
Jung Woo tiba di sebuah gudang yang selalu menghantuinya selama 14 th
ini. “Aku pernah memimpikan hal seperti ini sebelumnya. Kembali ke sini.. untuk
membawamu, Soo Yeon.” Jung Woo membuka pintu gudang dan di depannya, Soo Yeon
duduk gemetar, tetapi setelah melihat Jung Woo, ia pun tenang. Di samping, Joon
duduk dan menodong pistol, melempar GPS yang di simpan Soo Yeon ke kaki Jung
Woo. Dengan pistolnya, ia menyuruh Jung Woo untuk duduk di kursi, berhadapan
dengan Soo Yeon.

Sementara itu, ibu ditelepon dan datang ke kantor polisi saat Tae Joon
duduk di hadapan polisi, membentak dan minta pengacaranya datang. Atasan Jung
Woo menghardik Tae Joon yang berkonsporasi dengan pembunuh berantai, membiarkan
putranya sendiri, Jung Woo, menghadapi pembunuh itu dengan tangan kosong untuk
menyelamatkan Soo Yeon. “Jika sesuatu terjadi pada Jung Woo atau Soo Yeon,
kaulah bertanggung jawab atas kematian mereka,” ancam atasan Jung Woo tak
menyadari kedatangan ibu Soo Yeon dan mendengar ucapannya. Atasan kaget saat
ibu muncul di hadapannya. Ia buru-buru menyapanya mencoba mengalihkan perhatian
ibu dari Tae Joon yang belum pernah dilihat ibu dan bertanya alasan kedatangan
ibu. Ibu datang karena ada telepon dari polisi yang menanyakan tentang
keberadaan Soo Yeon dan ia ingin tahu apa yang sedang terjadi.

Saat menjawab pertanyaan itu, mata ibu tak pernah lepas dari Tae Joon.
Ibu akhirnya melihat pria yang membuat Jung Woo, “Aku salah dengar, kan? Orang
ini tak menipu Soo Yeon dan Jung Woo lagi, kan?” Atasan Jung Woo mencoba
mengajak ibu Soo Yeon untuk menyingkir dengan mengatakan kalau pria itu adalah
ayah Jung Woo. Tapi itu malah membuat itu marah, “Siapa yang menjadi ayah Jung
Woo? Jung Woo bukanlah anaknya. Jung Woo adalah anakku! Akulah yang telah
membesarkan Jung Woo selama 14 tahun!”

Mendengar hal ini, bukannya membuat Tae Joon marah, tapi ia malah
tertawa. Tentu saja tawa itu membuat ibu heran sekaligus marah. “Saat putriku
harus mengalami mimpi buruk gara-gara kau, saat putraku harus hidup dalam
penderitaan selama ini. Kau berani tertawa?” ibu histeris dan menarik jas Tae
Joon. Tae Joon mendorong ibu dan mengatainya gila. Atasan mencoba menahan ibu
dan menyuruh anak buahnya untuk membawa Tae Joon pergi, tapi ibu belum selesai.
Ibu berkata kalau ia mungkin gila tapi Tae Joonlah yang bukan manusia, “Setelah
semua yang terjadi, kau malah membantu pembunuh berantai itu? Di mana anakku?
Di mana Jung Woo? Kembalikan anak-anakku! Kalau ada sesuatu terjadi pada Soo
Yeon ataupun Jung Woo, aku tak akan pernah melepaskanmu! Aku akan mengikutimu
kemanapun engkau pergi dan akan menyiksamu! Jadi sebaiknya kau bersembunyi!”

Kembali ke gudang. Joon bertanya pada Jung Woo, bagaimana rasanya
kembali ke tempat ini? Soo Yeon tampak bingung dan Jung Woo pun menyadari kalau
Soo Yeon tidak ingat kalau gudang ini tempat mereka disekap 14 th lalu. Pada
Soo Yeon, Joon bertanya dengan ramah,
“Kau melupakan bahkan setelah ia meninggalkanmu sendiri untuk melarikan diri?”
Tapi ia kemudian membentak, “KAU MENCINTAINYA?!” Soo Yeon melihat ke sekeliling
gudang, dan ingatan itu kembali lagi. Saat-saat penculik itu bersiul gembira,
dan datang dengan langkah mabuk, menghampiri mereka berdua. Ia gemetar
ketakutan saat mengingat penculik itu menarik kakinya yang membuat pegangan
tangannya pada Jung Woo terlepas. Jung Woo melihat betapa ketakutannya Soo Yeon
sekarang, meminta Soo Yeon untuk mengangkat wajahnya. Maksudnya adalah untuk
menatapnya, karena ada dia di hadapan Soo Yeon sekarang.

Tapi Joon tertawa dan juga menyuruh Soo Yeon untuk mengangkat
wajahnya, agar Soo Yeon bisa melihat Jung Woo yang meninggalkannya dan
melarikan diri sendiri, “Kau meninggalkanku.. untuk orang seperti ini?!” Soo
Yeon semakin gemetar ketakutan dan Jung Woo menenangkan Soo Yeon kalau ia
bukanlah anak 15 tahun yang dulu. Ia meminta Soo Yeon untuk melihatnya,
“Tak peduli apapun yang terjadi, aku tak akan pergi kemanapun dan tak akan
meninggalkanmu sendiri. Angkatlah wajahmu, Lee Soo Yeon!”
Perlahan-lahan Soo Yeon mengangkat wajahnya, menatap Jung Woo. Tapi
yang di hadapannya bukan lah Jung Woo yang sekarang. melainkan Jung Woo yang
memandangnya 14 tahun yang lalu. Jung Woo yang kemudian meninggalkannya walau
ia memanggilnya. Dan Soo Yeon pun bergidik ketakutan. Ia menjerit dan
menarik-narik bajunya, sama seperti yang ia lakukan 14 tahun yang lalu. Joon
yang dulu memeluknya untuk menenangkannya, sekarang malah tertawa senang,
seakan tujuannya berhasil.


Jung Woo pun hanya bisa menunduk, “Hari itu.. saat kedua tangan dan
kakiku terikat, hal yang kusaksikan membuatku terkoyak,” Jung Woo menoleh pada
Hyung Joon dan berkata kalau itu adalah air mata Soo Yeon. “Apa yang terjadi
pada hari itu sangat tak tertahankan dan memalukan. Dan aku masih merasa ingin
mati jika aku memikirkannya. Aku merasa malu dan hina, yang tak melakukan apa2,
bahkan melarikan diri.” Mendengar hal itu, Soo Yeon mendongak dan menatap Jung
Woo. Jung Woo meminta Joon untuk melihat Soo Yeon. Apakah air mata (trauma) Soo
Yeon berakhir karena ia berhasil membunuh Sang Deuk? Apakah semua yang terjadi
pada Soo Yeon bisa pergi begitu saja?


Bagi Jung Woo, Joon kehilangan Soo Yeon karena Tae Joon. Karena Joon
terlalu sibuk membenci Tae Joon maka ia kehilangan Soo Yeon. Dan sekarang
karena kebencian Joon padanya, Joon melukai Soo Yeon lagi. Seharusnya Joon tak
perlu memanggil Soo Yeon kemari karena saat itu ialah yang meninggalkan Soo
Yeon dan melarikan diri. Soo Yeonlah yang seharusnya dapat terus membencinya, ”Kau
tak perlu harus melakukannya sejauh ini. Bahkan aku .. masih belum dapat
memaafkan diriku sendiri atas apa yang telah aku lakukan. Jadi hentikan semua
ini!” Jung Woo membentak sambil berdiri, tapi Joon menyodorkan pistol ke arah
Soo Yeon dan menyuruhnya duduk. Jung Woo terpaku, tak berani bergerak, takut
membahayakan nyawa Soo Yeon, sedangkan Soo Yeon mulai gemetaran lagi.


Joon setuju dengan kata-kata Jung Woo. Ia akan menghentikan semua ini
karena semuanya tak ada gunanya. Ia berkata pada Soo Yeon, “Soo Yeon ah..
Lihatlah padaku. Maafkan aku juga. Aku tak ingin sendiri. Aku takut. Aku juga
tak ingin dipenjara. Rasanya aku tercekik tak bisa bernafas karena
merindukanmu. Kumohon.. lihatlah padaku.” Joon mengulurkan tangannya, meminta
Soo Yeon datang padanya. Soo Yeon berkali-kali melirik Jung Woo, seakan meminta
pendapatnya. Jung Woo pun hanya bisa menatap keduanya, seakan ragu atas
tindakan selanjutnya.

Sementara itu, Senior membawa pasukan khusus untuk menyelamatkan Jung
Woo dan Soo Yeon. Salah satu pasukan itu memasukkan kamera ke dalam gudang,
sehingga mereka dapat mendengar apa yang terjadi di dalam gudang. Jung Woo
meminta Joon menurunkan senjatanya, “Apa yang sedang kau lakukan sekarang saja
menakutiku. Jadi bagaimana mungkin Soo Yeon berani kembali padamu?” Joon malah
menembakkan pistol ke arah Jung Woo, membuat Soo Yeon berteriak kaget. Begitu
pula Senior yang mendengar dari kamera mata-mata. Para polisi di luar pun
segera bersiaga.

Tapi yang ditembak Hyung Joon adalah udara kosong, “Zoey dan aku
sedang berbicara. Jangan ikut campur!” Jung Woo menyela, “Kenapa kau tak
membunuhku? Apa karena aku keluarga?” Joon menoleh, menatap Jung Woo yang
menatapnya nanar, “Kenapa kita tak pernah bertemu? Apa karena Han Tae Joon?” Joon
tersenyum mendengar pertanyaan Jung Woo. Apakah Jung Woo baru menyadarinya
sekarang? “Semua ini.. karena Han Tae Joon.” Jung Woo mengiyakan. Semua ini
karena ayahnya, Han Tae Joon. Ia bahkan belum bisa memaafkan ayahnya sampai
sekarang. Apakah karena Hyung Joon kasihan padanya? Karena ia adalah anak
seorang Han Tae Joon? Tapi Hyung Joon bisa menebak maksud Jung Woo yang
memiliki udang di balik batu. Seumur hidupnya ia hidup dari satu kebohongan ke
kebohongan lainnya agar ia bisa selamat, “Jadi aku tak akan tertipu oleh
kebohongan yang gampang ketahuan seperti itu.”


Luka di kaki menyerang kembali, sehingga Joon merintih, “Zoey..
rasanya sakit sekali. Aku memimpikan kembali saat-saat kita ada di Perancis.
Walau kau tak mencintaiku, tapi aku masih merasa bahagia. Aku ingin kembali ke
masa-masa itu.”
“Hanya karena ini bukan jenis cinta yang kau inginkan, bukan berarti
aku tak pernah menyayangimu. Bagiku dan bagimu, kita adalah satu-satunya
keluarga yang kita miliki. Aku tak berpikir kalau semua di dirimu adalah
kebohongan. Harry, aku pun juga pembohong,” kata Soo Yeon menangis, “Aku
membohongimu banyak hal. Aku berpura-pura telah melupakan semuanya. Aku
berpura-pura tak merindukan semuanya.”

Jung Woo melihat sekelebat lampu infra merah, pertanda ada orang yang
menjadikan Joon sebagai target tembak. Ia melirik ke belakang, menyadari kalau
bantuan telah tiba. Joon menyandarkan tubuhnya ke kursi dan mengatai Soo Yeon
bodoh. Kenapa juga Soo Yeon harus takut padanya? “Jika aku akhirnya harus
membunuh semua orang di dunia ini, aku tak akan pernah membunuhmu.” Joon ingin
kembali ke rumah yang dulu mereka tinggali bersama, bersama tongkat yang Soo
Yeon buatkan untuknya.

Saat Joon meraih tongkatnya, ia melihat infra merah yang mengenai
tongkat itu dan menyadari kalau ia menjadi target sniper. Jung Woo meminta Joon
keluar bersamanya, tapi Joon mengarahkan pistol pada Soo Yeon lagi dan mengusir
Jung Woo. “Katamu surga tak dapat dihuni sendiri, kan? Maka aku akan membawa
Soo Yeon bersamaku,” Joon menjadikan Soo Yeon sebagai sandera. Soo Yeon
gemetaran lagi. Jung Woo terbelalak karena infra merah itu sekarang bergerak
tak beraturan, kadang mengenai tubuh Soo Yeon. Ia takut membahayakan nyawa Soo
Yeon. Senior lari dari mobil pengawas, meminta sniper menunda tembakan karena
bisa membahayakan ketiganya. Ia mencoba meyakinkan kalau Jung Woo akan membawa
korban keluar. Tapi sniper itu mendapat perintah dari atasannya untuk menembak,
maka Senior meminta untuk mengulur 5 menit saja. Karena tak ada jalan lain,
Jung Woo pun menghalangi infra merah itu dengan tubuhnya agar tak mengenai
keduanya.

Jung Woo mengatakan kalau nanti Joon menembak Soo Yeon, cinta mereka tak akan pernah hilang dan ia yakin kalau
kematian Soo Yeon akan memperdalam perasaan duka yang ia rasakan. Apakah Joon
masih akan mengirikan hal ini? Mendengar kata-kata Jung Woo, Joon menjadi marah
dan mengarahkan pistolnya kepada Jung Woo. Tapi Soo Yeon yang sekarang
bebas dan melihat Jung Woo dalam bahaya, segera bangkit dan menghalangi pistol Joon,
yang sekarang mengarah (lagi) padanya. Jung Woo terbelalak tak percaya melihat
Soo Yeon lagi-lagi mempertaruhkan nyawa untuknya. Soo Yeon perlahan-lahan maju
ke depan, mendekati pistol Hyung Joon dan berkata, “Jung Woo-ya.. Terima kasih
telah menungguku sekian lama. Tapi kali ini, aku akan pergi dulu dan akan
menunggumu.”
“Joon-ah.. Aku benar-benar menyukaimu, tapi beginilah cinta,” Soo Yeon
berjalan semakin mendekati pistol Joon, hingga akhirnya pistol itu ada di
depannya dan ia meraih pistol itu dan mengarahkannya tepat ke dadanya. Ia
juga berpesan agar Jung Woo tidak melukai Joon.


Joon shock. Ia mundur, dengan masih mengacungkan pistol ke arah
Soo Yeon. Ia tak percaya pada kata-kata Soo Yeon, “Tidak.. tidak! TIDAK!
KAU PASTI BERBOHONG!!” Tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, secepat kilat
Jung Woo menarik tubuh Soo Yeon dan melindunginya.
DOR!!!
Peluru itu muntah dari pistol Joon. Soo Yeon menjerit memanggil Jung
Woo yang terjatuh ke lantai, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Joon pun shock
melihat tembakan itu. Apalagi para polisi menerobos masuk ke dalam gudang. Joon
menatap Soo Yeon yang terisak, memohon Jung Woo agar bangun.

Joon mengarahkan pistol ke kepalanya, memanggil Zoey. Tapi Soo Yeon
menolehpun tidak. Ia hanya memanggil-manggil Jung Woo agar membuka mata.”Aku…
aku pun bisa mempertaruhkan nyawa untukmu!” Tapi Soo Yeon seakan tak
mendengarnya, Terus menutupi punggung Jung Woo yang mengucur darah dengan
tangannya. Hal itu membuat Joon semakin tak mengerti, “Jika itu yang kalian
sebut dengan cinta, akupun juga bisa mati karenamu juga!” Tapi teriakan Hyung
Joon tak dapat didengar Soo Yeon, karena Soo Yeon terisak semakin keras karena
nafas Jung Woo sudah semakin pendek. Joon berteriak meminta Soo Yeon untuk melihatnya,
tapi Soo Yeon yang semakin panik memohon para polisi untuk menyelamatkan Jung
Woo. Hyung Joon putus asa melihat Soo Yeon yang tak sekalipun melihat
kepadanya. Ia pun menarik pelatuk pistol itu, bersiap menembak kepalanya
sendiri. Tapi polisi lebih cepat, dan menembak lengan Hyung Joon,
melumpuhkannya. Joon menatap Soo Yeon yang ditarik pergi, mencoba sekali lagi
berkata padanya meminta perhatiannya, “Peluklah aku.”


Kesadaran Jung Woo makin menurun, dan seakan mendengar Soo Yeon
meminta maaf padanya. Dan ia meminta Soo Yeon tak perlu meminta maaf, “Kau tahu,
kan? Aku menangis bukan karena aku sedih, tapi karena angin yang bertiup.”
Jung Woo dan Hyung Joon sama-sama dibawa ke rumah sakit dan bersiap
untuk melakukan operasi. Kondisi yang terlihat stabil lebih dulu adalah Joon.
Namun ia pun belum sadarkan diri. Menurut dokter, dengan kondisi Hyung Joon
sekarang, hanya keinginan untuk hidup dari si pasienlah yang akan membuat
pasien sadar. Dan setelah menghadapi guncangan jiwa yang dialami pasien, dokter
mengatakan akan melakukan tes untuk memeriksa syaraf pasien. Dengan kejahatan
yang telah Hyung Joon lakukan, kemungkinan besar Hyung Joon akan mendapat
hukuman penjara maksimal. Senior bertanya, apakah mungkin Joon dapat bebas
dengan kondisinya yang seperti ini? Atasan Jung menyangsikannya, karena Hyung
Joon dalam kondisi waras saat melakukan kejahatan. Dalam komanya, Joon terus
terkenang akan Soo Yeon.

Sebuah televisi menyala menampilkan acara berita, salah satunya
tentang vonis atas kasus Han Tae Joon. Di dalam kamar rumah sakit, tertumpuk
syal merah dan jaket hitam, lalu terdengar suara Soo Yeon menyapa suster. Saat suster
pergi, Soo Yeon meletakkan payung kuningnya yang basah sambil bersenandung dan
menggantung mantelnya. Tiba2 ia mendengar suara lirih memanggil namanya. Ia menoleh,
menemukan Jung Woo yang terbaring dengan mata yang menatapnya. Soo Yeon
menyapa, seperti bukan menyapa orang yang baru bangun dari koma, dan menyuruh
Jung Woo terus memanggil namanya, ia merindukan suara Jung Woo.


Sepuluh bulan kemudian
Keadaan kembali normal. Detektif Senior tetap belum punya pacar dan
masih malas2an sampai sering dipukuli atasannya. Jung Woo kembali menjadi
detektif ‘kelinci gila’ yang sangat gencar menginterogasi pelaku. Malamnya Jung
Woo pulang di rumah yang gelap gulita. Ia waspada namun tak lama kemudian, Ah
Reum muncul dengan gaya ala model catwalk, disusul Eun Joo dan ibu. Lalu Mi Ran
keluar dengan malu2. Mereka semua memakai jepitan baju di poni mereka. Dan yang
terakhir, Soo Yeon keluar. Lalu mereka pun menikmati ayam goreng panggang
(kayak kfc) bersama2. Dan saat itu, Jung Woo memberikan sesuatu ke tangan Soo
Yeon yang dikira yang lainnya sebuah cincin kawin (udah itu), ternyata sebuah
KTP dengan nama Lee Soo Yeon, bukan Zoey lagi.

Jung Woo mengunjungi ayahnya di penjara. Tapi Tae Joon masih seperti
Tae Joon yang dulu, yang memandang kedatangan putranya tanpa perasaan senang
dan tanpa kata-kata. Hanya saat ia melihat dada kiri Jung Woo. Tanpa ditanya,
Jung Woo menjelaskan kalau ia sudah membaik, hanya rasanya perih saat ia
melihat luka di dadanya itu. Sebenarnya Jung Woo merasa ragu untuk datang
menemui ayahnya. Tapi karena ia merasa mereka masih diberi kesempatan untuk
bertemu, “Untuk yang berikutnya, aku ingin Ayah yang memanggilku. Dan aku akan
menunggu hingga saat itu tiba.” Tae Joon hanya menatap Jung Woo, seolah-olah
Jung Woo itu alien. Pada sipir yang berjaga, ia berkata kalau ia akan
meninggalkan ruangan. Jung Woo hanya bisa menatap kepergian ayahnya dengan
pasrah. Tapi ia berdiri saat ayahnya berhenti di depan pintu dan menoleh
padanya. Ia menatap ayahnya, berharap ayahnya mengatakan sesuatu padanya. Dan
memang Tae Joon menoleh untuk berkata padanya, “Dasar gila.”
Jung Woo dan Soo Yeon mengunjungi Joon di rumah sakit jiwa. Joon sudah
mulai mengucapkan beberapa kata, tapi Joon tak memperlihatkan tanda-tanda
membaik, “Ia tak mungkin di sini selamanya. Saya pikir ia harus segera
dipindahkan ke penjara.”
Mendengar penjelasan ini, Soo Yeon terpukul. Ia seperti ingin menangis
melihat Joon duduk di kursi roda, menatap jendela dengan kosong, tak tampak
sedikitpun Harry Borrison di dalamnya. Joon mengulurkan tangannya dan seperti
ibunya, ia seakan menangkap sesuatu di depan matanya.

Joon akhirnya menyadari keberadaan Soo Yeon dan Jung Woo yang berdiri
tak jauh darinya. Soo Yeon memasang senyum dan menyapa Joon. Tapi Joon hanya
tersenyum sopan pada Soo Yeon membuat Soo Yeon tercekat dan ingin menangis.
Jung Woo memegang bahu Soo Yeon, menenangkannya. Mereka berdua duduk di hadapan
Joon dan Soo Yeon memberikan KTP-nya pada Joon. Tapi Hyung Joon tak segera
menerima KTP itu sehingga Jung Woo yang membantu memberikan KTP itu pada Joon.
Soo Yeon memberitahu namanya adalah Lee Soo Yeon. Joon terus memandangi KTP itu
tanpa ekspresi.

Jung Woo akhirnya memberikan daun kering yang ia pegang pada Joon,
“Sudah hampir musim dingin lagi.”
Kali ini Joon mendongak dan mengambil daun itu. Tak disangka, ia menatap
Jung Woo dengan tersenyum dan memandangi daun itu dengan bahagia. Jung
Woo berkata kalau Joon pasti menyukainya. Soo Yeon mengangkat tangannya
melakuan sihir itu lagi, membuat Joon mendongak menatapnya. Tapi kemudian ia
menunduk lagi dan mengagumi daun itu dengan senyum.

Jung Woo dan Soo Yeon keluar dari rumah sakit dan disambut oleh
turunnya salju. Mereka terpana melihatnya dan menyadari sesuatu, “Salju
pertama!” Mereka pun bergegas pergi.

Di atas, dengan kalung tergenggam di tangan, Joon melihat kepergian
mereka dan seakan ingin menangkap sesuatu. Tapi ternyata gerakan itu adalah
saat-saat ia menggenggam tangan Soo Yeon, memegang bahu Soo Yeon,
menenangkannya. Dan gerakan tangan itu berubah menjadi gerakan sihir Soo Yeon,
walau gerakan itu masih kaku. Namun Joon tersenyum lebih bahagia saat
menggerakkan tangan.

Jung Woo dan Soo Yeon sampai juga ke dalam sebuah gereja. Jung Woo
membawakan buket bunga Soo Yeon. Ia segera mengajak Soo Yeon untuk maju ke
altar, tapi Soo Yeon mencegahnya dan membisikkan sesuatu padanya. Jung Woo pun
mengerti dan ia pun maju, berjalan sendiri, persis seperti pengantin wanita
karena ia membawa buket bunga. Ia pun tersadar dengan apa yang digenggamnya,
dan ia pun mundur lagi, dan menyerahkan buket bunga itu pada Soo Yeon. Jung Woo
pun maju, dan Soo Yeon yang masih berdiri di belakangnya, mengambil jepit
jemuran yang telah ia hias dengan bunga dan pita menjadi cantik. Saat Jung Woo
berbalik dan memanggilnya untuk segera ke altar, ia pun menyelipkan jepit
jemuran itu ke rambutnya. pengantin wanitapun telah siap.

Soo Yeon berjalan dan berkata dalam hati, “Jung Woo-yaa.. Kau pasti
tak mengira berapa lama aku menunggu saat ini, kan? Terima kasih karena telah
tetap berada di sana dan menungguku.”
Jung Woo memandangi Soo Yeon yang berjalan menghampirinya dan berkata
dalam hati, “Jalanan sangat terjal untuk menuju tempat ini, kan?
Sekarang, kau hanya perlu berjalan 13 langkah. Satu.. dua.. tiga..
empat..
Jika angin bertiup mulai keras, kita akan saling menghalangi.
Jika hujan turun, kita dapat berbagi payung.
Di hari pertama turunnya hujan, kita akan bertemu seperti ini.
Apa kau ingat? Kita saling memperlihatkan bekas luka kita di tangga
saat kita remaja dan kita mentertawakannya.
Kita dapat terus melakukan itu. Mari kita lewati saat-saat sulit
dengan cinta kita dan menjalani hidup kita seperti itu."

Soo Yeon sudah tiba di samping Jung Woo dan mereka pun saling memuji.
Jung Woo dulu yang menyelipkan cincin ke jari manis Soo Yeon. Dan begitu pula sebaliknya.
Jung Woo mencium kening Soo Yeon, dan mereka pun menjadi suami istri. Mereka
pun bersiap menyebarkan berita pernikahan mereka dengan foto mereka yang
mengacungkan cincin pernikahan itu.
Eun Joo yang pertama kali melihat foto yang dikirim Jung Woo. Ibu yang
melihatnya, tak dapat menutupi kebahagiaan melihat foto itu, walau Eun Joo sempat
menggerutu karena Jung Woo dan Soo Yeon hanya mengadakan pernikahan berdua
saja. Begitu juga Mi Ran yang melihat foto itu bersama Ah Reum. Baginya, ini
bukan pernikahan. Ia menyuruh Ah Reum untuk menelepon Jung Woo karena ia akan
mengadakan pesta pernikahan di hotel dan akan menikahkan mereka lagi. Ah Reum
meminta ibunya untuk membatalkan pikiran itu, karena Jung Woo memang berniat
untuk menikah di hari pertama salju turun. Akhirnya ibunya pun menganggap kalau
tindakan Jung Woo ini keren juga dan romantis. Ia pun memuji Jung Woo, “Ia
benar-benar seperti satu-satunya putraku.” Tapi saat Ah Reum bertanya-tanya
apakah ayah sudah tahu tentang pernikahan Jung Woo, Mi Ran meminta
putrinya untuk tak mengungkit-ungkit ayahnya lagi, karena ayahnya itu butuh
waktu yang sangat lama untuk disadarkan.

Sementara Senior yang juga mendapat kiriman foto itu, tersenyum tapi
langsung lebay dengan mengeluh sakit perut. Kedua rekannya langsung merebut
handphone yang ada di tangan Senior dan terkejut melihat si kelinci gila telah
menikah. Senior masih berteriak-teriak mengeluh perutnya sakit, dan buru-buru
ngacir dari ruangan. Tapi kedua rekannya dan sekarang juga atasannya, segera
mengejar karena penasaran ingin melihat foto itu lagi.

Ibu menerima telepon dari Jung Woo dan berkata kalau ia telah melihat
foto pernikahan mereka dan sangat indah. Tapi walaupun ibu terdengar bahagia,
tapi Jung Woo juga dapat mendengar suara tangis ibu. Jung Woo mengatakan kalau
mereka buru-buru menikah karena takut salju pertama itu akan segera mencair,
“Kami akan melakukannya lagi secara formal dengan memakai jas dan gaun. Dan
dengan kehadiran Ibu.” Ibu terpana mendengar kata-kata Jung Woo yang
memanggilnya ibu (biasanya aen – pacar). “Ibu.. terima kasih. Terima kasih
telah membesarkanku. Telah menjadi kekasihku. Dan telah melahirkan seorang
putri yang cantik.”

Bergantian Soo Yeon dan Jung Woo melakukan sihirnya lagi.
Dan kita kembali pada 14 tahun yang lalu saat Soo Yeon meminjamkan
payungnya pada Jung Woo yang sedang berteduh. Dan mereka berjanji untuk bertemu
lagi di taman ini besok. Soo Yeon menunggu kedatangan Jung Woo dengan bergumam,
“Datang.. tak datang.. datang.. tak datang...” Dan untuk membunuh waktu, ia
menyanyikan lagu favoritnya. Seharusnya saat ini Jung Woo tidak datang karena
kakeknya meninggal dan ia jadi wakil keluarga karena ayahnya ngurusin duitnya, Namun
yang terjadi berikutnya adalah Jung Woo muncul di hadapannya dengan menyodorkan
payung kuning yang ia pinjam kemarin. Soo Yeon kaget karena ternyata Jung Woo
datang. Tentu saja. Bukankah Jung Woo kemarin berjanji kalau ia akan datang?
Dan ia tak datang sendiri. Ia datang bersama seseorang. Soo Yeon
bertanya, siapa? Jung Woo sedikit bingung saat menjawab, “Paman kecil. Aku juga
baru pertama kali bertemu dengannya. Ternyata aku memiliki seorang paman.”

“Bohong!”
Mereka menoleh pada Joon yang lari menghampiri mereka dan
memperhatikan wajah Soo Yeon untuk kemudian berkata pada Jung Woo, “Ia tidak
cantik. Katamu, pacarmu itu sangat cantik sekali.”
Soo Yeon melongo mendengar kata-kata Joon. Apalagi Jung Woo yang
akhirnya hanya bertanya pada Joon yang sudah lari bermain luncuran di taman,
“Sejak kapan aku mengatakan itu?”
Tapi terlambat. Soo Yeon sudah mendengarnya dan ia pun bertanya, “Han
Jung Woo..”
Jung Woo enggan menoleh pada Soo Yeon, tapi akhirnya ia menatap Soo
Yeon karena Soo Yeon sudah berdiri di hadapannya dan bertanya, “Kau pikir aku
cantik? Aku cantik dimananya?”
Jung Woo salah tingkah tak bisa menjawab, apalagi Soo Yeon
mengerjapkan matanya saat bertanya, “Mataku? Hidungku? Bibirku?”
“Cantik? Apanya yang cantik?” bentak Jung Woo mengagetkan Soo Yeon,
“Wajahmu itu seperti onggokan gula putih,” Jung Woo seakan sadar kalau gula itu
manis dan ia pun berganti hinaan, “seperti onggokan tepung putih.”
Tentu saja hinaan itu membuat Soo Yeon kesal. Ia pun mengacungkan
payungnya untuk memukul Jung Woo, tapi Jung Woo sudah lari terlebih dahulu. Joon
yang turun dari luncuran, langsung merebut payung itu dan melemparkannya pada
Jung Woo. Mereka pun saling menggoda.

Dan terdengar suara Jung Woo dewasa yang
bertanya, “Jika kami bertemu seperti ini, apa yang akan terjadi?

Joon yang menyadari lebih dulu kalau salju pertama turun. Mereka
sejenak diam, mengagumi salju itu. Bahkan Jung Woo pun juga berkata,
“Cantiknya..”
Soo Yeon menoleh mendengar kata itu lagi. Dan kali ini Jung Woo tak
membantah, dan tersenyum memandang Soo Yeon.
Joon yang protes melihatnya, “Kan sudah kubilang, ia tidak cantik!”
Soo Yeon pun mengejar Hyung Joon. Dan Hyung Joon pun buru-buru kabur
setelah melemparkan payung itu pada Jung Woo.

Terdengar suara Soo Yeon, 14 tahun yang lalu,
bertanya, “Di hari pertama salju turun. Apa yang ingin kau lakukan?”
Dan suara Jung Woo remaja berkata, “Aku akan
menemuimu. Satu-satunya temanku, Lee Soo Yeon.”

Dan terdengar suara Soo Yeon dewasa bertanya, “Jika kami bertemu
seperti ini, apa yang akan terjadi?”

Jung Woo : “Aku yakin kalau aku masih tetap mencintaimu. Walau jika
kita bertemu seperti itu, kita masih akan tetap jatuh cinta.”

Dan Soo Yeon bertanya, “Jika malam itu kita tak bertemu di taman,
apakah kau pikir kita masih akan saling bertemu?”

Jung Woo menjawab kalau mereka sudah pernah bertemu sebelumnya. Namun
lebih baik lagi karena saat itu hujan turun. Soo Yeon berkata kalau ia
menemukan payung itu karena ibu menendang payung itu dalam tidurnya.
“Jadi semua ini terjadi karena kekasihku. Orang yang mempertemukan
kita.”

END
Ending drama ini bener2 membuat penonton merasa sangat lega, plong,
seperti habis makan besar dan setelah kenyang, heeeekkkk.. puassss banget….
Sedih, romantic, seru, menegangkan, penasaran, semua melebur jadi
satu.
Yang unik, ada penjelasan ulang, tentang ‘bagaimana seandainya’. Biasanya
kalo nonton film/drama, termasuk di awal hingga pertengahan drama ini, sering
aku berpikir ulang, bagaimana seandainya pemeran antagonisnya nggak melakukan
hal itu, gimana seandainya para ortu nggak bermusuhan? Dsb.
Dan di drama ini, semua terjawab di akhir cerita. Seandainya Han Tae Joon
dan Kang Hyun Joo nggak berseteru, maka
pada pagi hari setelah hari hujan kemarin malam, Jung Woo tidak jadi wakil
keluarga dan bisa datang mengembalikan payung, bersama Joon dan mereka menjadi
tiga sahabat. Mungkin bisa jadi cinta segitiga, tapi nggak setragis ini
tentunya, paling kisah cinta segitiga biasa yang biasa banget hehe… yah,
namanya juga film ya, nggak mungkin bikin yang biasa banget kan, ntar nggak
laku lagi kayak drama2 dengan tema biasa lainnya.

Seperti biasa, aku selalu membahas pemeran antagonis (yang menarik),
dan di sini, ada Kang Hyung Joon a.k.a. Harry Borison. Tentu saja awalnya dia
nggak jahat, saking gara2 ibunya dan Tae Joon aja, dia jadi seperti ini.
Sebenarnya kalau dia memutuskan untuk hidup tenang saja di prancis dengan Zoey,
dia nggak akan seperti begini, tetapi dia memutuskan untuk balas dendam dan
dendam itu lama2 berubah jadi obsesi. Obsesinya pun berubah, dari yang awalnya
mau balas dendam terhadap apa yang dialami ibunya, kini obsesi untuk memiliki
Zoey.
Cintakah dia pada Zoey? Bisa iya, bisa tidak. Dia seperti punya 2
kepribadian. Dia menyayangi Zoey, tetapi juga memanfaatkan Zoey sebagai pelaku
kejahatannya. Dia melindungi Zoey, tetapi juga ingin membunuh Zoey agar tak ada
seorangpun yang memilikinya. Awalnya aku simpati padanya karena latar belakang
yang seperti itu hingga ia balas dendam sampai segitunya. Tetapi sejak dia
menyuruh Yoon untuk membawa pulang Zoey bagaimanapun keadaannya, hidup ataupun
mati, mulai saat itu simpati itu hilang. Juga membunuh orang2 dengan dingin,
melimpahkan semua kejahatannya itu pada Soo Yeon. Dia bilang dia cinta? Tetapi kenapa
dia tega? Intinya, dia mengerikan

Dan akhirnya dia jadi gila, itu ending yang cucok untuknya. Dari
sebelum penembakan di gudang itu, sebenarnya dia sudah menampakkan gejala2
kegilaan, karena obsesinya itu. Mungkin juga jika ditelaah secara kedokteran,
mamanya kan gila (schizophrenia), nah penyakit kejiwaan itu biasanya menurun.
Dia pun mengidap schizophrenia juga, apalagi ditambah dengan obsesi dan
dendamnya itu.

Sementara itu, awal dari segala kekacauan ini adalah Han Tae Joon dan
Kang Hyun Joo. Mereka berdua sama2 gila harta. Tapi Tae Joon lebih mengerikan. Dia
tidak mencintai keluarganya, hanya cinta uang, bahkan sampai akhir pun dia
tetap tak mau melihat putra kandungnya sendiri. Dia ayah yang sangat
mengerikan. Apa benar di dunia ini ada orang seperti itu? Sungguh mengerikan.

http://www.kutudrama.com/2013/01/sinopsis-i-miss-you-episode-21-1.html
http://www.kutudrama.com/2013/01/sinopsis-i-miss-you-episode-21-2-final.html
http://www.kutudrama.com/2013/01/sinopsis-i-miss-you-episode-21-2-final.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar