Jae Yul mencium Hae Soo, dan Hae Soo menikmati, bahkan
membalasnya. Kemudian dia tersadar, lalu menampar Jae Yul. Sementara itu Dong
Min menolak untuk melanjutkan konsultasi Jae Bum. Dia menganggap pembunuh itu
nggak bakalan sembuh. Tapi Tae Yong hanya tidak ingin ibu dan Jae Yul yang jadi
korban.

Karena baju mereka basah, Jae Yul mengajak Hae Soo beli baju
baru. Hae Soo sudah menolak, tetapi Jae Yul bersikeras. Hae Soo akan mengganti
uang Jae Yul, tetapi Jae Yul menolak untuk menerima uang dari wanita yang
diciumnya. Hae Soo tidak ingin membicarakan masalah ciuman lagi. baginya, tadi
itu hanya ciuman sepihak. Jae Yul tidak terima, karena tadi dia bisa merasakan
kalau Hae Soo juga menikmati dan membalasnya. Tetapi Hae Soo nggak mau ngaku,
malah menuduh Jae Yul gampang mengumbar ciuman kepada semua wanita secara
sembarangan. “Tidak sembarangan orang, hanya wanita yang membuatku tertarik.
Bukan ciuman biasa, aku tulus melakukannya tadi. Bukan hanya tertarik, tapi aku
menciummu karena aku menyukaimu.”

Tetapi Hae Soo tidak percaya kalau Jae Yul menyukainya. Dia
menganggap tadi itu hanya spontanitas, karena suasana yang mendukung. Jae Yul
mengakui kalau tadi itu memang spontan, tapi Hae Soo menganggapnya aneh.
“Kenapa? kau lebih suka pria yang merencanakan ciuman? Mereka mengatur waktu
dan tempatnya agar wanita itu luluh pada mereka. Semua direncanakan begitu?”
Hae Soo melengos dan mau masuk mobil, tetapi Jae Yul menutupnya kembali,
“Berkencanlah denganku.” Dan tawaran itu ditolak mentah2 oleh Hae Soo. Hae Soo
mau duduk di belakang, untuk menghindari Jae Yul, tetapi Jae Yul tidak mau
dianggap sebagai supir.

Soo Kwang dan So Nyeo belanja dipasar. So Nyeo minta
dibelikan makanan, tapi Soo Kwang nggak mau. Jadi sepertinya dulu mereka pernah
berkencan, tapi So Nyeo cuman morotin duitnya Soo Kwang aja. Dan kini Soo Kwang
pun sadar dan tidak mau jatuh lagi pada pesona gadis kecil itu. So Nyeo pun
mengajak Soo Kwang makan ramyun di rumahnya, dia yang akan memasakkan. Soo
Kwang mau jual mahal, tetapi dia nggak bisa, akhirnya nurut saja mengikuti
cewek itu.

Dong Min melihat2 berkas Jae Bum saat Jae Yul dan Hae Soo
pulang. Dia pun segera menyimpannya. Hae Soo mau memasakkan ramyun dan bertanya
mau rasa apa, tapi Jae Yul diam saja. Melihat pasangan itu berantem lagi, Soo
Kwang dan Dong Min pun mempertanyakan masalah mereka, karena kemarin masih
baik2 saja. Hae Soo menjelaskan, kalau tadi dia menampar Jae Yul setelah
menciumnya. Dan Jae Yul mengakuinya, serta mengakui perasaan yang sesungguhnya,
bahwa ciuman itu bukan main2, tapi karena suka. “Kau sungguh tidak merasakannya?
Yang kita rasakan saat bersama tadi, kau tidak merasakannya?” Hae Soo menyuruh
untuk menghentikan percakapan ini, tetapi Dong Min dan Soo Kwang sepakat, kalau
Jae Yul harus tetap mendesaknya. Dan Hae Soo tetap berkata tidak.



Jae Yul kesal dan masuk ke kamar. Hae Soo tidak jadi masak
ramyun, masuk kamar juga. Soo Kwang berdiskusi dengan Dong Min, karena Hae Soo
tidak seperti biasanya. Kalau seperti biasanya, pasti Jae Yul sudah mati (habis
mencium). Dong Min pun menggedor kamar Hae Soo. Dong Min tahu, Hae Soo
merasakan sesuatu yang lain terhadap Jae Yul, meskipun Hae Soo terus
mengelaknya. “Tidak usah gunakan modus pertahananmu. Kita berdua sudah saling
tahu. Modus pertahananmu mengubah pria yang menyukaimu menjadi pelaku
pelecehan. Kau mau penyakitmu tidak sembuh? Bukan sebagai teman, tetapi sebagai
dokter, juga sebagai atasan, aku bertanya, apa waktu kalian berciuman, kau
memikirkan ibumu?” Akhirnya Hae Soo mengakui, dia tidak merasakan trauma itu
terhadap Jae Yul. Dan ini baru pertama kali terjadi. Selama dengan Choi Ho, Hae
Soo selalu ingat ibunya. Dan Hae Soo mengaku kalau dia menyukai ciuman tadi.
Tapi dia hanya tidak tahu, apa yang harus dia lakukan dengan perasaan ini. Dia
tidak ingin meletakkan perasaannya kepada si playboy itu.

Di luar, Soo Kwang terharu sampai mau menangis, setelah
mendengar (nguping) Hae Soo yang bilang tidak memikirkan ibunya saat berciuman,
juga menyukainya. Dia ingin suatu saat nanti, ketika dia berciuman dan tidur
dengan wanita, penyakitnya tidak kambuh. Sementara itu Jae Yul di kamar mandi,
mengenang saat2 bahagia dengan Hae Soo. Lalu alarm berbunyi. Saat Hae Soo
keluar, Jae Yul sudah lebih dulu menyalakan lilin.
Paginya, Dong Min menjelaskan kalau Hae Soo masih perlu
waktu untuk mengerti hatinya sendiri, karena traumanya yang dalam. Dia selalu
menganggap bahwa hubungan cinta itu menjijikkan seperti yang dilakukan ibunya.
Dong Min pun membocorkan bahwa sebenarnya Hae Soo menyukai Jae Yul, hanya
karena itu tadi, dia masih belum bisa menerima Jae Yul sepenuhnya. “Aku mengatakan
semua ini, agar kau tidak main2 dengan perasaan Hae Soo.”

Hae Soo pun datang dan mengatai Dong Min ember bocor. Hae
Soo mengambil gelas Jae Yul dan meminum airnya, sambil mengakui kalau kemarin
dia memang ada perasaan, tapi sekarang tidak. Dia tidak berpikir untuk
mendalami perasaan itu. Jae Yul berkata, “Ketuk pintuku tiga kali, atau telepon
aku 3 kali. Lakukan itu jika kau ingin mendalami perasaan itu. jika kau tidak
menyukaiku, jangan lakukan.” Lalu Jae Yul mengambil dan meminum airnya lagi, sebelum
diserahkan ke tangan Hae Soo lagi. Dari jauh, Dong Min berkata kalau selain
penyakit trauma, gengsinya Hae Soo juga perlu diobati. Pasien harus punya
kemauan baru bisa sembuh, Hae Soo sendiri yang sering bilang ke pasien.

Pasien yang memotong tangan sendiri sudah boleh pulang. Dia
hanya dibilangi kalau tangannya kena kanker. Dia dideteksi memiliki beberapa
gangguan, diduga karena kesulitan ekonomi. Pria itu sangat pendiam dan tidak
bisa mengungkapkan isi hatinya. Sang istri mengajak untuk punya anak kedua.
Mungkin itu yang bikin dia tambah stress, dan dia saking pendiamnya, tidak bisa
mengungkapkan penolakan. Salah satu junior merasa khawatir membiarkannya pulang
sekarang, tetapi mereka tidak bisa berbuat lebih, karena pasien sendiri yang
menolak dirawat.
Jae Yul bersedia bertemu dengan kakaknya, dan ibunya sangat
senang. Jae Bum sebentar lagi dapat cuti penjara, dan mereka akan ketemuan saat
itu. Jae Yul berencana membuat pesta surprise. Sementara itu Dong Min melihat2
artikel Jae Bum. Kemungkinan Jae Bum stress berat adalah benar, sampai
rambutnya memutih. Dia pun menelpon Tae Yong agar Jae Bum lebih dulu menemuinya
sebelum menemui keluarganya saat cuti penjara nanti.

Jae Yul mengantar Woo pulang sambil membicarakan Hae Soo
selama perjalanan. Woo menyarankan untuk cari cewek lain saja yang tidak
menolak. Tetapi bagi Jae Yul, tidak ada wanita yang lebih menarik selain Hae
Soo. Tiba2 di jalan, banyak mobil melintas ke arah mereka, seperti salah jalur.
Dan tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Woo, semacam gubuk di
tepi sawah. Saat Woo berjalan masuk, tiba2 ibunya keluar sambil dipukuli
ayahnya. Hal itu terjadi di depan mata Jae Yul yang seketika ingat waktu ibunya
dipukul ayah tirinya. Dia pun menolong Woo dan menghajar ayah Woo. Lalu Jae Yul
melihat mata Woo menyala, dengan tangan menggenggam batu tajam. Jae Yul
teringat saat dirinya lost control dan mengambil pisau, ketika dipukuli dulu.
Jae Yul menahan Woo dan menyuruh Woo membawa lari ibunya, sementara Jae Yul
memukuli ayah Woo. Dan kejadian itu terekam oleh CCTV.


Jae Yul melapor ke polisi, tapi polisi malah bingung, karena
setahu mereka, gubuk itu tak berpenghuni. Sementara itu Hae Soo tampak
menunggui dan mencemaskan Jae Yul, menyuruh Soo Kwang menelponnya. Soo Kwang
malah menyuruh Hae Soo menelpon sendiri, 3 kali, hahaha… Dong Min menawarkan
diri untuk menelponkan menggunakan hp Hae Soo, 3 kali. Lalu saat Soo Kwang
berdiri, Hae Soo takjub dengan perubahan penampilan Soo Kwang yang mirip Jae
Yul. “Kenapa kau tidak operasi plastic agar mirip dengannya, juga mematahkan
kakimu agar sama tinggi dengannya. Dasar tidak punya harga diri!” omel Dong
Min. Soo Kwang ngomel, dia sudah menghabiskan banyak duit, setidaknya diberi
sedikit pujian, meskipun bohongan. Hae Soo memuji, Soo Kwang lebih ganteng
ribuan kali daripada Jae Yul (dilihat pake sedotan aqua hahaha). Soo Kwang
malah berbisik pada Dong Min, “Aku tahu pujiannya berlebihan. Dia sudah jadi
milik Jang Jae Yul.”


Tak lama kemudian, Jae Yul pulang. Hae Soo menyapanya dan
menawarkan makanan, tapi Jae Yul melengos. Hae Soo melihat wajah Jae Yul luka2.
Dia pun menyusul Jae Yul dan mengetuk pintu beberapa kali. Jae Yul membukanya,
“Sinyal kita kan ketuk 3 kali. Kau mengetuk 8 kali, maksudnya apa?” Hae Soo
pergi lagi untuk mengambil kotak p3k, sementara Jae Yul di kamar mandi. Hae Soo
pun akhirnya mengobati luka Jae Yul setelah memaksa. Jae Yul pun menceritakan
tentang kejadian Kang Woo tadi. Hae Soo menasehati agar tidak mencampuri urusan
keluarga orang lain. “Dulu ketika ibuku dipukul ayah tiriku, semua orang bilang
begitu, ‘itu urusan keluarga orang lain.’ Dan akhirnya terjadi kejadian yang
mengejutkan dunia dari keluargaku. Ini pertama kalinya aku membiarkan seorang
wanita berada di kamar mandiku, dan juga bicara tentang diriku seperti ini. Aku
tidak pernah melakukannya, tetapi aku merasa nyaman, tidak ada yang perlu
dirahasiakan.”

Hae Soo tak sengaja menyentuh bekas luka tusukan garpu dari
Jae Bum, heran karena tidak dijahit. Jae Yul malah berkata, “Kau melihatku
tidur di kamar mandi, dan aku serius saat di air terjun, meski itu
spontanitas.” Hae Soo menyentuh luka Jae Yul untuk melanjutkan pengobatan,
tetapi Jae Yul menggenggam tangannya. Hae Soo tampak bingung, antara ingin diam
atau ingin melepaskan. Saat mau menurunkan tangannya, Jae Yul mempererat
genggamannya (gue ikutan deg2an nih). Hae Soo pun menarik tangannya. Jae Yul
membuka sebuah tirai. Nampak rak buku, lukisan, dan bathup yang berisi matras
juga bantal. Itu kamar tidur Jae Yul yang sebenarnya. Dan hanya Hae Soo
satu-satunya yang diizinkan untuk melihatnya.


Jae Yul menjelaskan lukisannya, di mana sebelah kanan, ada
unta yang diikat waktu malam, dan sebelah kirinya, ada unta yang dilepaskan.
“Orang di gurun mengikat unta mereka di pohon saat malam, dan melepaskannya
saat pagi. Tetapi unta itu tidak lari. Karena mereka ingat, mereka diikat di
pohon saat malam. Sama seperti kita yang terus ingat luka masa lalu kita. Luka
kita, trauma, membuat kita susah melangkah di masa sekarang.” Setelah Hae Soo
keluar, Jae Yul berbaring di ‘kasur’nya. Tapi Hae Soo masih di depan pintu wc,
memandang ranjang kosong Jae Yul. Di kamarnya sendiri, Hae Soo melihat lagi
rekamannya, lalu mengenang kembali saat Jae Yul memegang tangannya tadi. Dia
nggak bisa tidur.


3 cowok lagi bikin salad salmon untuk pesta peringatan
perceraian Dong Min dengan dr. Lee. Jae Yul heran dengan acara ini. Dong Min
pun berkata, dia tidak bisa menemui mantan istrinya selain dengan cara ini. Dia
merasa dr. Lee tidak punya teman karena kepribadiannya, jadi hanya dialah
temannya. Saat Dong Min pergi, Jae Yul menanyakan progress pekerjaan So Nyeo,
Soo Kwang malah marah2. Jae Yul mau pergi, tapi Soo Kwang langsung minta maaf.
Dia kesal karena merasa So Nyeo tidak bisa jadi miliknya. Jae Yul pun
mengomentari pakaian dan rambut Soo Kwang yang pantas. Soo Kwang pun bergaya
seperti Jae Yul.

Acara pun dimulai, piknik di taman bersama dengan keluarga Hae Soo juga. mereka bermain dan kelompok Dong Min kalah. Dr. Lee marah2 dan pergi. Dong Min pun mengejarnya. Hae Soo mengajak mereka semua pulang. Jae Yul yang membantu menjaga ponakan Hae Soo, ingin mengajak ponakan dan ayah Hae Soo jalan2. Sementara itu Dong Min mengejar dr. Lee. Sebenarnya dr. Lee keberatan kalau tiap acara peringatan perceraian, selalu mengajak orang banyak. Dia maunya berdua saja. Tapi Dong Min berdalih, kasihan ayah Hae Soo yang selalu sendirian di rumah. Alasan keluarga Hae Soo bisa ngumpul dengan si ayah, hanya acara ini. “Lagipula apa yang kita bicarakan kalau hanya berdua saja?” dr. Lee tetap marah dan pergi. Sebenarnya dia masih punya perasaan terhadap mantan suaminya.

Jae Yul bermain2 dengan ponakan dan ayah sementara kakak Hae
Soo memotret. Ibu melihat mereka dari jauh dan menyuruh Hae Soo berkencan
dengan Jae Yul. Hae Soo marah dan pergi. Ibu pun marah juga dan berteriak,
merasa Hae Soo jadi sombong setelah jadi dokter. Waktu sekolah, Hae Soo selalu
marah karena malas sekolah. Waktu kerja, Hae Soo juga marah2 karena capek jadi
dokter. Kakak berusaha menenangkan, Dong Min segera mendorong ayah ke tempat
lain. Jae Yul hanya bisa mematung melihat pertengkaran keluarga itu. Akhirnya
Kakak tidak tahan lagi dan mengatakan yang sebenarnya, “Hae Soo dan aku… sudah
tahu hubungan ibu dengan Presdir Kim. Itu sebabnya Hae Soo jadi seperti itu.”


Jae Yul duduk berdua dengan Hae Soo di rumah. Hae Soo merasa
Jae Yul pasti kaget melihat pertengkaran keluarganya tadi, tapi Jae Yul berkata
kalau keluarganya sendiri juga lebih parah lagi, seperti yang pernah dia
ceritakan. Saat melihat anak2 dengan keluarga rukun, dia merasa kesal, lebih tepatnya
iri. Jae Yul bercerita kalau beberapa waktu lalu dia mengencani cewek dari
keluarga baik2. Tapi Jae Yul menyadari sesuatu, cewek itu ceria, polos, dan
positif, membuat Jae Yul jadi bosan. “orang2 jadi dewasa karena melewati
pahitnya kehidupan. Itu yang membuat hubungan menarik. Tapi bila ada orang yang
hanya tahu manisnya hidup, dia sangat tidak menarik.” Mereka pun toast tanda
setuju. “Jika kau bukan playboy sombong, mungkin aku akan punya perasaan
padamu,” kata Hae Soo. Hae soo menilai Jae Yul baik, humoris, dan juga ganteng.
Tapi playboynya itu bikin Hae Soo takut, karena dia tidak mau pacaran untuk
main2. “Katakanlah itu setelah berkencan denganku. Kau akan terkejut dengan
kharismaku, jika kita berkencan.” Jae Yul menyalakan lagu dari hp dan membiarkan
Hae Soo menikmatinya.


Hae soo menyuntikkan amytal kepada pasien ibu yang
kehilangan bayi. Ibu itu pun mengatakan kejadian saat bayinya mati. Dia
menyalahkan suaminya yang tertidur pulas di kamar sebelah karena mabuk, tidak
menyadari saat bayi mereka terkena luka bakar sampai meninggal. Dia pun
menyalahkan diri sendiri yang membiarkan anaknya sendirian di kamar, sementara
dia pergi ke pasar.
Hari ini Jae Bum cuti penjara, dijemput oleh Tae Yong. Di
tengah jalan, Jae Bum menemui temannya dan menyuruh Tae Yong duluan. Temannya
memberikan sesuatu yang segera dia sembunyikan. Dong Min menyiapkan amytal
untuk Jae Bum. Jae Bum minta minum kopi dulu sebelum disuntik, jadi Dong Min
pergi membeli kopi. Tapi saat kembali, Jae Bum sudah pergi dengan membawa kabur
amytal-nya.
Para dokter tidak mengatakan ungkapan hati pasien ibu yang
di luar kesadaran itu, kepada suaminya. Mereka masih punya cinta, juga ada
dokter di sekeliling mereka. “Cinta akan memberi kekuatan untuk menghadapi
ketidakbahagiaan,” kata Hae Soo, seperti kata Jae Yul. Salah satu dokter mau
menyatakan cinta pada seorang perawat setelah kejadian ini. Hae Soo mau
menelpon Jae Yul, tapi baru 2 dering, dr. Lee mengajaknya makan. Hae Soo
menolak karena ada urusan. Dr. Lee pun melihat hpnya, ingin menelepon Dong Min.

Jae Yul melihat panggilan tak terjawab, tapi dia tidak tahu
berapa kali deringnya. Lalu hpnya berdering lagi. Berdebar dia menunggu, berapa
kali deringnya? 3 kali!!! Hae Soo juga mengirim sms, ‘kau dengar ponselmu
berdering 3 kali? Sebentar lagi aku mau naik bus untuk pulang.’ Jae Yul
mengulum senyum bahagia, aku yakin sebenarnya dia mau melompat setinggi2nya dan
berteriak sepuas2nya. Tapi dia hanya bisa memeluk hpnya di dada (gue suka
banget sama ekspresinya ini). Dia pun segera mengakhiri on air-nya dan bergegas
ke halte dengan taksi, tepat saat Jae Bum baru sampai dan dia mengikuti
adiknya.
Hae Soo sudah sampai di halte, menunggu Jae Yul yang
ternyata sudah datang di seberang jalan. Jae Yul melambai2. Tetapi belum sempat
Hae Soo menoleh, Jae Bum memukul Jae Yul dengan tongkat bisbol, lalu
menancampkan amytal di lehernya.
To be continue
Notes:
gue suka banget episode yang ini, so sweet plus menegangkan di endingnya. Bikin penasaran! Sesungguhnya, dulu aku nggak pernah mengidolakan ataupun menyukai Jo In Sung, sejak melihat dia main di Bali, Frozen Flower, dan That Winter. Biasa aja, meski dia emang ganteng, tinggi, dan gagah, aku malah lebih suka So Ji Sub, rivalnya di Bali. Tapi melihatnya di sini, aku jadi tersepona alias terpesona. Aktingnya memang oke, dia sebagai playboy, dengan gaya2 yg mirip dengan karakter Oh Soo di That Winter. Kalau sebagai Oh Soo, dia tampak seperti pria yang ingin melindungi wanita. tetapi di sini, dia malah bikin perempuan ingin melindunginya. Traumanya, kesakitan yang terpendam, and the puppy eyes, dia seperti vas antik yang tampak mewah, namun rapuh ketika disentuh.
gambar: dramabeans
Tidak ada komentar:
Posting Komentar