kegugupan Jae Yul yang pernah dia katakana
lewat sms. Jae Yul pun bilang, “Itu dulu, sekarang tidak.”
Hae Soo keluar dari kamar itu dengan kesal, padahal hatinya
sudah mulai tersentuh oleh Jae Yul. Dia ngomel2 di luar, sampai akhirnya Jae
Yul keluar karena nggak bisa konsen nulis. Hae Soo turun memarahi So Nyeo. Jae
Yul menyuruhnya membiarkannya saja agar suasana tetap tenang dan dia bisa
menulis. Ternyata Hae Soo menyuruh So Nyeo tidur di kamarnya, karena kalo tidur
di luar, ada 3 macan (cowok) di rumah ini, bahaya buat anak gadis.
Jae Yul memuji Hae Soo yang ternyata berbaik hati. Hae Soo mengejeknya ‘playboy sombong’. Jae Yul melarangnya memanggilnya begitu, karena playboy juga punya prinsip.
“Seperti angin barat laut, angin barat, angin tenggara,,
playboy tidak pergi tanpa tujuan. Aku juga punya arah. (tulisan hangul playboy
= angin). Kau ingin aku mengatur arah anginku kepada dirimu? Ingin melihat
seberapa kuatnya anginku?” (Jae Yul)
“Mengapa aku membiarkan anjing mendekatiku?” (Hae Soo)
“Kau juga beban bagiku, kau terlalu polos.” (Jae Yul)
“Sejak kapan menjadi polos dianggap sesuatu yang buruk?
Seberapa kotor dunia ini?” (Hae Soo)
Paginya, Jae Yul
pesan kopi. Kakak Hae Soo menanyakan pendapat Jae Yul tentang Hae Soo. “Dia
gadis yang menarik.” Kakak Hae Soo langsung girang, mengira Jae Yul mengencani
adiknya. Tetapi Jae Yul kemudian menambahkan, “Tapi tidak menarik untuk diajak
kencan.” Kakak Hae Soo langsung marah, membanting peralatan kopinya sambil
bertanya berapa kopi yang Jae Yul inginkan. Jae Yul yang rada syok melihat
kakak Hae Soo yang serem kalau lagi marah, hanya bisa menunjukkan 4 jarinya.
Hae Soo yang baru selesai mandi, kaget saat membuka tirai
showernya, karena ada So Nyeo yang lagi pup. Saat 3 cowok lagi ngumpul sambil
minum kopi di taman pada pagi hari yang cerah, Hae Soo keluar dari rumah hanya
berbalut handuk, sambil menjewer So Nyeo dan mengusirnya. Dia mengancam akan
membunuh siapa saja yang membiarkan cewek itu kembali lagi kemari. Saat mau
kembali ke dalam, 3 cowok memperhatikan tubuh seksinya. Dia berbalik, dan hanya
memukuli Soo Kwang, padahal Jae Yul lebih intens memperhatikannya. Tetapi Hae
Soo tidak menganggap Jae Yul sebagai manusia.
Jae Yul pun heran, bisa2nya Hae Soo setengah telanjang di
hadapan 3 pria. Dong Min pun menjelaskan, Hae Soo tidak melihatnya sebagai
pria, sedangkan dia menganggap Soo Kwang sebagai anak2. Dong Min jadi heran,
karena Jae Yul malah diperlakukan seperti anjing. Jae Yul bertanya, apa ini
sering terjadi saat Hae Soo marah? Karena Jae Yul ingin membuatnya lebih marah
lagi (wohooo). Lalu Dong Min mengajak Jae Yul untuk pergi ke sebuah konser
nanti sore. Jae Yul bertanya, siapa saja yang ikut? Dong Min tahu kalau Jae Yul
tidak menyukai Soo Kwang dan Hae Soo, jadi dia bilang kalau yang pergi hanya
mereka berdua. Jae Yul pun setuju. Jae Yul lalu bertanya tentang keluhan yang
dialami Woo dan Dong Min pun menyuruhnya membawa Woo ke RS tempat mereka
bekerja. Sementara itu diam2 Soo Kwang mengajak So Nyeo yang masih berdiri di
depan gerbang, untuk masuk selagi orang2 tidak ada di rumah.
“Memangnya kenapa? Dulu jantungku memang benar2 berdegup kencang. Apa aku harus menyesalinya? Apa aku harus minta maaf karena tidak berdebar lagi? Kalau begitu, maaf.” Dan karena Hae Soo terus menerus melarang Jae Yul bicara dengannya lagi, Jae Yul pun langsung membawa mobilnya pergi tanpa sepatah kata. Saat mau kembali berjalan, Hae Soo mendengar suara teriakan. Seorang ibu sambil menggendong anak berteriak karena suaminya memotong lengannya sendiri.
Jae Yul berhenti di pinggir jalan, di mana Woo sudah menunggu. Mereka ke RS bersama. Sementara itu Jae Bum menelpon Dong Min, karena dia berpikir ulang, sebelum ibu dan adiknya disuntik amytal, dia ingin disuntik lebih dahulu. Dia pikir Dong Min pasti tidak percaya dengan ceritanya, jadi dia ingin disuntik dan mengungkapkan kebenaran itu kepada Dong Min. Setelah itu, Dong Min segera menelepon opsir untuk meminta berkas Jae Bum dengan segera.
Hae Soo mengantarkan pasien yang memotong tangan itu ke UGD. Istrinya menangis sejadi2nya. Tim Hae Soo pun rapat singkat dengan dokter yang menangani pasien itu. Si pasien sengaja memotong lengannya karena benci lengannya. Dia punya gangguan jiwa skizofrenia atau ‘gangguan tubuh dismorfik’, yaitu keyakinan kalau tubuhnya bukan miliknya. (Aku pernah lihat kasus ini di film barat, judulnya lupa. Pokoknya, ceritanya si bapak yang menganggap dirinya tak bisa berkomunikasi dengan baik, lalu bertemu dengan sebuah boneka tangan yang dianggapnya mampu mengungkapkan isi hatinya. Boneka itu seperti sudah jadi bagian tubuhnya. Suatu kali, dia membenci boneka itu, lalu memotongnya, dalam arti dia memotong tangannya).
Dokter tadi mengajak dr. Lee bicara, konsultasi masalah
keluarganya. Istrinya memaksanya melayani seks, padahal dia sudah kelelahan,
selain karena bekerja juga karena usia. Memang istrinya 12 tahun lebih muda.
Dr. Lee bertanya, apa rekannya itu pernah membicarakan hal ini pada sang istri?
Dr. Lee menyarankan untuk cerai saja kalau memang tidak tahan tetapi tak mau
membicarakannya. “Jangan bercerai, hanya karena kau malas dan malu untuk
terbuka, seperti aku dan Dong Min.”
Tim Hae Soo memperhatikan pasien ibu yang menggendong ‘bayi
angin’. Ternyata saat bayinya berumur 1 th dan mulai bisa merangkak, ibu itu
memasak air dan ditinggal ke pasar. Si anak menendang air itu sehingga
meninggal karena luka bakar. Sang suami entah di mana, karena dia tidak pernah
mau menjawab saat ditanya. Salah satu rekan menyarankan terapi induksi. Memang
akan berhasil, ibu itu tidak akan melihat ‘bayi angin’nya lagi. Akan tetapi dia
akan jadi depresi setelah menyadari bahwa bayinya sudah meninggal. Mereka pun
akan mendiskusikan pengobatan serta efeknya kepada sang suami.
Jae Yul dan Woo berjalan di koridor. Jae Yul melihat Hae
Soo, jadi dia menyuruh Woo untuk mendaftar sendiri. Woo menggodanya sebelum
pergi. Jae Yul menghampiri Hae Soo dan menyapanya. Tetapi Hae Soo hanya pasang
tampang sangar. Jae Yul pun ingat kalau Hae Soo melarangnya mengajak ngobrol.
Dia pun pergi begitu saja. Lalu dia duduk di ruang tunggu bersama Woo untuk
waktu yang lama. Dia pun menghampiri perawat, bertanya kenapa Kang Woo tidak
dipanggil juga? Suster pun bingung, karena tidak melihat siapapun selain Jae
Yul. Dia pun mengecek dan berkata tidak ada pasien bernama Han Kang Woo yang
mendaftar. Saat Jae Yul menoleh, Woo sudah menghilang. Jae Yul menduga, Woo
takut diperiksa dokter.Jae Yul menjemput Dong Min dan Soo Kwang yang nongkrong di pinggir jalan. Mereka tampak seperti gembel hehe… Jae Yul mengeluh, kenapa Soo Kwang ikut? Tadi kan katanya cuma berdua. Dong Min pun berkata kalau dia pinter bohong. Mereka tidak pergi berdua, melainkan berempat. Tak lama kemudian, Hae Soo datang dan mengeluh karena mereka harus naik mobilnya Jae Yul. Jae Yul pun menyuruhnya naik bus saja. Dong Min memarahi Hae Soo yang harga dirinya terlalu tinggi. Menurut Dong Min, Jae Yul itu baik, nggak sebrengsek yang Hae Soo kira. Mereka pun naik duluan, dan akhirnya Hae Soo harus rela meletakkan harga dirinya, dan naik ke mobil.
Dong Min menceritakan, Yoon Chul adalah teman mereka yang punya istri menderita scizo. Ortu Yoon Chul melarang pernikahan mereka, tapi mereka tetap menikah, sehingga Yoon Chul diusir. Kini Hae Jin hamil. Dia tidak mau meminum obat penenang, karena takut berpengaruh pada bayinya. Tetapi dia jadi lebih takut lagi, karena kalau nggak minum obat, dia bisa sering kambuh. Jadi mereka akan menonton konser sekalian berkunjung memberi semangat. Dan aku suka beberapa kalimat dalam pembicaraan mereka ini:
“Pasien kanker atau pasien yang kakinya diamputasi, mereka
pasti dipedulikan dan dapat simpati. Tapi pasien dengan penyakit jiwa, mereka
dipandang seperti orang buangan. Kau dan aku, kita semua punya kesempatan
terkena gangguan jiwa. Tapi semuanya bersikap seakan tidak akan pernah terjadi
pada mereka.”
Jae Yul merasa takjub karena mereka (Yoon Chul dan Hae Jin) bisa menikah, bahkan akan punya bayi. Hae Soo pun nyeletuk, “Memangnya kenapa? Tidak masalah punya bayi, selama suaminya bukan dirimu.” Dong Min pun mengomeli Hae Soo lagi. Lalu mereka berhenti sejenak untuk istirahat. Sambil menunggu Hae Soo, Dong Min menceritakan tentang Hae Jin, kemudian dia mendapat telepon dari pasiennya.
Seusai konser, Hae Jin jongkok di pinggir danau, tampak galau. Yoon Chul berdiri di belakangnya, galau pula. Hae Soo tidak bisa meninggalkan mereka karena khawatir, Hae Jin tampak gelisah setelah konsultasi dengannya. Dong Min ingin tinggal juga, tapi dia harus mengurusi pasiennya sendiri. Jadi Hae Soo ditinggal sendiri, sementara 3 cowok pulang. Tiba2 terdengar teriakan Yoon Chul. Jae Yul menghentikan mobilnya. Mereka bertiga keluar dan melihat Hae Jin berjalan ke tengah danau, sementara Yoon Chul mencoba mengejar tetapi tidak bisa berenang.
Soo Kwang ingin menolong, tapi dia tidak bisa berenang dan kena serangan panik. Dong Min menolong Yoon Chul, sementara Jae Yul menolong Hae Jin. Hae Soo datang dan meneriaki Jae Yul agar jangan sampai Hae Jin meminum air danau. Akhirnya wanita itu pun berhasil selamat, setelah sempat beberapa kali menenggelamkan kepalanya Jae Yul, juga memukulnya sampai berdarah.
Malamnya, Hae Soo menenangkan Hae Jin. Cowok2 di luar. Yoon Chul merasa kalau ini semua salahnya, karena dia menyarankan Hae Jin untuk aborsi saja sebagai jalan keluar. Jae Yul tidak menyalahkannya, karena dia akan melakukan hal yang sama kalau istrinya begitu juga. Dong Min memberinya semangat untuk tetap tabah. Lalu Jae Yul bicara pada Soo Kwang, kalau dia akan memberi pekerjaan pada So Nyeo. Soo Kwang pun memberinya respek dan memanggilnya Hyung. Dong Min dan Soo Kwang pulang dengan ambulans, sementara Jae Yul tetap tinggal.
“Sulit bertahan di situasi seperti itu hanya dengan cinta
saja. Bahkan sekarang, sejujurnya aku tidak yakin mereka akan bertahan
selamanya. Tapi aku ingin mendukung mereka. Jika mereka bisa hidup bahagia,
mungkin aku bisa berharap, aku bisa percaya pada cinta juga. itu sebabnya aku
menyalakan lilin di rumah mendoakan mereka. Berdoa, siapapun tolong bantulah
mereka. Apa cinta benar2 bisa menyelamatkan mereka?” (Hae Soo)
“Tentu saja” (Jae Yul)
“Kau percaya pada cinta? Apa kau percaya, cinta akan selalu
memberikan kebahagiaan, keberanian dan kenyamanan?” (Hae Soo)
“Dan juga ada rasa sakit, kebencian, kesedihan, dan putus
asa. Cinta juga memberikan ketidakbahagiaan. Tapi, cinta juga akan berikan
kekuatan untuk melewati semua cobaan itu. Harus ada semua itu, agar bisa
disebut cinta.” (Jae Yul)
Hae Soo mengejek, “Siapa yang mengajarimu?”
“Cinta yang mengajariku. Ada seorang wanita yang sangat
kucintai sampai tergila-gila. Namanya, Ibu.”
Hae Soo terkesan dengan kata2 Jae Yul.
Kemudian mereka melihat pasangan itu berciuman.
“Ah… aku ingin jatuh cinta…” kata Jae Yul. Hae Soo
menatapnya aneh.
“Kau tahu berapa banyak pelajaran hidup berbeda dari orang
lain yang bisa kita pelajari saat jatuh cinta? Pertama, kau akan merasa senang.
Kedua, kau belajar kesabaran. Ketiga, perhatian.”
Hae Soo mengejeknya, dasar playboy sombong. Jae Yul pun
berkata kalau playboy itu berbeda dari penyelingkuh macam Choi Ho. “Aku
mendengarkan para wanita. Aku mungkin tidak terlihat seperti itu, tapi aku
masih patuh dan menghormati pendapat orang lain. Jika wanita melarangku sesuatu,
aku akan menurutinya.”
Hae Soo menertawakannya.
“Kau menertawakanku? Jangan protes dulu, karena kita belum
berkencan. Kau akan terkejut saat kita berkencan nanti.”
Besok paginya, Hae Jin dan Yoon Chul akan pergi ke panti rehabilitasi. Karena tidak mau minum obat, maka Hae Jin harus ke sana 2 kali seminggu. Mereka menggoda Hae Soo agar jadian saja sama Jae Yul. Tapi Hae Soo mengelaknya. Saat mereka pergi, Hae Soo mencari2 Jae Yul, dan menemukannya tidur di dalam wc, di samping kloset, tampak seperti mimpi buruk. Sementara itu Berkas dari penjara datang kepada Dong Min. Dia pun terkejut melihat fakta bahwa Jang Jae Bum dan Jang Jae Yul adalah kakak beradik.
Jae Yul mengajak Hae Soo nyebur di air terjun. Tapi Hae Soo menolak. Jae Yul pun menggendongnya paksa dan mencemplungkannya di air. Mereka pun bermain air dengan gembira. Tiba2 Jae Yul menarik wajah Hae Soo dan mencium bibirnya. Dua kali. Yang kali kedua, Hae Soo membalasnya. Yipieeee!!!








































Tidak ada komentar:
Posting Komentar