“Sudah berapa kali kau ditampar?” tanya Hae Soo.
“Aku tak pernah menghitungnya. 30 kali?”
PLAK!!! “jadi 31 sekarang.”
Hae Soo mengambil tas, mau pulang. Jae Yul menariknya,
membuat tas jatuh dengan isi berantakan di lantai. Jae Yul mengunci tubuh Hae
Soo di dinding, lalu mematikan lampu, dan menyalakannya lagi, sambil Jae Yul
mengisahkan sebuah dongeng, “Dahulu kala di sebuah desa ada gua yang gelap dan
dalam. Di dalam gua itu tidak pernah terkena cahaya ribuan tahun. Semua orang
takut pada gua itu, seperti dirimu sekarang.”
Jae Yul mematikan lampu, “Untuk menyingkirkan kegelapan yang
telah ada ribuan tahun itu, orang2 pikir akan butuh ribuan tahun lagi. Namun
agar cahaya bisa memasukinya, sama seperti sekarang, hanya butuh satu detik…”
Klik… Jae Yul menyalakan pemantik api, dengan wajah yang sangat dekat dengan
Hae Soo. “Bahkan jika kau tidak pernah bercinta selama 30 tahun, dan bahkan
jika cintamu yang berusia 300 hari berakhir, tenanglah. Cuma perlu waktu
sebentar untuk bisa merasakan cinta lagi, teman.”
Hae Soo melengos dan duduk lagi. Jae Yul menasehati, kalau nanti jatuh cinta lagi, rasakanlah, jangan cuma meyakinkan diri. Dia pun berkata kalau bibir Hae Soo itu lembab, lalu mengusap2 poni Hae Soo. Jae Yul melihat paspor yang jatuh dari tas Hae Soo, bertanya untuk apa bawa paspor kemana2? Hae Soo berkata, untuk bepergian jika sewaktu2 perlu. Jae Yul juga melihat foto Hae Soo dengan seorang cowok, Hae Soo hanya bilang itu adalah “pria-ku (nae namja)”.
Tiba2 Hae Soo mau muntah. Dia mau ke wc Jae Yul, tapi dilarang. Jae Yul membawanya ke toilet lobi. Di perjalanan, Woo datang dengan berdarah2 dan tanpa alas kaki. Jae Yul bertanya, kau kenapa?
“Hm???” tanya Hae Soo sambil menutup mulutnya.
“Aku tidak bicara denganmu, tapi dengannya.”
Woo memuji Hae Soo yang cantik, lalu Jae Yul menyuruh Woo
menunggu di taman sementara dia mengurusi Hae Soo dulu.
Hae Soo merangkak sambil membereskan barang2nya, mau pulang. Tapi dia pusing, pengen baring sebentar. Namun dia takut Jae Yul akan berbuat lebih dari sekedar ciuman. Tiba2 dia dapat ide. Dia memasang kamera perekam HP, sementara dia tidur. Jadi kalau Jae Yul macam2, ada bukti rekamannya.
Jae Yul menemui Woo. dia melemparkan uang dan menyuruhnya ke RS. Dia memarahi Woo yang bukannya ke RS, malah menemuinya saat terluka. Dia menuduh Woo cuma mau minta dikasihani. Dia sudah berkali2 menyuruh Woo agar pergi saja dari rumah, tapi Woo nggak tega meninggalkan ibunya. “Maka bawalah ibumu kabur bersamamu!!!” Woo pun berkata, dia menulis novel baru, tapi Jae Yul tidak mau mengurusnya lagi. Jae Yul pergi, Woo memanggilnya dan tiba2 merasa kesakitan. Tangannya tampak keram, jemarinya kaku. O,ow… jari adalah anggota tubuh terpenting bagi penulis!!!
Soo Kwang mengkhawatirkan Hae Soo dan Jae Yul yang sama2 tidak pulang. Dia khawatir Jae Yul macem2 sama Hae Soo. Tetapi Dong Min tidak, bahkan kakak Hae Soo malah mengharapkan sesuatu terjadi, hahaha… “Bagaimana kalau noona diperkosa, seperti ini?” tanya Soo Kwang sambil mempraktekkan akan membuka bajunya Dong Min. Dia pun dimarahin oleh Dong Min, apalagi gara2 itu kopinya tumpah di bajunya. Jae Yul muncul, minta kopi. Soo Kwang langsung melabraknya, “Kalian berdua tidur di mana semalam?”
“Di officetel-ku (apartemen merangkap tempat kerja)”
“Apa yang kau lakukan pada noona-ku?”
“Kami minum bersama lalu berciuman. Kemudian dia
menamparku.”
Tae Yong menelpon Jae Yul, mengatakan kalau dia tidak
bertemu anak itu, “Bahkan uangmu tidak diterimanya. Berarti dia datang bukan
untuk uang, lantas untuk apa?”
“Persahabatan.” Kata Jae Yul.
Tae Yong berpikir kalau mungkin Woo itu bohong soal kdrt
ayahnya, lalu memanfaatkan hati Jae Yul yang lembut. Jae Yul membalas, “Seperti
dirimu?” Tae Yong skak-mat, langsung mengalihkan telepon kepada ibunya Jae Yul.
Ibu ingin bertemu dengan Jae Bum.
Di RS, ada seorang wanita yang merupakan istri dokter, mau konsultasi sama dr. Lee perihal rumah tangga mereka. Suaminya datang dan menyuruhnya pulang. Istrinya mengancam akan menceraikannya kalau tidak mau konsultasi. Setelah itu, Hae Soo dan timnya mendatangi pasien yang kehilangan bayinya. Dia jadi gila. Tangannya menggendong udara, sambil memain2kan mainan bayi. Suaminya nggak kuat, keluar dari ruangan. Pasien itu menyuruh dokter menyapa bayinya. Semua pun menyapa udara, kecuali satu dokter junior (intern/koas). Di luar, dokter junior itu bertanya, kenapa mereka semua menganggap ada bayi, padahal nggak ada? mungkin anggapannya, jadi dokter jiwa lama2 juga sakit jiwa nih. Tapi semua rekannya malah menatapnya aneh, seakan dia yang sebenarnya nggak normal, “Jadi hanya kau yang tidak melihat bayi itu?” Hae Soo menyerahkan dokter junior ini kepada rekannya, sementara timnya berpencar. Rekannya memarahi dokter itu. Jadi, dokter itu harus mengakui apa yang dilihat pasien. Mereka harus menempatkan diri sebagai pasien, baru bisa memahami dan mengobati pasien itu.
Sementara itu, Hwan akhirnya dipulangkan dengan terapi jalan. Ibunya menyesal karena Hwan jadi suka menggambar alat kelamin, gara2 dirinya. Dia tidak tahu itu, maka sering memarahi dan memukulnya. Hwan mendengar pembicaraan para dokter, kalau dia nggak akan bisa sembuh. Hae Soo pun berkata, kalau Hwan tidak punya semangat untuk sembuh, maka kata dokter itu benar. Kalau punya semangat, maka Hwan pasti akan sembuh total. Saat masuk ke RS, junior memberikan hpnya pada Hae Soo, karena Jae Yul menelpon. Jae Yul tidak mengantarkan hp Hae Soo, malah menyuruh Hae Soo mengambilnya sendiri di stasiun SBC tempatnya on air. Sementara itu Jae Bum bekerja dengan keras di penjara, ngambil hati para opsir, karena dia punya satu keinginan. Dia ingin cuti penjara satu hari sebelum hari kebebasannya. (heh, ada ya, cuti penjara???)
“Dalam 40 tahun hidupku, aku tidak pernah menyentuh sesuatu
sekotor ini,” kata pasien.
“Walau kau tidak pernah menyentuhnya dalam 40 th,
menyentuhnya…” Hae Soo mengambil tisu kotor itu, “…cuma butuh waktu sebentar.”
Dia teringat Jae Yul lagi. Hae Soo pun menarik tangan pasien itu untuk
menyentuh tisu kotor. “Oh…. Lembab!” Hae Soo pun teringat saat Jae Yul bilang
bibirnya lembab. Hae Soo pun berusaha menenangkan pikirannya dan fokus pada
pasiennya.
Hae Soo pergi ke SBC dengan taksi. Dia meminjam hp supir
untuk menelepon seseorang, janjian. Di SBC, rupanya Jae Yul on air live. Sambil
on air, Jae Yul melihat ke arah Hae Soo yang sedang memberi isyarat untuk
meminta hpnya. Tapi kalau dari jauh, kayak cewek yang minta ditelepon. Hal itu
mengganggu penonton di sebelah Hae Soo. Jae Yul pun mengalihkan perhatian
penonton dengan mengedipkan mata. Lalu dia menyuruh asistennya memberikan hp
kepada Hae Soo. Saat membuka hp, sms yg muncul adalah dari Ho yang ngajak
ketemuan sebagai teman. Hae Soo hanya bisa menghela napas, lalu melihat aksi
Jae Yul yang joget2 sambil menyalakan lagu. Hae Soo tampak menikmatinya, hingga
Dong Min menelponnya, berkata kalau Jae Yul bisa membantu Hae Soo mengatasi
traumanya secara gratis, jadi nggak perlu pakai jasa gratisannya Dong Min lagi.
Seketika itu Hae Soo sadar, nggak jadi mengagumi Jae Yul lagi. Dia mengirim
sms, menuduh Jae Yul mempermainkan traumanya. Jae Yul pun membalas, “Tetapi aku
agak gugup saat kau tidur malam itu.”Kemudian seorang cowok datang dan berpelukan dengan Hae Soo. Itu cowok di hpnya Hae Soo, yang dijuluki “nae namja”. Mereka tampak akrab. Jae Yul yang melihat dari jauh, hanya bisa penasaran dalam diam.
Cowok bernama Yoon Chul itu mengantar Hae Soo ke depot keluarga Hae Soo. Ibu dan kakak iparnya jadi penasaran, siapa cowok itu? Mereka pikir, Hae Soo jadian sama Jae Yul, setelah diberitahu oleh kakak Hae Soo. Kakak ipar pun bertanya, apa benar Hae Soo punya semacam trauma terhadap pria, makanya sampai sekarang nggak kawin? Hae Soo pun menghindari pertanyaan itu. Ibu jadi cemas (padahal ini semua karena dirinya).
Di bus, Hae Soo teringat tentang Jae Yul yang gugup saat Hae Soo tidur. Dia pun mengecek rekamannya. Awalnya dia tertidur di karpet. Lalu Jae Yul datang buka baju. Tapi tidak terjadi apapun seperti bayangannya. Jae Yul menggendongnya ke ranjang, lalu menyelimutinya. Jae Yul memakai topi (ini rada aneh, ngapain pakai topi di kamar?), menyalakan mp3, dan mengusap2 lengan Hae Soo. Hanya itu saja. Hae Soo pun menilai Jae Yul sebagai cowok gentle.
Hae Soo dan Dong Min sampai di rumah bersamaan. Mereka disambut Soo Kwang yang melapor bahwa si cewek susu habis mencuri gelang dan memakai lipstick Hae Soo. Gadis itu adalah pasiennya Dong Min. Saat Jae Yul datang, cewek itu pun bilang, “Ahjussi itu bilang aku cantik dan menyuruhku berkunjung ke sini.” Jae Yul mengakui kalau dia memang bilang cewek itu cantik, dan semua orang langsung memandangnya seperti om-om cabul. Hae Soo mengajaknya bicara 4 mata dan memarahinya karena Jae Yul merayu gadis dibawah umur. Jae Yul pun menjelaskan, dia memang bilang cantik ke cewek itu, tapi nggak nyuruh datang. Dan Hae Soo nggak percaya. Jae Yul tidak terima, “Aku memperlakukan anak di bawah umur, sesuai umurnya.” Dia pun menelpon polisi untuk menangkap cewek itu dengan tuduhan pencurian. Hae Soo pun menelpon polisi lagi untuk membatalkan laporan.
Dong Min mencoba merayu Hae Soo agar menangani cewek susu
itu, tapi belum ngomong pun Hae Soo sudah menolak. Lalu Dong Min mendapat
telepon bahwa Jae Bum tiba2 terbangun dari tidur dan menangis, ingin bertemu
Dong Min. Jae Bum menceritakan mimpinya, lebh tepatnya masa lalunya. Dia
melihat adiknya membunuh ayah tirinya. Ibunya pun melihat, tetapi saat di
pengadilan, dia tidak berkata apapun, hanya menatap Jae Bum sambil menangis.
Makanya Jae Bum akhirnya masuk penjara. Dia memohan pada Dong Min agar
memberinya obat Amytal, sehingga dia bisa menyuntikkan obat itu pada ibu dan
adiknya, agar kebenaran ditegakkan baginya.
Jae Yul keluar dari kamar terburu2 dan berlari ke taman, menemui Woo. Woo berkata kalau dia berhasil memukul ayah yang memukuli ibunya. Dia memperlihatkan kepalan tangannya yang ada darah ayahnya. Meski begitu, Woo tetaplah anak remaja yang ketakutan. Jae Yul memeluk Woo, mengatakan bahwa yang dilakukan Woo tidak salah, dia hanya membela diri.
Woo dan Jae Yul mengikuti seorang cewek yang memasuki rumah. Woo menyukai cewek itu, tapi nggak berani bilang, jadi cuman jadi stalker aja. Jae Yul pun tiba2 melempari jendela kamar cewek itu dengan batu, sehingga cewek itu melongokan wajahnya di jendela. Jae Yul pun bilang kalau cowok di sebelahnya ini, Kang Woo, menyukainya. Woo malu dan pergi. Mereka pun kejar2an. Sementara cewek di jendela tadi, yang tadinya berambut panjang, kini berubah tampak lebih dewasa dengan rambut agak pendek.
Hae Soo melihat lagi rekamannya, memperhatikan Jae Yul yang menari2 waktu dia tidur, lalu mengikutinya. Tampaknya Hae Soo mulai tertarik sama Jae Yul.
Sementara itu Jae Yul dan Woo masih berlari bersama sambil tertawa2.
Tiba2 Woo menghilang, hanya ada Jae Yul yang tertawa2 sendiri, seakan2 dia bercanda dengan seseorang.
To be continue…
Notes:
OMO! Saya benar2 surprise dengan ending dari episode ini,
sampai kuulangi 2 kali. Waktu cewek yang ditaksir Woo tiba2 berubah jadi cewek
lebih tua, aku belum ‘dong’, kupikir mungkin itu kakaknya si cewek. Tapi begitu
di scene terakhir, barulah aku paham.
Kang Woo itu tidak ada. Dia hanyalah teman khayalan Jae Yul.
Bisa jadi dia adalah cerminan Jae Yul di masa muda. Seperti cerita Jae Bum, Jae
Yul yang membunuh ayah tiri mereka yang suka memukuli ibu. Itu sebabnya waktu
Woo datang saat Jae Yul mengantar Hae Soo yang mau muntah, Hae Soo tampak
bingung. Waktu Tae Yong mencari di taman pun tidak ketemu Woo. Dan setelah
kuperhatikan lagi dari awal, Woo memang tidak pernah bicara dengan orang selain
Jae Yul. Dan kasus pembunuhan itu… benarkah polisi salah tangkap? Atau ??? hm…
mistery….gambar: dramabeans









































Tidak ada komentar:
Posting Komentar