Joon menyeringai tipis sambil memasang earphone dan turun dari sepeda.
Lalu ada beberapa mobil hitam datang mengepungnya, tetapi bukan polisi yang
akan menangkapnya, melainkan orang2 suruhannya untuk menghabisi Jung Woo dengan
tongkat di tangan mereka. Jung Woo mengunci mobil dari dalam dan menyuruh Soo
Yeon untuk berpegangan erat. Hp Jung Woo bunyi, telpon dari Joon. Ia me-loudspeaker,
menuduh Joon nggak berani duel, beraninya main keroyok. Tetapi Joon tidak perlu
berkelahi, “Aku hanya ingin mengambil Zoey.” Soo Yoen ketakutan. Joon mengajak
Soo Yeon mulai lagi dari awal seperti 14 th lalu. Jung Woo berkata, kalau Joon
ingin mengambil hati Soo Yeon kembali, dia harusnya minta maaf karena membuat
Soo Yeon sebagai tersangka, bukannya membawa preman. Tapi Joon malah berkata
kalau preman2 ini adalah orang suruhan Han Tae Joon dan ia mengejek, kalau ayah
Jung Woo tidak pernah peduli anaknya hidup atau mati, ia hanya peduli uangnya.
Jadi apa Jung Woo masih kasihan pada ayahnya? Apa Jung Woo tega memborgol
tangan ayahnya sendiri? Tapi Jung Woo adl detektif yang menegakkan keadilan,
jika ayahnya memang melakukan kejahatan, tetap harus dihukum.

Joon mengajak Soo Yeon keluar, tapi Soo Yeon tak mau, lagi pula ia
bukanlah Zoey. Lalu Joon menyuruh preman2 itu untuk mengeluarkan Soo Yeon dari
mobil. Mereka mengepung dan membuka paksa pintu. Ada juga yang memukul kaca
hingga retak. Jung Woo memeluk Soo Yeon, melindungi dari pecahan kaca. Ia melihat
Joon yang tampak tenang saja melihat Soo Yeon ketakutan. Jung Woo melarikan
mobilnya hingga beberapa preman yang memanjat2 mobil berjatuhan. Tapi mereka
tetap di kejar. Untung polisi datang. Soo Yeon menyuruh Jung Woo mengejar Joon
saja, sementara dia ditemani satu polisi. Jung Woo dan para polisi pun
menghajar para preman, tetapi mereka kehilangan Joon.





Saat Soo Yeon duduk bersila di depan meja, Jung
Woo masuk dan langsung memutar Soo Yeon sehingga menghadap ke arahnya dan tiduran
di pangkuannya. Soo Yeon kaget melihat sikap Jung Woo yang tiba-tiba seperti
itu. Bukankah tadi katanya Jung Woo akan pergi menemui ayahnya? Jung Woo
menjawab kalau tadi ia sudah keluar rumah, tapi ia kembali lagi, ia akan pergi
besok saja. Soo Yeon ingin tahu bagaimana Jung Woo dibesarkan selama ini. Jung
woo bercerita kalau ia sudah mandiri di amerika sejak usia 8 th. Soo Yeon jadi
iba, tetapi ia suka kalau ia bisa menghiburnya. Ia menarik Jung woo bangun,
memaksanya untuk menemui ortunya. Dan jika memang terjadi sesuatu yang buruk, “datanglah
padaku. Banyak yang sudah menunggumu di sini. Ibu, Eun Joo, Senior. Dan aku tak
perlu disebut, pasti aku selalu menunggumu.”

Joon masuk ke rumah kecil tempat persembunyiannya
dulu waktu kecil, dan mengunci dengan gembok. Ia tampak ketakutan. Ia menelpon
Tae Joon, ia akan mengembalikan uang Tae Joon asal Tae Joon membawa Soo Yeon ke
hadapannya secara langsung, tak peduli gimana caranya. Tae Joon kesal dan
tambah kesal saat melihat surat cerai dari Mi Ran yang sudah di stempel. Ia meremas
surat itu.

Jung Woo menemui Mi Ran dulu. Mi Ran menyesali
semua yang telah ia lakukan. Mulanya ia menikahi Tae Joon bukan karena uang. Ia
pun juga awalnya berniat memperlakukan Jung Woo dengan baik. Ia tak tahu
bagaimana ia bisa seperti ini. Ia juga merasa sangat menyesal pada Soo Yeon.
Jung Woo mengatakan walau Mi Ran baru mengatakannya sekarang, tapi ia tetap
berterima kasih. Mi Ran mengungkapkan ketakutan akan nasibnya dan Ah Reum
nanti. Karena walau ia memutuskan untuk bercerai dengan Tae Joon, tapi ia tetap
takut pada Tae Joon dan Joon. Jung Woo menenangkan Mi Ran dan memintanya
menceritakan hubungan Kang Hyun Joo dan Kang Hyung Joon sehingga terlibat
dengan masalah ayahnya. Ia dapat menduga kalau masalah ayahnya hingga dipenjara
15 tahun yang lalu karena masalah dana illegal. Ia juga merasa karena uanglah,
Kang Hyun Joo menculiknya. Tapi ia tak mengerti mengapa ayahnya tega
merusak kaki Joon seperti itu. Mi Ran ketakutan mendengar pertanyaan itu, dan
meminta Jung Woo untuk tak menangkapnya jika ia menceritakan rahasia ini. Tak
lama kemudian Jung Woo pun keluar dari kamar Mi Ran dengan wajah shock.
Tae Joon mencoret nama Mi Ran dan Ah Reum dari
semua aset yang dia miliki, karena tak ada alasan untuk memberi mereka uang
jika mereka ingin meninggalkan rumah ini. Saat Jung Woo datang, Tae Joon
mengusirnya, tapi Jung Woo tak mau. Ia terus bicara walau Tae Joon menyuruhnya
diam. Ia mengungkapkan segala perbuatan Tae Joon pada Joon yang didengarnya
dari Mi Ran, “Dan setelah itu, orang itu masih tetap hidup tanpa merasa
bersalah sedikitpun. Tak peduli kalau anaknya diculik, atau pacar anaknya
diperkosa, orang itu tetap memikirkan uang. Hanya uang.. uang! Hanya uang yang
dipikirkan!” Tae Joon menampar anaknya. 2 kali. “Apakah ayah itu manusia? Apakah
aku ini manusia? Ayah, sangat memalukan menjadi anak Ayah…”

Joon berbaring tanpa alas di rumah kecil itu dan
teringat saat Soo Yeon memanggil2 saat ia kecil dari teralis. Ia melihat ke
teralis dan seakan melihat Soo Yeon kecil tersenyum dan tanya apa dia sudah
makan? Tiba2 Soo Yeon menghilang (dulu dia ditarik perawat Jang dan dimarahi di
luar), tapi Joon mengira kalau Soo Yeon pergi karena takut dan itu membuatnya panic.
Ia keluar dari ruangan itu dan ke rumah Soo Yeon, tapi Soo Yeon tidak muncul,
malah ada mobil polisi dan ia pun pergi. Sementara itu, Soo Yeon menunggu kedatangan Jung woo dan
hpnya berbunyi. Jung Woo berkata, “Bogosippo,” dan Soo Yeon ingat kata ibu,
kalau Jung Woo berkata begitu, pasti dia sedang ada masalah/sedih. Soo Yeon
menyuruh Jung Woo untuk segera datang ke rumahnya, “Laki-laki harus lari datang
menemui jika memang benar-benar rindu. Bangkitlah sekarang. Aku akan menghitung
sampai hitungan ketiga.” Ia juga memesan ayam panggang utuh. Sampai di rumah, Jung Woo melihat Soo Yeon duduk
diluar menulis ‘bogosipda’ di dinding, lalu Soo Yeon mengajaknya ke taman
bermain.

Di butik, Mi Ran menemui Soo Yeon, tetapi bukan untuk meminta maaf, malah seperti tidak terjadi apa2. Ah Reum jadi kesal dan dialah yang membereskan segalanya, ia juga ternyata adl fans berat Soo Yeon. Di ruang kerjanya, Soo Yeon berpikir keras sambil menggenggam sebuah kotak, "Ah, tidak masalah cewek yang duluan..." Tiba2 Jung Woo masuk dan Soo Yeon menyembunyikan kotak itu. Jung Woo mengeluarkan payung kuning dan berkata kalau dia gemetaran saat menuliskan tag di gagang payung itu. Perasaannya saat itu
sangat bahagia, karena ia tahu jika orang memberikan satu-satunya payung yang
dibawa saat hari hujan sama dengan memberikan semua yang dimiliki, “Kita harus
mengajarkan hal ini pada anak-anak kita saat mereka lahir.”Soo Yeon terbelalak mendengar kata-kata Jung Woo.
Apalagi setelah itu Jung Woo berlutut di hadapannya dan berkata, “Lee Soo Yeon, satu-satunya pacar si kelinci
gila. Cinta pertama Han Jung Woo,” Jung Woo mengeluarkan sebuah kotak dan
berisi sebuah cincin di dalamnya. “menikahlah denganku pada musim dingin
berikutnya, di hari pertama turunnya salju.” (jiah romantis!) Soo Yeon
tersenyum dan ia ingin hari turunnya salju pertama itu segera datang. Jung Woo
memasukkan cincin itu ke jari manisnya.


Saat Jung Woo mau mencium, Soo Yeon menahan dan
setelah menenangkan dirinya, ia memberikan kotak yang disembunyikannya. Jung
Woo kaget mendapatkan kotak itu dan waktu dibuka, ternyata ada sepasang cincin,
bukan cincin lamaran tapi cincin pernikahan! Jung Woo melongo menatap Soo Yeon
yang salah tingkah. Soo Yeon buru2 memeluk Jung Woo, menyembunyikan wajah
malunya. Tiba2 ‘istri pertama’ Jung Woo, Senior, datang dan mengetahui rencana
pernikahan itu, ia mengerang sambil memegang perut ‘aigoo, perutku…perutku…”
Mereka melepas pelukan, lalu Jung Woo memamerkan cincin pernikahan dari Soo
Yeon, “Hyung, Soo Yeon melamarku. Eotteoke?” Soo Yeon langsung menarik kotak
cincin itu dan menyembunyikannya dengan wajah malu. Senior mengajak Jung Woo
untuk segera mencari Joon. Sebelum pergi, Jung woo memberikan sebuah benda pada
Soo Yeon yang harus tetap dibawa kemanapun Soo Yeon pergi (mungkin gps).

Soo Yeon menemui Sekt. Yoon alias Harry Borison
yang asli di ruang investigasi, menanyakan dimana Joon bersembunyi, tapi Yoon
tak mau memberitaku, ia tidak seperti Soo Yeon yang meninggalkan Joon. Soo yeon
membalik kata2 itu, bagaimana kalau sekarang Joon-lah yang sudah meninggalkan
Yoon? Yoon mengira Soo Yeon menanyakan hal ini karena disuruh oleh Jung Woo
yang ingin mengetahui letak persembunyian Joon. Tapi Soo Yeon berkata kalau ia
melakukan hal ini atas inisiatif sendiri, tak seperti Yoon. Dan ia juga tak
membunuh orang karena ia telah dipukuli oleh orang tuanya. Itulah perbedaan Yoon
dengan dirinya. “Apa gunanya mendapat kebebasan dengan cara kekerasan?
Joon mengatakan kalau dengan kekerasan kau akan bebas. Tapi bukan itu saja. Ia
bahkan membuatmu menjadi seorang pembunuh. Dan setelah itu, ia pergi
meninggalkanmu.” Yoon berteriak histeris, kalau Joon tidak akan meninggalkannya,
Joon akan menyelamatkannya!

Sementara itu Jung Woo dkk berpencar mencari Joon
di lokasi rumah lama Soo Yeon. Jung Woo mendatangi rumah tempat persembunyian
Joon waktu kecil dulu yang digembok. Ia mendobrak dan masuk. Di dalam tidak ada
siapapun, hanya ada gambar crayon tapi bukan ibu gandengan sama anak lagi,
melainkan menggandeng anak perempuan berambut panjang yang tingginya tak jauh
beda dengannya. Obsesi Joon berubah, dari ibunya ke Soo Yeon. Lalu terdengar
suara kaki pincang mendekati rumah. Jung Woo berdiam diri menduga kalau Joon
akan masuk, tetapi pintu malah dikunci dari luar. Dari teralis, Jung Woo
menyuruh Joon membuka pintu dan mengingatkan bagaimana dulu Jung Woo
menyelamatkan Joon waktu kebakaran. Joon tentu ingat, itulah sebabnya sejak
awal ia tak pernah membenci Jung Woo. Joon minta dipertemukan dengan Soo Yeon,
Jung Woo menjawab kalau Joon bisa menemuinya kalau Joon mengikutinya. Lalu Joon
menyadari sesuatu, Jung Woo sekarang tidak memanggilnya ‘bocah’ lagi. Ini
berarti mereka sebenarnya tidak saling kenal dan semua ini karena Tae Joon.
Tapi Jung Woo meminta Joon untuk tidak menyalahkan siapapun. “bocah, paman, ayo
kita pergi bersama..”




Tiba2 seseorang mengetuk jendela mobilnya, memberikan sebuah bungkusan
padanya dan ia memberikan uang pada orang itu. Isinya ternyata sebuah pistol.


Senior menjaga Soo Yeon di butik, telpon2an dengan Jung Woo, menyuruh
untuk mencari di rumah sakit kecil, karena tak mungkin Joon ke rumah sakit
besar. Soo Yeon yang mendengarnya jadi cemas dan tertusuk jarum hingga
berdarah. Lalu hpnya bunyi dari nomor tak dikenal. Senior menyuruh untuk
mengangkat, siapa tahu Joon, tapi ternyata Han Tae Joon yang meminta untuk
bertemu dan sedang berada di depan butik. Senior menelpon temannya untuk
memastikan apakah Tae Joon benar di depan butik dan ternyata benar. senior
meminta Soo Yeon menemui Tae Joon dan para polisi akan menguntit mobil Tae Joon
sehingga mereka bisa menangkap Joon. Soo Yeon menelpon Jung Woo memberitahu ttg
Tae Joon yang mau bertemu dan ide Senior. Jung Woo khawatir karena sekarang Tae
Joon sudah tidak berguna lagi bagi Joon dan target berikutnya pasti Soo Yeon,
tapi Soo Yeon menenangkan karena Joon sedang terluka, tidak akan terjadi apa2.

Soo Yeon mendatangi mobil Tae Joon, mengajaknya ngobrol di butik saja,
tapi Tae Joon menolak. Soo Yeon pun masuk ke mobil, Senior membuntuti dari
belakang. Tae Joon memuji keberanian Soo Yeon yang mau mengikutinya padahal
sudah tahu siapa yang akan ditemuinya. Soo Yeon memperingatkan, jika Tae Joon
tidak berhenti sekarang, maka Jung Woo tidak akan pernah mengakui ayahnya
selamanya, tapi Tae Joon yakin kalau hubungan ayah-anak tidak akan mudah putus,
seperti Soo Yeon sendiri yang tetap mengakui ayahnya yang jahat. Tapi Soo Yeon
berkata, “Saat aku menaburkan abunya, aku menangis. Tapi bukan menangis sedih melainkan
menangis karena aku merasa hidup kembali. Apakah anda ingin Jung Woo memiliki
perasaan sepertiku?”

Soo Yeon menutup mantelnya lebih rapat, agar kotak GPS yang diberikan
Jung Woo tadi siang tak terlihat. Tae Joon melirik spionnya untuk melihat mobil
Senior yang membuntutinya dan tersenyum. Ia berkata kalau Joon dan Soo Yeon
menghilang, maka semuanya (hubungannya dengan Jung Woo) akan kembali normal. Soo
Yeon bertanya berapa banyak Joon membayar Tae Joon untuk melakukan hal ini? Ia
kasihan pada Jung Woo (karena memiliki ayah seperti Tae Joon), tapi tahukah Tae
Joon kalau Jung Woo merasa kasihan pada ayahnya, “Sekali saja, demi Jung Woo.
Hentikanlah semua ini.” Tapi Tae Joon tak berniat untuk berhenti. Di pertigaan,
ia membelok cepat, dan sebuah truk langsung memotong mobil Detektif Joo dan
berhenti di depannya, sehingga Senior langsung kehilangan mobil Tae Joon.
Saat mobil Tae Joon ditemukan, Soo Yeon sudah menghilang. Hanya ada Tae Joon
yang diam dan tersenyum kecil. Usahanya berhasil, dan itu berarti uang. Senior
langsung menyuruh rekannya untuk menangkap Tae Joon. Truk yang tadi menghalangi
mobilnya, diduga adalah anak buah Tae Joon dan juga segera ditangkap.

Jung Woo melacak kepergian Soo Yeon melalui GPS, dan memberitahu
seniornya kalau ia sudah menemukan arah kepergian Soo Yeon. Ternyata GPS
membawa Jung Woo ke gudang tua. Gudang tempat ia dulu disekap. Rintihan Soo
Yeon kembali terngiang di telinganya, memohon agar Jung Woo tak
meninggalkannya. Di depan pintu, Jung Woo mengambil nafas panjang dan dalam
pikirannya ia berkata pada Soo Yeon, “Ribuan kali aku bermimpi tentang hal ini.
Untuk menyelamatkanmu, kembali ke tempat ini. Soo Yeon ah..”
Dan ia pun membuka pintu gudang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar