Seorang narapidana bernama Jang Jae Beom keluar dari penjara.Dia datang ke sebuah diskotik, di mana seorang DJ ganteng, Jang Jae Yeol, sedang meniup lilin kue ultah yang dibawa oleh teman2nya. Lalu dia mencium pacarnya di depan para pengunjung. "Sekali lagi... sekali lagi..." seru orang-orang. Jae Beom mengambil sebuah garpu dan mendekat. "Sekali lagi... sekali lagi," ejek Jae Beom yang sudah berada di belakang Jae Yeol. Jae Yeol tidak sempat terkejut karena Jae Beom sudah menusuk punggungnya dengan garpu. Dia mengamuk seperti orang gila, dan melukai banyak orang juga. Sebelum Jae Yeol pingsan, dia sempat berkata dalam hati sambil melihat Jae Beom yang dibekuk orang-orang, "Hyung, kau bodoh."


Ju Hae Soo membawa tas barang2nya ke dalam rumah. Dia duduk di depan tv sambil makan cereal. TV menayangkan penusukan DJ sekaligus penulis novel terkenal, Jang Jae Yeol. Pelakunya dihukum 30 bulan penjara. Jae Yeol yang terluka akan menunda peluncuran buku berikutnya. Hae Soo kesal dan mematikan tv, karena dia sudah menunggu2 novel lanjutannya itu.
Jo Dong Min datang dan marah-marah karena Hae Soo tiba2 pindah ke rumah itu dan membuat keributan pagi2 buta. Hae Soo tidak menggubris omelan seniornya, naik ke lt. 2 sambil memanggil Soo Kwang. Dong Min memperingatkan Hae Soo untuk tidak mengganggu Soo Kwang yang habis patah hati. Di dalam kamar, Hae Soo melihat Soo Kwang tertidur dengan tisu berantakan. Laptopnya menyalakan slideshow foto Soo Kwang dengan mantan pacarnya, diiringi lagu galau. Hae Soo memutar bola mata dan keluar. Dong Min menghampiri Soo Kwang dan melihat novel karna Jae Yeol terbuka. Ternyata dia nangis bukan karena patah hati, melainkan gara-gara baca novel sedih itu.


26 bulan kemudian. Jae Yeol sedang mandi ketika pacarnya masih tidur. Luka bekas tusukan garpu itu masih membekas. Dia keluar dari kamar mandi yang dikunci pake password (busyet, emang ada emasnya ya?). Pacarnya kesal karena Jae Yeol menyalakan lagu terlalu keras dan membuka jendela, membuatnya terjaga. Jae Yeol memeluknya dari belakang untuk menenangkannya.Setelah Jae Yeol pergi, pacarnya ditelepon seseorang. Dia menanyakan tentang bukunya kepada orang itu. Mungkin dia penulis juga.
Hae Soo dan timnya mengunjungi seorang pasien korban kekerasan. Dia wanita transgender. Keluarganya tidak terima, membentak2 pasien itu dan menyuruh para dokter memasukkannya ke RSJ. Di luar ruangan, Dong Min meneleponnya meminta Hee Soo untuk menggantikannya di talk show, karena istrinya baru datang setelah 2 tahun tak ketemu.
Saat Dong Min dan istrinya mau indehoy, Soo Kwang tiba2 masuk. Dia melihat hal yang seharusnya tidak dia lihat. Penyakitnya pun kambuh.
Sementara itu pasien transgender tadi dibawa lari oleh ibunya. Hae Soo mengejar, tapi kehilangan jejak. Telponnya bunyi lagi. Kali ini pacarnya yang adalah seorang PD menelepon, memintanya untuk segera datang ke acara talkshow itu. Hae Soo pun terpaksa pergi, demi sang pacar. Tapi yang Hae Soo tidak tahu adalah pacarnya berselingkuh dengan rekan kerjanya. Mereka berciuman di gudang. Tiba2 lampu senter hp menerpa wajah mereka. Jae Yeol minta maaf karena sudah mengganggu.
Hae Soo datang ke acara talk show itu. Selingkuhan pacarnya yang ternyata juga teman Hae Soo, Min Young, mengajak Hae Soo ketemu dengan Jae Yeol yang ikut talk show itu juga. Mereka berkenalan di ruang persiapan. Jae Yeol mengenal Min Young yang kepergok ciuman tadi, tapi dia diam saja. Ketika Hae Soo mau keluar, dia sempat melihat Jae Yeol melirik belahan dada tukang make-upnya melalui cermin.
Talk Show dimulai, mengenai isi buku terbaru Jae Yeol yang sekarang isinya tentang pembunuhan sadis. Hae Soo menganggap Jae Yeol terkena gangguan psikologis karena menulis adegan sadis itu. Intinya, mereka berdebat di atas panggung. Jae Yeol berhasil menguasai pembicaraan dan pandai membalikkan kata2 Hae Soo sampai knock out. Sementara itu Soo Kwang dan Dong Min menonton acara itu lewat HP, karena mereka lagi di dalam taksi. Mereka kesal karena Jae Yeol menyudutkan Hae Soo.


Acara selesai dan Jae Yeol meminta agar Hae Soo jangan pulang dulu. Tapi Hae Soo tetap pergi. Pacar Hae Soo mengingatkan bahwa hari ini adalah anniversary mereka dan dia sudah pesan hotel. Hae Soo akan datang tapi dia masih ada urusan dulu. Setelah Hae Soo naik taksi, Jae Yeol keluar dan mengejarnya, tapi tidak sempat. Dia meminta no. hp Hae Soo pada PD, tapi PD tidak mau kasih, lagipula Hae Soo sudah punya pacar (dirinya). Sebenarnya Jae Yeol masih penasaran pada kata2 Hae Soo yang terakhir. Saat itu Hae Soo mengandaikan ada pembunuh yang memberikan 2 pilihan kepada korban lewat 2 lipatan kertas. Korban harus pilih salah satu, 'hidup', atau 'mati'. Dia menyuruh Jae Yeol untuk memilih, tapi Jae Yeol tidak memilih, malah bercanda, "Kalau anda menemukan jawabannya, tolong hubungi saya." Tapi sebenarnya dia masih penasaran dan ingin memilih.


Di toilet, Jae Yeol bersama dengan Kang Woo yang mendukungnya. Kang Woo meminta agar Jae Yeol membaca dan mereview novel karangannya. Kang Woo itu anak broken home yang sering dipukul bapaknya.
Hae Soo dan Dong Min minum2 dengan rekan2 dokter. Awalnya mereka bercanda, sampai salah satu dokter mengejek Dong Min yang sudah bercerai dengan rekan sesama dokter mereka, Lee Young Jin. Dong Min tersinggung dan marah2, memangnya dokter kejiwaan tidak boleh merasa sakit hati? Dokter kanker apa tidak bisa kena kanker juga? Ternyata dokter yang mengejeknya itu adalah dokter kanker yang lagi sakit kanker. Dong Min jadi nggak enak hati dan mengejar rekannya yang keluar. Dia minta maaf dan memberikan air minum. Tapi ternyata rekannya itu masih di stadium awal dan bisa sembuh. Dong Min pun lega dan menarik kembali botolnya. Tapi kemudian rekannya itu bilang kalau istrinya mau minta cerai. Dong Min memberikan air itu sebagai rasa simpati, "Ah, mati itu lebih baik daripada bercerai."


Hae Soo pergi dari minum bersama rekan itu, ke diskotik bersama Soo Kwang (waktu ngedance, si giraffe ini mengeluarkan tarian kebangsaannya, robotic dance hahahah).Jae Yeol juga ada di sana dan menemukan Hae Soo. Dia pun teringat pada pilihan yang disebut Hae Soo itu. Dia menghampiri Hae Soo dan menyatakan analisisnya dengan perantara 2 permen. Jae Yeol memakan 1 permen, "Kalau yang kupilih ini hidup, berarti yang kau pilih adalah mati?" Hae Soo mengambil permen itu dan memakannya, "bingo."


Tiba-tiba ada seorang pria mendorong Hae Soo sampai jatuh dari tangga. Jae Yeol memukuli pria itu. Ternyata pria itu adalah pasien RSJ yang kabur dari RS. Hae Soo mau menolong pasien itu agar tidak dilukai oleh Jae Yeol. Dia memukul Jae Yeol dengan tempat sedotan dari kaca, lalu mengejar pasien itu. Jae Yeol juga mengejar Hae Soo. Mereka bertiga kejar2an di jalanan. Beruntung Jae Yeol ketemu temannya dan meminjam mobilnya. Pasien itu mencuri mobil taksi dan Hae Soo pun kehilangan jejak. Nyaris, karena Jae Yeol datang dan Hae Soo masuk ke mobil itu, menyuruh Jae Yeol mengejar. Dia meneleponi polisi, RS dan para dokter. Lalu Hae Soo tersadar kalau kepala Jae Yeol yang dipukulnya tadi berdarah. "Kalau pandanganmu mulai kabur, bilang ya."


Sampai di dekat jurang, akhirnya pasien itu berhasil tertangkap (dengan adegan nge-drift). Pasien disuntik obat penenang dan masuk ambulans. Semua orang sudah pergi, tinggal mereka berdua. Ternyata mobil itu kehabisan bensin dan mereka berada di luar kota. Hae Soo pun menelpon ambulans lagi, melapor ada pasien yang terluka di belakang kepala. Jae Yeol pikir Hae Soo pintar berbohong. Tapi Hae Soo bilang itu benar. Dia menyuruh Jae Yeol menutup mata sementara dia buka baju dan untuk membuka baju dalamnya yang berwarna putih, lalu memakai baju lagi. Dia menyuruh Jae Yeol berlutut dan mengatakan kalau Jae Yeol terluka. Barulah Jae Yeol sadar. Hae Soo mengobatinya, tapi agak kesulitan karena tangan kirinya patah. Dan akhirnya Hae Soo yang pingsan.
Jae Yeol menggendong Hae Soo melintasi padang rumput. "Melihatmu di bawah cahaya matahari, kau cantik juga. Tapi... ambulans kok nggak datang2? Aku di mana? Hm... tapi pergi seperti ini, tidak masalah.." Setelah berkata begitu, Jae Yeol pingsan.
gambar
http://www.dramabeans.com/2014/07/its-okay-its-love-episode-1/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar