Quotes

"Write is my World"

Selasa, 14 Oktober 2014

It's Okay, That's Love Episode 10

 Jae Yul pindah malam itu juga, kembali ke apartemennya. Masih belum selesai, tetapi pada malam hari tidak ada suara konstruksi, sehingga dia bisa lebih konsen menulis di sana. Baru sampai, Hae Soo meneleponnya, “Apa tidak ada yang ingin kau katakana?” Jae Yul hanya mengucapkan selamat tidur, lalu menutup telpon. Hae Soo kesal, marah, namun rindu dan juga mengantuk.

 Dalam dua hari, mereka tidak bertemu maupun telepon2an. Mereka saling rindu sebenarnya, tetapi tidak ada yang mau maju duluan. Jae Yul menatap sofa dan mengenang saat ciuman pertama mereka, juga malam pertama mereka. Hae Soo masuk ke kamar mandi Jae Yul di rumahnya. Jae Yul sudah memberitahu kodenya, sehingga Hae Soo bisa masuk kapan saja. Tidak ada istilah ‘ruanganku’ di antara mereka. Hae Soo pun berbaring di dalam bathtub.

 Jae Bum diberi amytal. Namun bahkan setelah Jae Bum berkata jujur dan seandainya ternyata yang membunuh sebenarnya adalah Jae Yul, perkataan ini tetap tidak bisa dibawa ke pengadilan. Jae Bum kesal, tetapi dia pasrah saja. Dia sendiri juga tidak percaya pada ingatannya sendiri, benarkah bukan dia yang membunuh?
 Sementara itu Jae Yul ngobrol dengan Choi Ho yang rencananya mau menyiarkan tentang Jae Bum. Menurut Jae Yul, yang bodoh adalah jaksanya, menghukum orang 11 tahun penjara, padahal tidak ada bukti yang cukup. Jika dengan penyiaran Choi Ho, nama Jae Bum bisa dibersihkan, Jae Yul bersumpah akan memujanya. Kemudian Jae Yul melarang Choi Ho untuk mendekati Hae Soo lagi. Choi Ho tidak mau menyerah sebelum dia yakin Jae Yul tidak berbahaya bagi Hae Soo. Jadi sementara waktu, Jae Yul tidak boleh menyentuhnya. “Bagaimana kalau aku sudah menyentuhnya?” Choi Ho terkejut, berarti mereka sudah tidur bareng. Choi Ho menghajar Jae Yul. Mereka pun berkelahi. Jae Yul mendorong Choi Ho, tiba2 Choi Ho tidak sadarkan diri.
 Sesi amytal dimulai. Selama ini ibu hanya sayang pada Jae Yul. Mereka selalu bermain dan tertawa bersama. Lalu suatu hari ayah tiri mereka lagi2 memukuli Jae Yul. Jae Bum datang dan berkelahi dengan sang ayah. Dia menyiram ayah tiri dengan minyak dan mau membakarnya. Ayah tiri memukuli Jae Bum. Jae Yul mengambi pisau buah dan berdiri.
 Jae Bum mendorong Ayah tiri ke arah Jae Yul, dan pisau itu langsung menusuk perut ayah. Jae Yul terdorong oleh tubuh berat ayah, dan kepalanya terhantuk lemari.
 Jae Bum membalik mayat ayah, lalu mengambil pisau dari perut ayah. Saat itu ibu datang memergokinya.
 “Jae Yul pembunuhnya…” kata Jae Bum sambil menangis.
 Di depan wc RS, banyak orang berkumpul. Seorang pasien duduk di dekat kloset sambil mendekatkan pin tusukan di dekat lehernya. Dia tidak mau pergi dari wc. Hae Soo pun datang dan menyuruh agar pasien yang mau ke wc, pakai wc lain saja, dibantu oleh dokter dan perawat. Salah satu dokter menyarankan agar dibius saja, tapi Hae Soo melarang. Dia membiarkan pasien itu tidur di wc. Pin itu diminta oleh Hae Soo. Pasien juga ingin minta kanvas, mau menggambar. Hae Soo janji akan memberikannya. Lalu pasien itu tertidur. Hae Soo jadi ingat pada Jae Yul yang selalu tidur di wc, seperti pasien ini.

Soo Kwang membantu ayah So Nyeo. Dia memberikan beberapa kardus bekas dan membantu mengikatkan. Dia menyarankan agar ayah So Nyeo membawa sampah itu ke tempat daur ulang, jangan dibawa pulang. Yang dibawa pulang itu duitnya. So Nyeo keluar dan kesal melihat perbuatan Soo Kwang, tapi Soo Kwang pura2 tidak mengenalnya. 

 Di dalam, ada Choi Ho. Dia sudah sadar dari pingsan. Soo Kwang membawakan air dan es batu. Jae Yul datang, bertanya apa tidak perlu ke RS? Choi Ho bertanya, apa Jae Yul benar2 mencintainya, atau hanya pura2? Jae Yul berkata, apapun jawabannya, serius ataupun bercanda, Choi Ho pasti akan tetap marah. Choi Ho meminta Jae Yul menyampaikan kepada Hae Soo bahwa dia tidak memiliki kepercayaan diri untuk melupakannya dengan mudah, tetapi dia janji tidak akan muncul lagi jika Hae Soo tidak suka. Namun Jae Yul tidak suka jadi ‘tukang pos’, Choi Ho harus menyampaikannya sendiri.
 Woo datang, melambai2 dari luar. Jae Yul memberi kode akan segera ke sana. Choi Ho menoleh, tapi tidak melihat siapapun. Jae Yul berkata kalau Hae Soo bukan gadis yang bisa melupakan dengan mudah, jadi membutuhkan waktu agak lama agar mereka bisa berteman kembali. Jae Yul bangkit dan meminta agar Choi Ho melakukan dengan baik tentang kasus kakaknya, maka dia akan mengajak minum. Choi Ho berkata, tidak ingin meminum apapun yang diberikan Jae Yul. Saat Jae Yul pergi, Choi Ho dapat telepon, info tentang pengacara yg bertanggung jawab atas kasus Jae Yul. Dia pun segera pergi.
 Saat itu Jae Yul lagi ngobrol sama Woo di depan, Choi Ho melewati tengah2 mereka, hal yang tidak sopan, kalau memang ‘benar-benar’ ada dua orang yang lagi ngobrol di sana. Woo menanyakan tentang novel barunya, tidak ingin hanya diberi pujian ‘bagus’, tetapi ingin tahu apakah novelnya ini bisa memenangkan kontes? Jae Yul berkata bisa, dan Woo sangat senang.
 Soo Kwang lewat dan heran, melihat Jae Yul ngobrol sendiri. Lalu Tae Yong menelepon, bertanya apakah dompet yang ketinggalan itu benar2 penting? Dia malas sekali untuk mengambilnya.
 Usai sesi amytal, Jae Bum menangis. Dong Min menyemangatinya, berkata bahwa Jae Bum tidak kesepian. Jadi ternyata, setelah penusukan itu, Ibu datang dan memeluk Jae Yul yang pingsan. Jae Bum berkata, kalau Jae Yul yang menusuknya, tetapi Jae Bum ingin mengakui bahwa dialah yang menusuk, jika polisi bertanya. Dia pikir, hanya dihukum 2/3 tahun. Tapi jaksa malah memberi hukuman 11 tahun.
 Akhirnya Jae Bum pun bilang yang sebenarnya kepada hakim. Jae Yul yang tadinya sudah dibela-belain, malah melemparkan semua kesalahan kepada Jae Bum. Itu yang membuat Jae Bum tidak terima sampai sekarang.
 Akhirnya Jae Yul mengirimkan SMS, “Boleh aku menghubungimu?” Hae Soo langsung meneleponnya. Ternyata Jae Yul ingin menghubungi dalam rangka profesionalisme. Produsernya ingin Hae Soo tampil di acara talk show lagi. Hae Soo bersedia asalkan Jae Yul tidak jadi pindah. Jae Yul tetap bersikeras dan menyampaikan kepada produser kalau Hae Soo tidak bisa datang. Hae Soo galau punya pacar macam Jae Yul. Dia menghantuk2 kepala di dinding, “bogospta…”

 Pasien suami istri yg berhalusinasi kecoak sudah dipisah, dan masing2 diperlihatkan cctv pasangan mereka secara terpisah. Si suami masih melihat kecoak, sementara si istri tidak. Istri hanya melihat ketika bersama suami. Hae soo ingin bertanya awal mula mereka melihat kecoak itu karena apa, tetapi mereka tidak mau mengatakannya.
Dong Min memanggil Jae Yul, tapi kamarnya kosong. Dong Min pun masuk dan melihat2. Dia mengambil salah satu buku, sastra pertama Jae Yul di usia 15. Di dalamnya ada kata ‘mekanisme pertahanan’. Jae Yul datang untuk mengambil barang2. Dia mengambil air di dapur dan naik ke kamarnya. Dia melihat pintu terbuka, dikiranya Hae Soo, ternyata Dong Min.  Untungnya dia tidak mempermasalahkan ada orang masuk kamarnya sembarangan, baca buku pula. Dong Min pun bertanya, bagaimana bisa anak 15 tahun sudah tahu istilah mekanisme pertahanan? Jae Yul pun berkata mendapatkan kata itu dari berita di tv, saat seorang korban pemerkosaan membunuh pelaku, tapi tidak dinyatakan bersalah karena tindakan yang berdasarkan pertahanan. Saat itu dia pikir, hukum itu lembut dan adil, tetapi dia berubah pikiran saat kejadian Jae Bum. 


 Mata Dong Min tak sengaja melirik kamar mandi yang dikunci pakai kode. Lalu Hae Soo muncul, bertanya tentang pendapat Dong Min mengenai Jae Yul yang pindah dan meninggalkannya. “Jika dia melakukan sesuatu mencurigakan, aku sendiri akan membunuhnya,” kata Dong Min sebelum keluar dan mengambil apelnya Hae Soo. Jae Yul mau bermesraan, tapi Hae Soo mengelak karena kesal. Jae Yul menawari Hae Soo membantunya mengepak. Hae Soo menanyakan keadaan Jae Yul yang tampak berantakan. Kumis nggak dicukur, makan nggak teratur, tidur sedikit dan dikursi pula, bukan di kamar mandi. Malam ini dia juga belum makan. Hae Soo marah2 dan menyuruhnya turun ke dapur untuk makan.

 Dong Min berdiskusi dengan dr. Lee tentang kasus Jae Bum (tanpa sebut nama), kecelakaan yang berubah jadi pembunuhan. Adik tidak menusuk ayah, melainkan ayah yang jatuh mengenai pisau. Kakak menganggap hal itu sebagai pembunuhan. Ibu tidak bisa menyalahkan adik, karena hanya melihat kakak yang memegang pisaunya. Sementara adik memberi kesaksian palsu, menurut Dong Min pada awalnya, dia juga menganggap kecelakaan sebagai pembunuhan dan mencoba untuk melemparkan kesalahan pada kakak. Tetapi kini hipotesis itu salah, karena pada usia 15 tahun, si adik sudah memahami mekanisme pertahanan diri. Salah jika si kakak berpikir bahwa si adik sengaja menyingkirkan ayah dan kakak yang selalu memukulnya, karena si adik tampak begitu menyayangi kakak.
 Menurut dr. Lee, tuduhan palsu itu bisa berbuntut panjang di pengadilan, dan bisa dinyatakan bersalah. Namun Dong Min tidak fokus pada hukum, karena dia bukan hakim melainkan dokter. Fokusnya adalah luka. Bagaimana menyembuhkan kakak yang selama 14 tahun tersingkir dari kebenaran? Juga luka sang adik yang sejak remaja sudah mengalami kejadian traumatis. Meski sekarang dia tampak ceria dan positif, Dong Min berharap hal itu adalah penyembuhan diri, bukannya perisai.
 Setelah itu, dr. Lee meminta maaf atas segalanya, juga tentang KB yang dia lakukan dulu. Tapi Dong Min bisa mengerti. Kalau saat itu dr. Lee hamil, maka dia tidak akan bisa jadi dokter. Saat dr. Lee berbalik untuk pulang, Dong Min berkata bahwa dia mencintainya, dan selama itu dia berpikir bahwa hubungan paling seksi adalah hubungan pria dan wanita. Dia ingin memeluk dr. Lee, tetapi berusaha menahannya. Mereka hanya akan jadi teman baik.

 Hae Soo menyiapkan makanan, tapi Jae Yul tidak mau makan. Jae Yul hanya ingin bicara, kenapa Hae Soo begitu dingin dan marah. Apa gara2 dia pindah? Hae Soo memang tidak ingin Jae Yul pindah. Soo Kwang lebih setuju kalau Jae Yul pindah saja. Dia punya uang dan rumah, kenapa harus tinggal di sini? Lagipula dengan adanya Dong Min dan Soo Kwang di sini, apa mungkin mereka bisa berkencan dengan baik, sementara Jae Yul bisa saja sewaktu2 bergairah secara alami.
 Tiba2 Dong Min datang dan mengomel, “Aku jelaskan pada kalian, ini rumah pantangan. Bahkan jika memikirkan ‘si tua tanpa istri – Dong Min’ dan ‘si tanpa pacar – Soo Kwang’,  kendalikan dirimu! Awas saja kalau aku mendengar suara2 di tengah malam, aku akan menarik tangan Soo Kwang dan lari ke ruangan itu, menarik selimutnya. Soo Kwang tertawa, “Baiklah, ini akan jadi pemandangan indah.” Tiba2 Hae Soo menjambak rambut Soo Kwang. Segera anak itu minta maaf. Hae Soo pergi setelah menyuruh Jae Yul makan.
 Soo Kwang bertanya, apa Jae Yul ingin menikahi Hae Soo hanya karena sudah ditiduri? Jae Yul beranjak pergi, males makan. Soo Kwang pun berkata, kalau nggak mau diputusin, harus makan. Jae Yul pun kembali dengan terpaksa dan makan. Soo Kwang mengejek Jae Yul seperti anjing dari tempat pelatihan, penurut banget. Dia menggoda, “Tunggu, makan, tunggu,” sambil ketawa2. Tiba2 Jae Yul menyiram wajahnya dengan air hahaha…
 Hae Soo menceritakan keadaan Jae Yul. Untuk masalah tidur di kamar mandi, masih mendingan. Tetapi jika Jae Yul tidak bisa konsen menulis, maka dia akan menyakiti diri sendiri seperti nggak mau makan. Hae Soo sangat khawatir. Dia pun minta Dong Min membantu mengonsultasikan. Setelah Hae Soo keluar, Dong Min mendesah, dapat kerjaan baru lagi. Lalu Choi Ho mengsms, mengatakan kalau sudah menghubungi jaksa yang menangani kasus Jae Bum, untuk ketemuan. Dia mengajak Dong Min ikut serta.
 Akhirnya Tae Yong datang ke kantor polisi Yang Suri dan melihat rekaman cctv tentang Jae Yul yang memukul angin, kayak orang gila. Tae Yong marah dan menyuruh polisi agar jangan sampai tersebar. Dia pun mendatangi rumah Kang Woo, yang menurut polisi adalah rumah kosong. Dan setelah diselidiki lebih dalam, ternyata rumah itu adalah rumah lama Jae Yul yang pernah terbakar. Tae Yong menelepon Jae Yul, meminta nomor Kang Woo dan menanyakan sekolahnya, karena Tae Yong pura2 ingin ketemu sebagai penerbit. Jae Yul pun mengirimkan datanya.

Saat Tae Yong mencoba menghubungi 2 nomor yg diberikan, ternyata nomor itu tidak terdaftar. Tae Yong syok dan menangis, sahabatnya kenapa jadi begini???
 Saat itu Hae Soo memeluk Jae Yul dari belakang, namun Jae Yul menepisnya kasar. Hae Soo bingung dengan sifat dingin Jae Yul sekarang.
 Dan mereka akhirnya buka-bukaan soal kekesalan mereka. Alasan Jae Yul pindah adalah tidak dapat bekerja dengan baik di sini. Dia mohon pengertian Hae Soo, karena dirinya sendiri pun selalu minta ijin jika ingin menghubungi di jam kerja Hae Soo. Hae Soo pun ingin Jae Yul memahaminya, tentang bagaimana dia mengkhawatirkan kondisi Jae Yul yang begitu kuyu karena sibuk bekerja.

 Dan setelah Jae Yul pindah, Hae Soo bertanya bagaimana mereka bisa bertemu lagi? Hae Soo pun membuat jadwal pertemuan mereka pada hari jumat, karena dia bekerja senin sampai kamis. Jae Yul tidak bisa bekerja sesuai jadwal, namun Hae Soo menyuruhnya mencoba untuk memakai jadwal biar lebih teratur, dan mereka pun setuju untuk ketemuan 2 kali seminggu. Hae Soo juga ingin agar Jae Yul menghubungi jika ingin berkencan diluar jadwal.
 Soal tempat, mereka bisa ketemuan di mana saja, asal tidak di rumah ini ataupun motel. Alasannya, bukan takut diapa-apain (mereka kan sudah ngapa2in), tapi karena di rumah ini ada Dong Min yang biasa tidak banyak tidur di malam hari dan Soo Kwang yang punya telinga tajam, sedangkan Hae Soo tidak suka motel. Jae Yul menawarkan apartemennya, dan Hae Soo setuju.
 Jae Yul hendak menciumnya, tapi Hae Soo tidak suka surprise/sesuatu yang tidak direncanakan. Tetapi kemudian dia merasa nggak enak hati, lantas membiarkan Jae Yul melakukan satu hal. Bukannya ciuman, Jae Yul menyuruh Hae Soo datang ke acaranya besok lusa
Hae Soo mau keluar, tapi kembali lagi. Dia berkata kalau mereka sudah saling tahu. Dia tahu Jae Yul mencintainya, namun dia sendiri tidak pernah berkata mencintai Jae Yul. Jadi, Hae Soo pun menawarkan, “Bagaimana kalau menutup lampu?” Jae Yul menunjukkan jempolnya. Omo, mereka ‘melakukannya’???
 Tae Yong pergi ke sekolah yang dikatakan adalah sekolahnya Woo. tetapi seperti yang sudah diduga, tidak ada yang bernama Kang Woo. Kemudian Tae Yong menelepon Sang Sook. Sementara itu Jae Yul datang ke resto ibu Hae Soo, memperlihatkan foto2 mereka di Okinawa kepada ayah, lalu makan nasi goreng. Ibu memperlakukan Jae Yul dengan baik, rupanya berharap Jae Yul menikahi Hae Soo. Namun ternyata Jae Yul belum mikir ke sana, begitu pula dengan Hae Soo saat ditanyai kakak.
 Kakak kesal karena Jae Yul tidak memikirkan pernikahan, itu berarti dia benar2 playboy dan bisa saja Hae Soo dicampakkan setelah dapat manisnya.

Jae Yul menunggu Hae Soo karena acara sudah mau dimulai. Hae Soo berlari2 dan mereka naik lift. Hae Soo mau menciumnya, tapi Jae Yul menolak karena ada cctv. Namun tidak hanya itu, Jae Yul bicara formal kepadanya. Ternyata Jae Yul tidak bilang kalau mereka pacaran, kepada orang2. Dia malas menjelaskan. 

 Hae Soo teringat kata2 kakak, jangan2 Jae Yul memang nggak berencana serius dan bakal memutuskannya. Dia pun mempertanyakan hal itu, “Kau malas menjelaskan kalau kita pacaran? Apa kau tidak ingin memperkenalkan aku pada orang lain karena kau akan putus denganku?” Dan Jae Yul membenarkan.

gambar: : http://www.dramabeans.com/2014/08/its-okay-its-love-episode-10/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar