Quotes

"Write is my World"

Kamis, 09 Mei 2013

I Miss You Episode 20


Joon menyeringai tipis sambil memasang earphone dan turun dari sepeda. Lalu ada beberapa mobil hitam datang mengepungnya, tetapi bukan polisi yang akan menangkapnya, melainkan orang2 suruhannya untuk menghabisi Jung Woo dengan tongkat di tangan mereka. Jung Woo mengunci mobil dari dalam dan menyuruh Soo Yeon untuk berpegangan erat. Hp Jung Woo bunyi, telpon dari Joon. Ia me-loudspeaker, menuduh Joon nggak berani duel, beraninya main keroyok. Tetapi Joon tidak perlu berkelahi, “Aku hanya ingin mengambil Zoey.” Soo Yoen ketakutan. Joon mengajak Soo Yeon mulai lagi dari awal seperti 14 th lalu. Jung Woo berkata, kalau Joon ingin mengambil hati Soo Yeon kembali, dia harusnya minta maaf karena membuat Soo Yeon sebagai tersangka, bukannya membawa preman. Tapi Joon malah berkata kalau preman2 ini adalah orang suruhan Han Tae Joon dan ia mengejek, kalau ayah Jung Woo tidak pernah peduli anaknya hidup atau mati, ia hanya peduli uangnya. Jadi apa Jung Woo masih kasihan pada ayahnya? Apa Jung Woo tega memborgol tangan ayahnya sendiri? Tapi Jung Woo adl detektif yang menegakkan keadilan, jika ayahnya memang melakukan kejahatan, tetap harus dihukum.
 
Joon mengajak Soo Yeon keluar, tapi Soo Yeon tak mau, lagi pula ia bukanlah Zoey. Lalu Joon menyuruh preman2 itu untuk mengeluarkan Soo Yeon dari mobil. Mereka mengepung dan membuka paksa pintu. Ada juga yang memukul kaca hingga retak. Jung Woo memeluk Soo Yeon, melindungi dari pecahan kaca. Ia melihat Joon yang tampak tenang saja melihat Soo Yeon ketakutan. Jung Woo melarikan mobilnya hingga beberapa preman yang memanjat2 mobil berjatuhan. Tapi mereka tetap di kejar. Untung polisi datang. Soo Yeon menyuruh Jung Woo mengejar Joon saja, sementara dia ditemani satu polisi. Jung Woo dan para polisi pun menghajar para preman, tetapi mereka kehilangan Joon.
Ternyata Joon mendatangi mobil Soo Yeon dengan sepedanya. Ia mau membuka pintu, tapi pintu terkunci dan Soo Yeon yang ada di dalamnya terkejut ketakutan. Polisi yang duduk di samping Soo Yeon tidak tahu kalau pria itu adl penjahat buronan, membuka kaca jendela dan tanya ada apa. Soo Yeon ketakutan dan menahan jendela itu agar tidak turun sambil memohon ‘jangan…jangan..’ Ia menyuruh Joon pergi. Waktu itu Jung Woo kembali dan berteriak memanggil polisi untuk menahannya, tapi Joon yang melihat Jung woo, segera kabur. Jung Woo berhasil menarik ransel Joon, tetapi ada satu mobil preman datang hingga Joon bisa lolos, masuk ke mobilnya sendiri. Isi ransel Joon di periksa, isinya hp, foto dan 2 usb. Senior Jung Woo melapor kalau mereka sudah menemukan barang bukti di dalam rumah Joon, di bawah bathup. Sambil mengamati foto Harry-Zoey, Jung Woo menyimpulkan kalau obsesi Joon bukanlah ibunya, melainkan Soo Yeon. Jadi kecil kemungkinan Joon akan menyerah.
Di rumah, Soo Yeon dan ibu ngobrol. Soo Yeon memengang kaki ibu yang tertutup kaus kaki, pasti kaki ibu banyak lukanya, karena sering kabur tanpa alas kaki. Ibu jadi teringat waktu suaminya selalu memukulinya. Soo Yeon pun selalu teringat saat ia diinjak2 ayahnya, bahkan lebih ingat kenangan buruk itu dibanding trauma waktu diculik dulu.Ibu menangisi nasib putrinya yang sudah banyak menderita dan jadi korban. Soo Yeon menghibur, ia menceritakan ini bukan untuk membuat ibu menangis, “Bahkan setelah semua yang terjadi, Jung Woo malah berterima kasih padaku karena aku tetap hidup. Ia berterima kasih padaku karena membuatnya tetap menunggu.” Saat itu Jung Woo keluar dari kamar dan hendak masuk ke kamar Soo Yeon saat mendengar Soo Yeon berkata kalau Jung Woo sangat menjaga ibu dan ibu mengakui Jung Woo sebagai putranya. Jung Woo tersenyum mendengar pujian itu, tetapi senyumnya memudar saat ibu membicarakan keluarga kandung Jung woo yang tidak melihat betapa berharganya Jung Woo, malah menyingkirkannya. Jung Woo pun tak jadi masuk.
 

 Saat Soo Yeon duduk bersila di depan meja, Jung Woo masuk dan langsung memutar Soo Yeon sehingga menghadap ke arahnya dan tiduran di pangkuannya. Soo Yeon kaget melihat sikap Jung Woo yang tiba-tiba seperti itu. Bukankah tadi katanya  Jung Woo akan pergi menemui ayahnya? Jung Woo menjawab kalau tadi ia sudah keluar rumah, tapi ia kembali lagi, ia akan pergi besok saja. Soo Yeon ingin tahu bagaimana Jung Woo dibesarkan selama ini. Jung woo bercerita kalau ia sudah mandiri di amerika sejak usia 8 th. Soo Yeon jadi iba, tetapi ia suka kalau ia bisa menghiburnya. Ia menarik Jung woo bangun, memaksanya untuk menemui ortunya. Dan jika memang terjadi sesuatu yang buruk, “datanglah padaku. Banyak yang sudah menunggumu di sini. Ibu, Eun Joo, Senior. Dan aku tak perlu disebut, pasti aku selalu menunggumu.”
 
Joon masuk ke rumah kecil tempat persembunyiannya dulu waktu kecil, dan mengunci dengan gembok. Ia tampak ketakutan. Ia menelpon Tae Joon, ia akan mengembalikan uang Tae Joon asal Tae Joon membawa Soo Yeon ke hadapannya secara langsung, tak peduli gimana caranya. Tae Joon kesal dan tambah kesal saat melihat surat cerai dari Mi Ran yang sudah di stempel. Ia meremas surat itu.
Jung Woo menemui Mi Ran dulu. Mi Ran menyesali semua yang telah ia lakukan. Mulanya ia menikahi Tae Joon bukan karena uang. Ia pun juga awalnya berniat memperlakukan Jung Woo dengan baik. Ia tak tahu bagaimana ia bisa seperti ini. Ia juga merasa sangat menyesal pada Soo Yeon. Jung Woo mengatakan walau Mi Ran baru mengatakannya sekarang, tapi ia tetap berterima kasih. Mi Ran mengungkapkan ketakutan akan nasibnya dan Ah Reum nanti. Karena walau ia memutuskan untuk bercerai dengan Tae Joon, tapi ia tetap takut pada Tae Joon dan Joon. Jung Woo menenangkan Mi Ran dan memintanya menceritakan hubungan Kang Hyun Joo dan Kang Hyung Joon sehingga terlibat dengan masalah ayahnya. Ia dapat menduga kalau masalah ayahnya hingga dipenjara 15 tahun yang lalu karena masalah dana illegal. Ia juga merasa karena uanglah, Kang Hyun Joo menculiknya. Tapi ia tak mengerti mengapa  ayahnya tega merusak kaki Joon seperti itu. Mi Ran ketakutan mendengar pertanyaan itu, dan meminta Jung Woo untuk tak menangkapnya jika ia menceritakan rahasia ini. Tak lama kemudian Jung Woo pun keluar dari kamar Mi Ran dengan wajah shock.
 
Tae Joon mencoret nama Mi Ran dan Ah Reum dari semua aset yang dia miliki, karena tak ada alasan untuk memberi mereka uang jika mereka ingin meninggalkan rumah ini. Saat Jung Woo datang, Tae Joon mengusirnya, tapi Jung Woo tak mau. Ia terus bicara walau Tae Joon menyuruhnya diam. Ia mengungkapkan segala perbuatan Tae Joon pada Joon yang didengarnya dari Mi Ran, “Dan setelah itu, orang itu masih tetap hidup tanpa merasa bersalah sedikitpun. Tak peduli kalau anaknya diculik, atau pacar anaknya diperkosa, orang itu tetap memikirkan uang. Hanya uang.. uang! Hanya uang yang dipikirkan!” Tae Joon menampar anaknya. 2 kali. “Apakah ayah itu manusia? Apakah aku ini manusia? Ayah, sangat memalukan menjadi anak Ayah…”
Joon berbaring tanpa alas di rumah kecil itu dan teringat saat Soo Yeon memanggil2 saat ia kecil dari teralis. Ia melihat ke teralis dan seakan melihat Soo Yeon kecil tersenyum dan tanya apa dia sudah makan? Tiba2 Soo Yeon menghilang (dulu dia ditarik perawat Jang dan dimarahi di luar), tapi Joon mengira kalau Soo Yeon pergi karena takut dan itu membuatnya panic. Ia keluar dari ruangan itu dan ke rumah Soo Yeon, tapi Soo Yeon tidak muncul, malah ada mobil polisi dan ia pun pergi. Sementara itu,  Soo Yeon menunggu kedatangan Jung woo dan hpnya berbunyi. Jung Woo berkata, “Bogosippo,” dan Soo Yeon ingat kata ibu, kalau Jung Woo berkata begitu, pasti dia sedang ada masalah/sedih. Soo Yeon menyuruh Jung Woo untuk segera datang ke rumahnya, “Laki-laki harus lari datang menemui jika memang benar-benar rindu. Bangkitlah sekarang. Aku akan menghitung sampai hitungan ketiga.” Ia juga memesan ayam panggang utuh. Sampai di rumah, Jung Woo melihat Soo Yeon duduk diluar menulis ‘bogosipda’ di dinding, lalu Soo Yeon mengajaknya ke taman bermain.

Di butik, Mi Ran menemui Soo Yeon, tetapi bukan untuk meminta maaf, malah seperti tidak terjadi apa2. Ah Reum jadi kesal dan dialah yang membereskan segalanya, ia juga ternyata adl fans berat Soo Yeon. Di ruang kerjanya, Soo Yeon berpikir keras sambil menggenggam sebuah kotak, "Ah, tidak masalah cewek yang duluan..." Tiba2 Jung Woo masuk dan Soo Yeon menyembunyikan kotak itu. Jung Woo mengeluarkan payung kuning dan berkata kalau dia gemetaran saat menuliskan tag di gagang payung itu. Perasaannya saat itu sangat bahagia, karena ia tahu jika orang memberikan satu-satunya payung yang dibawa saat hari hujan sama dengan memberikan semua yang dimiliki, “Kita harus mengajarkan hal ini pada anak-anak kita saat mereka lahir.”Soo Yeon terbelalak mendengar kata-kata Jung Woo. Apalagi setelah itu Jung Woo berlutut di hadapannya dan berkata, “Lee Soo Yeon, satu-satunya pacar si kelinci gila. Cinta pertama Han Jung Woo,” Jung Woo mengeluarkan sebuah kotak dan berisi sebuah cincin di dalamnya. “menikahlah denganku pada musim dingin berikutnya, di hari pertama turunnya salju.” (jiah romantis!) Soo Yeon tersenyum dan ia ingin hari turunnya salju pertama itu segera datang. Jung Woo memasukkan cincin itu ke jari manisnya.
Saat Jung Woo mau mencium, Soo Yeon menahan dan setelah menenangkan dirinya, ia memberikan kotak yang disembunyikannya. Jung Woo kaget mendapatkan kotak itu dan waktu dibuka, ternyata ada sepasang cincin, bukan cincin lamaran tapi cincin pernikahan! Jung Woo melongo menatap Soo Yeon yang salah tingkah. Soo Yeon buru2 memeluk Jung Woo, menyembunyikan wajah malunya. Tiba2 ‘istri pertama’ Jung Woo, Senior, datang dan mengetahui rencana pernikahan itu, ia mengerang sambil memegang perut ‘aigoo, perutku…perutku…” Mereka melepas pelukan, lalu Jung Woo memamerkan cincin pernikahan dari Soo Yeon, “Hyung, Soo Yeon melamarku. Eotteoke?” Soo Yeon langsung menarik kotak cincin itu dan menyembunyikannya dengan wajah malu. Senior mengajak Jung Woo untuk segera mencari Joon. Sebelum pergi, Jung woo memberikan sebuah benda pada Soo Yeon yang harus tetap dibawa kemanapun Soo Yeon pergi (mungkin gps).


Soo Yeon menemui Sekt. Yoon alias Harry Borison yang asli di ruang investigasi, menanyakan dimana Joon bersembunyi, tapi Yoon tak mau memberitaku, ia tidak seperti Soo Yeon yang meninggalkan Joon. Soo yeon membalik kata2 itu, bagaimana kalau sekarang Joon-lah yang sudah meninggalkan Yoon? Yoon mengira Soo Yeon menanyakan hal ini karena disuruh oleh Jung Woo yang ingin mengetahui letak persembunyian Joon. Tapi Soo Yeon berkata kalau ia melakukan hal ini atas inisiatif sendiri, tak seperti Yoon. Dan ia juga tak membunuh orang karena ia telah dipukuli oleh orang tuanya. Itulah perbedaan Yoon dengan dirinya. “Apa gunanya mendapat kebebasan dengan cara kekerasan? Joon mengatakan kalau dengan kekerasan kau akan bebas. Tapi bukan itu saja. Ia bahkan membuatmu menjadi seorang pembunuh. Dan setelah itu, ia pergi meninggalkanmu.” Yoon berteriak histeris, kalau Joon tidak akan meninggalkannya, Joon akan menyelamatkannya!
 
Sementara itu Jung Woo dkk berpencar mencari Joon di lokasi rumah lama Soo Yeon. Jung Woo mendatangi rumah tempat persembunyian Joon waktu kecil dulu yang digembok. Ia mendobrak dan masuk. Di dalam tidak ada siapapun, hanya ada gambar crayon tapi bukan ibu gandengan sama anak lagi, melainkan menggandeng anak perempuan berambut panjang yang tingginya tak jauh beda dengannya. Obsesi Joon berubah, dari ibunya ke Soo Yeon. Lalu terdengar suara kaki pincang mendekati rumah. Jung Woo berdiam diri menduga kalau Joon akan masuk, tetapi pintu malah dikunci dari luar. Dari teralis, Jung Woo menyuruh Joon membuka pintu dan mengingatkan bagaimana dulu Jung Woo menyelamatkan Joon waktu kebakaran. Joon tentu ingat, itulah sebabnya sejak awal ia tak pernah membenci Jung Woo. Joon minta dipertemukan dengan Soo Yeon, Jung Woo menjawab kalau Joon bisa menemuinya kalau Joon mengikutinya. Lalu Joon menyadari sesuatu, Jung Woo sekarang tidak memanggilnya ‘bocah’ lagi. Ini berarti mereka sebenarnya tidak saling kenal dan semua ini karena Tae Joon. Tapi Jung Woo meminta Joon untuk tidak menyalahkan siapapun. “bocah, paman, ayo kita pergi bersama..”
Joon menggeram marah dan menutup jendela dari luar. Mengetahui kalau Joon kabur, Jung Woo mendobrak pintu hingga 3 kali baru terbuka. Bersama atasan dan 2 teman, mereka mengejar Joon dengan berdasarkan suara langkah kaki pincang. Mereka menemukan Joon berjalan ke dekat mobilnya dan mereka mengacungkan pistol. Jung Woo tak ingin mereka menembak Joon, menghentikan mereka. Tetapi karena tak ingin kabur semakin jauh, Atasan menembak kaki Joon. Tapi Joon tetap bisa kabur dengan mobilnya walau dengan kaki berdarah2.
Di tempat sepi, ia menatap tangan yang penuh darah, tertawa dan menangis bersamaan seperti orang gila dan teringat saat bersama Soo Yeon di perancis. Ia membawa botol anggur dan mengajak Soo Yeon yang lagi mengerjakan peer untuk minum, tapi Soo Yeon menolak dan mengusir Joon karena perawat Jang bisa ngomel kalau Joon masuk kamarnya. Joon lalu bertanya apa Soo Yeon bermimpi buruk lagi, dan siapa orang di dalam mimpi itu? Soo Yeon berkata kalau ia tak tahu siapa orang itu, namanya juga mimpi. Joon berkata kalau dia punya 6 monster di mimpinya dan monster2 itu berusaha memberitahu rahasianya pada Soo Yeon. Soo Yeon pun penasaran. Joon menaruh telunjuk di bibir, mendekat dan berbisik, “Itu… rahasia.” Mereka pun bergulat dengan selimut.
Tiba2 seseorang mengetuk jendela mobilnya, memberikan sebuah bungkusan padanya dan ia memberikan uang pada orang itu. Isinya ternyata sebuah pistol.


Senior menjaga Soo Yeon di butik, telpon2an dengan Jung Woo, menyuruh untuk mencari di rumah sakit kecil, karena tak mungkin Joon ke rumah sakit besar. Soo Yeon yang mendengarnya jadi cemas dan tertusuk jarum hingga berdarah. Lalu hpnya bunyi dari nomor tak dikenal. Senior menyuruh untuk mengangkat, siapa tahu Joon, tapi ternyata Han Tae Joon yang meminta untuk bertemu dan sedang berada di depan butik. Senior menelpon temannya untuk memastikan apakah Tae Joon benar di depan butik dan ternyata benar. senior meminta Soo Yeon menemui Tae Joon dan para polisi akan menguntit mobil Tae Joon sehingga mereka bisa menangkap Joon. Soo Yeon menelpon Jung Woo memberitahu ttg Tae Joon yang mau bertemu dan ide Senior. Jung Woo khawatir karena sekarang Tae Joon sudah tidak berguna lagi bagi Joon dan target berikutnya pasti Soo Yeon, tapi Soo Yeon menenangkan karena Joon sedang terluka, tidak akan terjadi apa2.
 
Soo Yeon mendatangi mobil Tae Joon, mengajaknya ngobrol di butik saja, tapi Tae Joon menolak. Soo Yeon pun masuk ke mobil, Senior membuntuti dari belakang. Tae Joon memuji keberanian Soo Yeon yang mau mengikutinya padahal sudah tahu siapa yang akan ditemuinya. Soo Yeon memperingatkan, jika Tae Joon tidak berhenti sekarang, maka Jung Woo tidak akan pernah mengakui ayahnya selamanya, tapi Tae Joon yakin kalau hubungan ayah-anak tidak akan mudah putus, seperti Soo Yeon sendiri yang tetap mengakui ayahnya yang jahat. Tapi Soo Yeon berkata, “Saat aku menaburkan abunya, aku menangis. Tapi bukan menangis sedih melainkan menangis karena aku merasa hidup kembali. Apakah anda ingin Jung Woo memiliki perasaan sepertiku?”
 
Soo Yeon menutup mantelnya lebih rapat, agar kotak GPS yang diberikan Jung Woo tadi siang tak terlihat. Tae Joon melirik spionnya untuk melihat mobil Senior yang membuntutinya dan tersenyum. Ia berkata kalau Joon dan Soo Yeon menghilang, maka semuanya (hubungannya dengan Jung Woo) akan kembali normal. Soo Yeon bertanya berapa banyak Joon membayar Tae Joon untuk melakukan hal ini? Ia kasihan pada Jung Woo (karena memiliki ayah seperti Tae Joon), tapi tahukah Tae Joon kalau Jung Woo merasa kasihan pada ayahnya, “Sekali saja, demi Jung Woo. Hentikanlah semua ini.” Tapi Tae Joon tak berniat untuk berhenti. Di pertigaan, ia membelok cepat, dan sebuah truk langsung memotong mobil Detektif Joo dan berhenti di depannya, sehingga Senior langsung kehilangan mobil Tae Joon.  Saat mobil Tae Joon ditemukan, Soo Yeon sudah menghilang. Hanya ada Tae Joon yang diam dan tersenyum kecil. Usahanya berhasil, dan itu berarti uang. Senior langsung menyuruh rekannya untuk menangkap Tae Joon. Truk yang tadi menghalangi mobilnya, diduga adalah anak buah Tae Joon dan juga segera ditangkap.
 

Jung Woo melacak kepergian Soo Yeon melalui GPS, dan memberitahu seniornya kalau ia sudah menemukan arah kepergian Soo Yeon. Ternyata GPS membawa Jung Woo ke gudang tua. Gudang tempat ia dulu disekap. Rintihan Soo Yeon kembali terngiang di telinganya, memohon agar Jung Woo tak meninggalkannya. Di depan pintu, Jung Woo mengambil nafas panjang dan dalam pikirannya ia berkata pada Soo Yeon, “Ribuan kali aku bermimpi tentang hal ini. Untuk menyelamatkanmu, kembali ke tempat ini. Soo Yeon ah..”
Dan ia pun membuka pintu gudang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar