
Seorang pria berlari tertatih2 dengan perut yang berdarah.
Hape yg digenggamnya terjatuh dan terlindas motor. Dia kembali mengambil
hapenya dan berlari lagi saat dikejar oleh segerombolan preman. Ia pun memasukkan
hape itu ke dalam kotak surat dan kabur.

Setelah kejadian ciuman itu, Shi On dan Geon Woo jadi
canggung. Geon Woo bahkan tidak menjemput Shi On seperti biasanya. Di kantor,
Seung Ha dan Seung Chan mengumpulkan barang hilang yang ditemukan hari ini.
Saat Shi On memegang sebuah hape rusak, dia merasakan sesuatu yang aneh. Ketika
para senior tidak ada di ruangan, seseorang datang mengklaim kalau hape rusak
itu adalah miliknya, tapi dia tidak membawa kartu pengenal, sehingga Seung Chan
dan Seung Ha tidak memberikannya. Orang itu pun pergi, tapi ternyata dia
sembunyi. Ketika Seung Chan dan Seung Ha selesai melabeli barang hilang,
harusnya disimpan di gudang, tapi Seung Chan mengajak Seung Ha pergi, hingga
orang tadi pun berhasil mencuri hape rusak itu.

Sementara itu Senior Choi mengabarkan kalau sekarang Geon
Woo sudah bisa kembali ke DK karena Choi sudah susah payah memohon. Geon Woo
yang dulunya berambisi untuk masuk DK lagi, kini jadi ragu, karena dia tidak
ingin meninggalkan Shi On. Dia pun memberitau hal ini pada Shi On. Shi On
tampak kaget dan tidak rela, tapi dia pura2 ceria dan menyelamati Geon Woo.
Saat akan menyeberang, Shi On mendengar suara titik2 air yang dikiranya hujan.
Ternyata titik air itu adalah darah. Shi On mengikuti titik air yang tidak bisa
dilihat oleh Geon Woo itu, hingga ke sebuah gang, di mana seseorang terbaring
tewas.

Besok paginya, tim DK datang mengevakuasi TKP. Di antara
warga yg menonton dari luar police line, Shi On melihat satu orang yang
ekspresinya tampak aneh. Lalu ia mendapat telpon kalau ada barang yang dicuri
di DBH. Departemen Barang Hilang kehilangan barang, tentu adalah hal yang lucu.
Mereka pun memeriksa CCTV dan Shi On mengenali wajah si pencuri. Mereka kembali
ke TKP karena menganggap kalau pencuri itu tinggal tak jauh dari TKP, juga info
dari para junior kalau mungkin orang itu adl orang cina, karena logatnya beda.
Tapi tidak ada warga yang mengenali wajah orang itu.


Sementara itu Hyeong Joon menyuruh Hee Bin ke kantor polisi.
Hee Bin pun nurut dan menemui Seung Chan. Seung Chan berkata kalau Hee Bin
datang tidak tepat waktu karena mereka sedang sibuk gara2 pencurian. Lalu
Hyeong Joon memberikan clue yang harus dikatakan oleh Hee Bin. Seung Chan pun
menelpon Geon Woo dan memberitahukan hal itu. Geon Woo dan Shi On mendatangi
sebuah resto dan Geon Woo berkata cluenya “Aku dengar kerang di sini enak.”
Pemilik resto pun mengijinkannya masuk. Ternyata pemilik resto tahu ttg pencuri
itu. Dan yg lebih mengejutkan, dia mengenal Lee Hyeong Joon.

Singkat cerita, mereka pun menemukan si pencuri. Geon Woo
membekuknya, sementara Shi On melihat hantu yang dibunuh itu menangisi si
pencuri. Shi On pun melepaskan bekukan Geon Woo. Si pencuri pun bercerita,
kalau dia dan korban pembunuhan itu adalah sahabat perantauan. Si korban
memiliki hape yg berisi data penyelundupan perak, dan akan menukarkan hape itu
dengan banyak uang, sehingga mereka bisa pulang ke kampung di China. Awalnya si
pencuri takut, tapi si korban terus meyakinkan. Saat transaksi penukaran, si
pencuri sembunyi. Tiba2 si korban ditusuk. Mereka pun kabur dan berpisah,
dengan hape yg dipegang oleh si korban. Kini hape itu dipegang oleh Shi On dan
Geon Woo, hingga mereka dikejar oleh para preman itu.


Shi On mendatangi sebuah café. Di dalam café itu, ada banyak
foto2 couple. Yang mengejutkannya, ada foto dirinya berpelukan dengan Lee
Hyeong Joon. Ia pun ingat, dulu waktu pertama kali jadi polisi, mereka
merayakannya di café itu, lalu foto bersama. Shi On pun ingat semuanya, tentang
kejadian 6 th lalu, juga siapa Hyeong Joon baginya. Kini ia berdiri di hadapan
hantu kekasihnya sambil menangis. “Oppa… maafkan aku… aku tidak mengingatmu…”


Shi On dan Hyeong Joon kembali ke gudang. Shi On mengambil
kotak kecil dari salah satu barang hilang yang disimpan. “Malam itu, apa karena
ini kau memanggilku?” Hyeong Joon mengangguk.

Flashback 6 th lalu:
Hyeong Joon menggenggam kotak yang berisi cincin itu dengan
gugup. Saat akan keluar mobil, Senior Choi bertanya, mau kemana? Hyeong Joon
akan menemui kekasihnya sebentar. Choi mengomel, karena tugas mereka akan
selesai 1 jam lagi, kenapa begitu tidak sabarannya. Hyeong Joon pun berkata
kalau dia akan melamar gadis itu, dia meminta doa restu Choi dan berjanji
pertama kali akan mengenalkannya pada Choi. Hyeong Joon pun pergi menunggu di dermaga,
tak lama kemudian Shi On datang. Dia baru membeli kemeja couple dan menyuruh
Hyeong Joon memakainya sekarang juga. Setelah itu, Choi memanggilnya untuk
kembali karena pengintaian sudah selesai. Sebelum pergi Hyeong Joon mencium Shi
On. Itulah ciuman terakhir mereka.

Saat Hyeong Joon kembali ke mobil Choi, ia melihat lampu
kapal berkedip2 dari kaca mobil. Ia pun mengontak Choi dan memeriksa kapal itu
sendiri. Saat itulah dia melihat penyelundupan perak. Saat akan mengontak Choi,
sinyal walky talkynya berdenging hingga ia pun ketahuan, dikejar, dan
meluncurkan tembakan. Sementara itu Shi On melipat baju Hyeong Joon dan melihat
rompi anti peluru yang tertinggal. Saat akan pergi untuk mengembalikan, dia
mendengar suara tembakan. Shi On berlari dan meninggalkan rompi itu. Hyeong
Joon berlari dan hampir bertabrakan dengan seseorang, Senior Choi. “Hyeong
Joon-ah, biarkan kapal ini pergi diam2. Untuk kali ini saja, tutuplah matamu.”
Hyeong Joon tidak mau ikutan konspirasi. Choi mengeluarkan senjatanya, tepat
saat Shi On datang dan melihat dari atas dek. “DOOORRR…”



Shi On dan Hyeong Joon berjalan pulang bersama. Ternyata
Geon Woo sudah menunggu sejak tadi di depan rumah Shi On. Hyeong Joon pun
menghilang (dengan nelangsa pastinya hiks…). Geon Woo sudah memutuskan kalau
dia tidak akan kembali ke DK. “Karena aku suka berada di dekat Ketua Yang, aku
tidak akan pergi.” Ini sebuah pengakuan cinta rupanya. Shi On tidak siap dengan
kejutan lain, ia pun berkata, “Aku telah ingat semuanya. Aku ingan tentang Lee
Hyeong Joon. Dia adalah… pria yang kucintai. Untuk saat ini, kejadian itu, juga
apa yang terjadi pada Lee Hyeong Joon, adalah yang terpenting bagiku untuk
mencari tahu.” Ini adalah sebuah penolakan cinta dari Shi On. Hati Geon Woo
hancur berkeping2.


Geon Woo minum bersama Choi, curhat patah hati. Tapi dia
tidak tahu, efek dari curhatnya itu bagi Choi, karena Choi jadi curiga kalau
Shi On mengingat semuanya, juga dirinya yang merupakan pelaku pembunuhan Hyeong
Joon. Besoknya, Geon Woo kembali menjemput Shi On seperti biasanya. Untuk
sementara ini, perasaan canggung akan dikesampingkan dulu, demi menyelesaikan
misi penyelidikan dulu. Mereka menemui seorang ahli hacker yg sebenarnya jadi
buron, untuk membongkar isi hape rusak itu.


Geon Woo dan Shi On membawakan abu korban penusukan dan
memberikannya pada si pencuri hape. Mereka akan kembali ke China. Walau sudah
jadi abu, si korban harus dikembalikan kepada keluarganya. Hantu korban
pembunuhan pun bisa pergi dengan tenang, membungkuk terima kasih pada Shi On.
Kemudian Shi On mendatangi rumah Hyeong Joon lagi, kali ini kakak Hyeong Joon
keluar dari rumah itu. Mereka pun ngobrol di resto ayam goreng milik kakak.
Kakak tidak terima kalau Hyeong Joon dituduh korup. Minum gratis saja dia tidak
mau. Lalu 6 bulan setelah kejadian di kapal itu, Detektif Choi datang,
menceritakan ttg kejadian (palsu) itu. Dia berkata kalau sudah berusaha
semaksimal mungkin, tetapi dia tidak bisa melakukan apa2 lagi karena ini kasus
yg besar.

Sementara itu, kode dalam hape sudah terpecahkan, isinya ttg
tanggal2 transaksi, dimulai dari 22 Juli 2007. Tapi maling mendatangi rumah
hacker, mencuri semua peralatan hackernya, termasuk hape dan hardisk yang
berisi copy data. Semuanya dibakar oleh Choi, kecuali hape itu. Lalu Choi
meng-sms Shi On, berkata kalau dia menemukan saksi kejadian 6 th lalu. Walau
Shi On tahu kalau itu jebakan, dia tetap pergi untuk membuktikan semua
dugaannya. Hyeong Joon sudah
menghalanginya, tetapi Shi On bersikeras.


Sementara itu, hacker datang ke kantor polisi menemui Geon
Woo. Semua miliknya sudah diambil oleh pencuri, tapi mereka meninggalkan kertas
catatannya yg berisi nomor2 telpon dari data hape itu. Geon Woo terkejut karena
salah satu nomor, ada nomor yg dikenalnya. Setelah dicek, ternyata itu adalah
nomornya Choi. Ia mencari Choi, tapi tidak ada di tempat. Shi On pun tak bisa
dihubungi. Ia pun mencari2 petunjuk di meja Shi On, tak sengaja menggeser mouse
hingga memunculkan layar ms.word di kompuer. Di sana ada Hyeong Joon juga.
Dengan kekuatan hantunya, Hyeong Joon mengetik lokasi Shi On sekarang. Geon Woo
kaget, apalagi lampu kantor berkedip2. Tapi dia segera pergi ke lokasi yg
dimaksud.


Shi On dan Choi janjian di sebuah danau sepi. Seperti
dugaannya, tidak ada saksi di sana, itu cuma jebakan. Shi On menyalakan perekam
suara diam2. Ia menyudutkan Choi, membeberkan semua pembunuhan yang dilakukan
Choi, termasuk Hyeong Joon. Choi pun menodongkan pistol. Shi On juga menodong
pistol. Saat itu Geon Woo datang, mencoba menghentikan. “Aku tanya, kenapa kau
membunuh Lee Hyeong Joon!” bentak Shi On. Akhirnya Choi pun berkata, “Ya, aku
memang membunuhnya, tapi aku tidak bermaksud membunuhnya!” Pengakuan pun sudah
berhasil didapatkan. Lalu sirine polisi berbunyi. Perlahan Choi dan Shi On
menurunkan pistol. Geon Woo mendekati Choi untuk mengamankan pistol, tapi tiba2
Choi memukulnya dan kabur.

Geon Woo shock bercampur kecewa. Shi On mencoba
menenangkannya, tapi dia malah marah, karena Shi On sudah tahu sejak lama, tapi
tidak memberitahunya, bahkan masih bisa menyapa dan tertawa bersama si pelaku.
Shi On mencoba membela diri, karena Geon Woo dan Choi sangat dekat, Shi On
takut Geon Woo terluka. “Lalu memangnya
bagaimana sekarang? apa aku tampak baik2 saja?

Choi sudah jadi buron. Kepala Polisi menugaskan tim untuk
menginvestigasi ulang kejadian 6 tahun lalu, juga mencari Choi. Geon Woo bahkan
diinterogasi dan dicurigai kerja sama dengan Choi, mengingat mereka sangat
dekat waktu di kantor. Choi ternyata sembunyi di sebuah gudang tua. Anak
buahnya datang membawakan baju dan paspor dengan nama palsu. Setelah mengurus
keluarga Choi, maka mereka bisa pergi kabur dari Korea. Choi membuka dompetnya.
Di balik foto keluarganya, ada foto dirinya, anak2, bersama Hyeong Joon.

Flashback 6 th lalu.
Choi mengurusi dokumen kapal Cheongdoho yang membawa perak
itu. Lalu Hyeong Joon mengontaknya, ingin memeriksa kapal Cheongdoho sendiri
karena tampak aneh. Choi menyuruhnya berhenti, terus memanggil2nya dan berlari
untuk mencegahnya. Terdengar bunyi tembakan. Choi pun ke kapal itu dan
menghalangi Hyeong Joon lari, menyuruhnya untuk membiarkan kapal ini pergi.
Tapi karena tidak mau, Choi pun menembak Hyeong Joon. Shi On menjerit dan
dikejar oleh para anak buah. Choi kaget karena Hyeong Joon benar2 tertembak.
Hyeong Joon tidak memakain rompi anti pelurunya. Ia menelpon atasannya, melapor
kalau dia menembak Hyeong Joon, lalu memukul Shi On sampai pingsan dan menembak
kakinya sendiri untuk membuat pengakuan palsu.

“Hyeong Joon-ah, mian hae. Aku tidak tahu kalau kau tidak
pakai rompi anti peluru…”
Hyeong Joon muncul di dekat Choi, “Choi Sunbae, kenapa kau
melakukan sejauh ini? Kau bukan orang seperti ini…”
Choi keluar dan menelpon Geon Woo dari telepon umum, tapi
Geon Woo sudah tidur karena mabuk. Besoknya, dia menelpon Shi On dan segera
menutupnya saat Shi On mengangkatnya. “Yang Tim-jang mianhae. Geon Woo-ya,
mianhada…” Choi mengangkat kopernya dan pergi.


Shi On dan Geon Woo berhasil melacak nomor telepon umum itu
dan pergi ke gudang itu. Il Do menelpon Choi, mengatakan kalau mereka
kedatangan tamu dan akan segera disingkirkan. Choi hanya tinggal hidup tenang
di luar negeri saja. Il Do dan anak buahnya mengepung Shi On dan Geon Woo.
Mereka mengeroyoknya. Tiba2 terdengar letusan pistol. Rupanya Choi kembali dan
menyuruh Geon Woo dan Shi On pergi. Tapi saat mereka pergi, Il Do menusuk perut
Choi. Geon Woo menepis tangan Shi On dan kembali. Ia kaget melihat Choi sudah
tertusuk. Shi On mengambil pistol Choi dan mengusir mereka. Choi dibawa dengan
ambulans, tapi terlambat. Choi tewas dalam perjalanan, setelah meminta maaf
pada Geon Woo dan mengeluarkan dompet dari kantongnya.

Hyeong Joon berdiri di depan makam Choi. Ia teringat setelah
ditembak, rohnya bangun berdiri, tetapi tubuhnya masih terbaring. Ia juga
melihat kekasihnya dipukul oleh Choi. Hyeong Joon tidak puas, karena Choi mati
begitu saja. Dia ingin Choi benar2 menyesal, membayar dosa, dan memohon ampun.
Sementara itu, nama Hyeong Joon sudah dibersihkan, dia pun mendapatkan plakat
penghargaan yang diberikan kepada kakak Hyeong Joon. Kakak pun menyuruh Shi On
untuk melupakan Hyeong Joon mulai saat ini. Shi On harus memulai hidup yang
baru tanpa Hyeong Joon, merelakan Hyeong Joon, membiarkannya tenang di alam
baka. Hyeong Joon sendiri pun masih merasa belum bisa meninggalkan wanita yang
dicintainya. Ia dinasehati Hee Bin untuk pergi ke alam baka dengan tenang,
karena jika ia terus mengikuti Shi On, maka Shi On pasti akan terbebani.
Biarkanlah yang hidup melanjutkan hidupnya, tidak dibayangi oleh masa lalu.


Shi On memohon pada Kepala Polisi untuk ditempatkan di tim
penyidik untuk melanjutkan kasus penyelundupan perak. Tapi Kepala Polisi tidak
mengijinkannya, bahkan mengancam akan memecat Shi On jika ia bertindak
sendirian dan membahayakan diri sendiri seperti kemarin. Maka, Shi On pun
menyelidiki sendiri, dimulai dari data nomor telepon yang dihubungi Choi, salah
satunya adalah nomor telpon toko gadai. Dan ternyata, isi dompet Choi yang
diberikan pada Geon Woo itu isinya kuitansi toko gadai itu. Sayangnya, saat
mereka kembali ke sana, barang yang digadaikan Choi barusan sudah ditebus oleh
orang lain, yaitu hape rusak. Shi On dan Geon Woo segera mengejar orang yang
menebus hape itu. Tapi sebelum Shi On pergi, kakek pegadaian memberikan sebuah
kunci yang juga digadaikan Choi.

Orang itu pun terkejar dan mereka mendapatkan hapenya. Tapi
mereka dicegat oleh Il Do dan anak buahnya. Geon Woo pun melempar hape itu dan
kabur. Shi On marah2, kenapa dg mudahnya Geon Woo menyerahkan hape berharga
itu? Tapi Geon Woo tidak bodoh, ternyata dia sudah mencabut memory card hape
itu haha… Memory card itu dibawa lagi ke hacker yang waktu itu untuk memecahkan
kodenya.

Sementara itu, Il Do memberikan hape rusak itu kepada seseorang yang
duduk di dalam mobil. Hyeong Joon berdiri di depan mobil itu, matanya tampak
terkejut dan tak percaya. Siapakah dia???


Il Do ditelpon oleh bosnya yang marah2 karena memory card
hape itu sudah tidak ada. Malamnya, dia bersama anak buahnya mendatangi rumah
Shi On dan menculiknya. Hacker sudah berhasil membuka semua kodenya. Geon Woo
menelpon Shi On untuk segera datang, tapi ternyata yang mengangkat hape Shi On
adalah Il Do yang menyuruhnya untuk datang membawa memory card itu, dan tidak
boleh memback-up. Sebelum membawanya, Geon Woo sempat melihat isi data itu
dulu, dan ia tampak terkejut. Sementara itu, Il Do bertanya pada bosnya, apa
yang harus ia lakukan selanjutnya setelah mendapatkan kartu itu? Kini kita
dapat melihat, perlahan2 kamera menshoot dari tangan hingga ke wajah si bos,
yaitu Kepala Polisi!
“Habisi mereka!”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar