Quotes

"Write is my World"

Rabu, 16 Januari 2013

I Miss You Episode 1-4


Lee Soo Yeon baru pulang dari sekolah. Ia langsung dipukuli o/ayahnya yg mabuk, sementara ibunya hanya bisa mengintip dari jendela luar dengan gemetar. tak lama kemudian, Detektif Kim datang menangkap ayah yg dituduh sbg pembunuh tetangganya. Sejak saat itu keluarga Soo Yeon terkucilkan.
Sementara itu di Amrik, Han Jung Woo yg merupakan atlit futbol, diam2 pulang ke Korea karena mencemaskan papanya yg dikabarkan sakit. Saat perjalanan ke RS, ia melihat seorang gadis dengan rambut panjang yg menutupi wajah (kalo malem, jadi kayak hantu). Itu Soo Yeon, menunggu mayat ayahnya yg dihukum mati dan dikremasi. Ia dan Ibu membuang abu di sungai.


Han Tae Joon, papanya Jung Woo sudah sembuh. Ia datang kerumah ayahnya (kakek Jung Woo), menghentikan pengobatan si kakek dan memaksa istri muda kakek u/menyerahkan warisan, tapi wanita itu tdk mau. Tae Joon mengancam dg akan mencelakakan anak wanita itu, tapi rupanya si anak, Kang Hyung Joon, sudah kabur dengan kaki yg terluka cukup parah. Dikalungnya ada bandul bulat berwarna hitam. Si ibu disekap di RSJ, lalu ada seorang perawat masuk dan membasahi celana ibu itu dengan air pipis sehingga para pengawal terpaksa keluar. Rupanya mereka kerjasama, Joon ada di rumah perawat itu.



Jung Woo tidak bisa tidur. Ia jalan2 keluar dan mendengar suara ayunan. Ia sempat takut kalo ada hantu, tapi rupanya yg duduk di ayunan adl gadis di RS tadi siang. Ia pun menghampiri, tapi gadis itu diam saja, malah pergi. sebelumnya Jung Woo sempat melihat papan namanya, dan memanggilnya “Lee Soo Yeon!” Soo Yeon berhenti mendadak, lalu kembali. Tiba2 hujan, Jung Woo berlindung di bawah perosotan, mengajak Soo Yeon berteduh, tapi Soo Yeon pergi, ia menyuruh Jung Woo tunggu sebentar. Dirumah, ia mengambil payung warna kuning sambil berceloteh riang, bahwa ada anak yg memanggilnya dg nama, bukan dg nomor absen. Ia pun kembali memberikan payung itu, “Pakai ini supaya kau tidak basah. Aku sudah terlanjur basah, tidak apa2.” Jung Woo pulang membawa payung itu, tiba2 angin merusaknya, ia pun jadi basah juga, tapi ia tersenyum senang. Besoknya Jung Woo mau mengembalikan, tapi kakeknya meninggal, sementara Soo Yeon pergi ke taman bermain dg riang. Tiba2 jendela tetangganya pecah, ada mangkok besi yg digunakan u/melempar kaca. Soo Yeon mengintip, ada anak berambut panjang didalam. Lalu ia pun pergi ke taman dan menunggu Jung Woo sampai malam. Saat pulang, ia mengintip tetangganya lagi, anak itu tampak kesakitan. Soo Yeon cemas, tapi tak lama kemudian ada wanita yg masuk ke rumah itu, jadi dia pun lega.


Jung Woo memutuskan menetap dikorea. Ia masuk kesekolah yg sama dg Soo Yeon, tapi keanehan terjadi. tidak ada murid yg mengenal nama Lee Soo Yeon. Lalu waktu melewati ruang memasak, semua murid berdiri di luar. Guru memarahi mereka, tapi mereka tak mau masuk, “Ada si nomor 27. Dia anak pembunuh, nanti kami juga bisa dibunuh!” Jung Woo terkejut saat mengetahui siapa si nomor 27 itu. Soo Yeon keluar dari ruang, semua murid pun masuk. Soo Yeon kaget melihat Jung Woo. Ia mau menghampiri, tapi Jung Woo mundur. Payung yg dipegangnya gemetar. Soo Yeon pun sedih. Saat olahraga, Jung Woo sering menabrak lawan main sehingga ia pun dibully setelah pelajaran. Tiba2 Soo Yeon melempari mereka dg bola. Mereka mundur karena takut pada Soo Yeon, tapi Jung Woo malah menantang mereka hingga makin dipukuli. Saat pulang, hujan deras. Soo Yeon menawarkan payung lagi, tapi Jung Woo mundur2 sampai kehujanan. Soo Yeon sangat sedih (kasian), “Maaf, gara2 aku kau jadi kehujanan.” Matanya berkaca2, “Aku tidak menangis. Ini gara2 angin yg membuat mataku berair. Aku.. bukan… pembunuh…”


Jung Woo naik ayunan, berayun tinggi2 sambil merenung. Ia pun menyesali perbuatannya dan segera ke rumah Soo Yeon, tapi ada keributan dirumah itu. ibu dan tetangga korban pembunuhan berantem, Soo Yeon memohon2 ampun. Saat itu ada Detektif Kim menyaksikan juga. Soo Yeon merangkak keluar dari keroyokan, lalu berhenti menatap Jung Woo. Ia merasa malu dan lari. Jung Woo mengejarnya sampai ke taman bermain. Soo Yeon bersembunyi dibawah perosotan. “Hei, rok bunga2, putri pembunuh, Lee Soo Yeon, mari kita berteman.” Soo Yeon kaget dg pernyataan Jung Woo. Jung Woo mengerjainya dg berjalan lebih cepat, lalu berlari agar Soo Yeon mengejarnya. Jung Woo mengambil jepit jemuran dan  menjepit poni Soo Yeon. Sementara Detektif Kim mengatakan kebenaran pada ibu, bahwa pembunuh yg sebenarnya sudah tertangkap, jadi Kim sebenarnya salah tangkap (hiyaaa kalo cuman dipenjara, bisa dikeluarin dan bersihkan nama, ini udah mate’ orangnya!!). ibu kaget, tapi melarang Kim mengatakan pada Soo Yeon.



Besoknya disekolah, sekelompok geng mengecat meja kursi Soo Yeon. Jung Woo menendang mereka marah, mereka hampir berantem, tiba2 Soo Yeon memeluk ketua geng, pas guru masuk, “Hei, kalo pacaran jangan disekolah!!” pas istirahat, Jung Woo menariknya pergi. Soo Yeon mengajak u/jadi teman rahasia juga, karena kalo orang2 tau mereka berteman, Jung woo akan dibully juga. tapi Jung Woo tak peduli. Soo Yeon memohon dg amat sangat, bahwa ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Saat makan siang, murid2 melempari Soo Yeon dg kotak susu, ada yg taruhan kalau gol dapat duit. Tiba2 Soo Yeon berdiri, lalu mengambil tong sampah, mengumpulkan semua kotak. Jung Woo nyaris tak tahan, tapi Soo Yeon ternyata mengembalikan semua kotak pada masing2 murid dengan kasar. Lalu ia berdiri di depan kelas, Jung Woo mengambil kotak susu dan melemparnya masuk ke tong sampah. Ia mengambil duit taruhan dan keluar kelas. Tapi ia kembali, mengajak Soo Yeon jajan. Dan akhirnya semua murid pun tau kalo mereka berteman, tapi Jung Woo tak peduli walaupun ia juga ikut dibully.


Waktu pulang bersama ke rumah Soo Yeon, rumah tetangganya kebakaran. Anak itu terjebak didalam. Jung Woo berusaha membuka gembok sampai tangannya luka sementara Soo Yeon memanggil massa. Anak itu berhasil keluar, tapi ia berusaha kabur. Tapi karena kakinya kesakitan, ia pun pingsan. Jung Woo mengambil kalungnya yg terlepas, lalu mereka membawanya ke RS. Jung Woo menelp rumah u/minta tolong, tapi ibu tirinya tak peduli. Pas papa datang dan merebut telepon itu dan akan menyuruh orang u/datang ke sana. Sementara itu Perawat Jung melarikan diri dari rumahnya yg dijaga ketat dg membawa tas besar berisi uang. Ia datang ke klinik, tapi sembunyi karena melihat Jung Woo dan Soo Yeon diluar. Jung Woo memberikan kalung yg bandulnya sudah terbelah pada Soo Yeon u/dikembalikan. Rupanya didalam bandul ada kunci bank Swiss. Joon sudah sadar, ia tersenyum melihat Soo Yeon dan menerima kalungnya kembali. Tiba2 perawat Jung datang membawa Joon pergi, tak peduli kaki Joon masih sakit.  Joon merengek, Jung membentaknya, “Kau tidak tahu siapa anak laki itu? Itu putra Tae Joon!”



Ibu Soo Yeon mengajaknya pindah rumah ke rumah Detektif Kim, karena udah gak tahan dg bully para tetangga. Eun Joo, putri Kim, marah2 dg kedatangan mereka, dikiranya ayahnya mau kawin lagi. Jung Woo kaget melihat rumah Soo Yeon sudah kosong. Ia pun berlari ke taman bermain, ternyata Soo Yeon ada disana. Jung Woo takut Soo Yeon akan pindah sekolah juga. Soo Yeon bilang bahwa ketika hujan turun, ia akan memberikan sebuah hadiah. Lalu mereka pergi ke rumah Kim dan duduk di depan ngobrol2. Eun Joo muncul dan jatuh cinta pada pandangan pertama pada senyuman Jung Woo. Besoknya, waktu pulang sekolah, Soo Yeon tertidur di bis. Jung Woo terus2an meminta hadiahnya sekarang. ia menunduk lalu mendongak menatap wajah Soo Yeon yg tertunduk tidur. Bisnya goyang2 hingga kepala Soo Yeon ngangguk2 dan…. CUP!!! Kiss yg tak sengaja pun terjadi. Jung Woo kaget dan blank. Tapi Soo Yeon tidak tahu.


Saat perjalanan pulang, Jung Woo nunduk terus karena malu. Lalu lampu di dekat rumah kedip2 karena rusak. Jung Woo berniat memperbaikinya, ia memutar bohlam sambil berpegangan di pundak Soo Yeon. Saat selesai, keduanya sadar bahwa mereka sangat dekat. Sementara itu, Kim melihat mereka dari jauh, posisi mereka kayak orang mau ciuman. Tiba2 lampu mati lagi. “Heeiiii!” Kim berteriak dan menjewer Jung Woo. Jung Woo pun berakhir di rumah Kim u/mkn malam bersama. Eun Joo dan Soo Yeon memakai cardigan kembar. Setelah itu Kim mengajari Jung Woo karate sementara Eun  Joo dan Soo Yeon duduk berdua. Eun Joo mengaku kalau ia menyukai Jung Woo, ia juga tau kalo Soo Yeon juga suka. Kata2 Eun Joo tak disadar sedikit menyakitkan, membuat Soo  Yeon tertunduk sedih. Eun Joo merasa tak enak dan minta maaf, “Kau harus lebih percaya diri! Bukankah kita sekarang bersaudara?”


Kim mengantar Jung Woo pulang, pas papa juga pulang. Papa tampak tidak menyukai Kim dan membentak Jung Woo untuk masuk. Kim merasa tak enak hati. Sebelum masuk mobil, ia melihat mobil misterius berhenti didepan rumah Jung Woo. Saat mendekati, mobil itu mendadak kabur. Kim sempat menulis platnya. Saat Jung woo pulang, ia dan Soo Yeon telpon2an. Soo Yeon masih diluar, menulis sesuatu di dinding dg bata merah “Bogusippo (I miss you)”. Besoknya, ternyata hujan turun. Jung Woo berlari senang dengan jas hujan kuning, sedangkan Soo Yeon berlari dengan payung kuning. Di bawah lampu yg rusak, Jung Woo berhenti, heran melihat lampu yg mendadak konslet memercikkan bunga api. Tiba2 ia dibekap dari belakang. Soo Yeon melihat hal itu dan mengejar penculik Jung Woo. Tiba2 mobil penculik berhenti dan penculik itu juga menarik Soo Yeon masuk, karena Soo Yeon sudah melihat wajah si penculik.


Jung mengantar Joon melihat ibunya dari kejauhan. Jung memapah Joon turun hujan2an agar ibunya melihatnya. Ibunya mengangguk, lalu Jung memasukkannya lagi ke mobil, pas Tae Joon datang. Ibu Joon mengancam Tae Joon dengan nyawa Jung Woo. Ternyata yg menculik Jung Woo adl orang suruhan Jung. Tapi Tae Joon tidak bergeming dg ancaman itu. Tiba2 lampu kamar ibu Joon mati. Joon berteriak2 panik sementara Jung langsung tancap gas dan menyuruh Joon merelakan karena ibu pasti dibunuh. Sementara itu Jung Woo dan Soo Yeon sudah sadar. Jung woo berusaha membuka tali dg beling sampai tangannya berdarah. Tiba2 salah satu penculik berjaket coklat datang, “Mau apa kau?” ia menggosok hidung dan tampak jari manisnya buntung. Tiba2 ia menarik kaki Soo Yeon. Jung Woo berteriak Jangan!!! Penculik itu memplester mulut Jung Woo. Waktu itu Soo Yeon sudah dilepas dan menggenggam kayu panjang. “Kau tahu siapa aku? Aku… putri pembunuh. Aku… bisa membunuhmu!” Soo Yeon memukul kepala orang itu dg kayu, tapi ngga mempan, malah dia diperkosa, didepan mata Jung Woo.

Penculik yg satu lagi datang dan memukuli temannya. Saat itu tali Jung Woo sudah lepas. Terhuyung ia berjalan ke dekat pintu, lalu ia melihat Soo Yeon sudah terkapar. Dengan teganya Jung Woo kabur sendiri, meninggalkan Soo Yeon. Diluar, salju turun. Jung Woo teringat,
SY: Saat salju pertama turun, apa yang akan kau lakukan?
JW: Aku akan berlari mencarimu, satu2nya temanku, Lee Soo Yeon.
Tapi sekarang, apa yg dia lakukan?  Ia meninggalkan Soo Yeon. Butiran salju masuk ke gudang, menempel di wajah Soo Yeon yg menangis.



Jung Woo menelpon papa bahwa dia diculik, lalu ia menelp polisi juga tapi keburu ditangkap penculik dan dipukuli. Tiba2 papa dan anak buahnya datang, yg jaket coklat berhasil kabur. Jung Woo memohon papa u/menolong Soo Yeon didekat sana, tapi papa membentak, menyuruhnya masuk mobil. Sementara Soo Yeon sudah kabur. Saat di jalan raya, ia hampir ditabrak mobil Jung dan Joon (rambut panjang, berdarah2, kayak hantu beneran). Joon memohon pada Jung u/menolong Soo Yeon, tapi Jung tak mau, pasti anak ini bisa lapor polisi. Sementara itu Detektif Kim melacak telepon Jung Woo, lalu melihat ada kebakaran. Di rel kereta, tanpa sadar ia berpapasan dg mobil Tae Joon. Gudang tempat penculikan dibakar u/menghilangkan jejak, tapi jepitan baju kuning milik Soo Yeon tertinggal disana. Kim menyusuri jejak2 yg ada, sampai ke dekat jalanan, ia menemukan sebelah sepatu Soo Yeon. Di jalan raya, ada tanda bekas orang duduk di atas aspal yg bersalju. Kim menangis membayangkan  apa yg terjadi.

Besoknya, Kim ke rumah Jung Woo tapi diusir. Bersama rekannya, dia akan mencari Soo Yeon dg bukti2 yg ia temukan, tapi atasannya menghalangi. Saat pulang, ibu Soo Yeon histeris ingin mencari anaknya, Eun Joo berusaha menenangkan bibi. Ibu Soo Yeon takut kalau korban pembunuhan akan membunuh Soo Yeon. Eun Joo pun kaget dg kebenaran ini. Ia tidak terima ayahnya membohonginya, karena ia baru tahu kalau Soo Yeon adl anak pembunuh. Sementara Jung Woo sudah sadar, ia mencari papa, mencari di mana Soo  Yeon. Tapi Soo Yeon tidak ada. Anak buah papa bilang kalau waktu ia datang ke gudang, tidak ada siapapun.

Jung Woo meringkuk dikamarnya, menangis. Adiknya tak tega dan ikut menangis sambil berusaha menyanyi u/menghiburnya. Lalu terdengar suara ibu Soo Yeon teriak2 didepan, Jung Woo makin meringkuk ketakutan. Pengawal mau mengusir ibu, tiba2 ibu pura2 hampir jatuh dan menarik mereka menjauh sementara Eun Joo menyelinap masuk ke kamar Jung Woo, kaget melihat Jung Woo ngumpet dibawah meja. Eun Joo tanya dimana Soo Yeon, juga bilang betapa Soo Yeon menyukainya. Semua tertuang dlm buku harian Soo Yeon yg tertinggal di kamar itu saat ibu tiri dan pembantu menarik Eun Joo keluar. Jung Woo membacanya, menangis mengingat masa yg lalu.


Sementara penculik yg tertangkap dihajar habis2an o/anak buah papa. Sementara penculik yg satunya lagi di sauna, tiba2 temannya datang. Ia heran kenapa temannya bisa bebas. Rupanya anak buah papa juga datang dan memukulinya. Ditempat lain, Kim mengumpulkan sidik jari Soo Yeon dari buku2 yg dikumpulkan Eun Joo. Lalu ia juga sudah mendapatkan surat penangkapan agar bisa masuk ke rumah Jung Woo. Papa mengusir, tapi Jung Woo turun dari kamarnya, menyodorkan kedua tangannya,”tangkap aku.” Kim membawa Jung woo ke tepi danau, Jung Woo menceritakan kronologis, juga minta maaf karena kesalahannya meninggalkan Soo Yeon. Waktu itu ia tak bisa berpikir jernih, tapi ditengah jalan ia menyesal dan mencari pertolongan. Ia ingin ketemu Soo Yeon u/meminta maaf. Kim juga bilang kalo ada yg ingin ia sampaikan, bahwa Soo Yeon bukanlah anak pembunuh. Jung woo kaget dg kebenaran itu. Jung Woo juga menjelaskan ciri2 pemerkosa itu.


Kim dan rekan2 menggali2 di sebuah lokasi yg diduga tempat seorang saksi melihat orang memanggul gadis berambut panjang. Mereka menemukan cardigan kembaran dg Eun Joo terkubur disana. Kim pun menemukan pria pecandu yg jari manisnya buntung. Ia mengikuti penculik yg satunya. Saat masuk ke sebuah ruangan tiba2 Kim datang menghajar penculik itu dan memborgolnya, sedangkan yg satunya menghunus pisau, tapi Kim berhasil membekuknya, pas ia melihat jari yg buntung, Kim mengamuk. Ia menginjak2 ‘milik berharga’ orang itu dan menghajarnya habis2an. Akhirnya orang itu bilang kalau Soo Yeon sudah mati. Orang itupun ditangkap dan merekonstruksi kronologis di tepi sungai, bahwa Soo Yeon dibuang kesungai dan hanyut hingga belum ditemukan mayatnya. Ibu melihatnya dan maju menghampiri. Polisi menahan tapi ia teriak, aku ibu soo yeon! Ia memohon pada penculik itu u/mengatakan bahwa putrinya belum mati.  Sementara Jung Woo melihat semua itu di tv. Ia pergi ke taman bermain, berharap Soo Yeon ada disana.


Jung Woo mengambil hpnya dari laci papa, dan menyalakannya. Tiba2 bunyi. Ia mengangkat “Jung Woo-ya… Han Jung Woo…” itu suara Soo Yeon. Jung Woo memanggil2, tiba2 hp itu direbut papa. Jung woo meyakinkan kalo itu tadi suara Soo Yeon, adik Jung Woo pun bilang kalo hp itu emang bunyi. Tapi papa membanting hp itu. Papa mengakui kalo ia tidak pernah mencari anak pembunuh itu, anak tidak berguna. Jung Woo terdiam, “Papa pernah bilang bahwa akulah satu2nya yg papa percaya, tapi… mulai sekarang aku tidak percaya padamu.” Di kantor polisi, Kim mengamuk membanting barang2. Lalu Jung Woo datang, “Paman, Soo Yeon menelponku. Tolong cari dia… aku percaya padamu. Ada yg harus kusampaikan padanya, bahwa aku merindukannya..”

Soo Yeon ternyata ada bersama Joon dan Jung. Soo Yeon menelpon lewat hp Jung dan langsung dimarahi. Ia merampas kalung Joon dan mengajak pergi. Joon tidak mau pergi kalau Soo Yeon tidak ikut. Lagipula Jung tdk bisa apa2 dg kalung itu karena hanya Joon yg bisa menggunakan kunci itu waktu umur 18 th. Joon meyakinkan Soo Yeon u/ikut dengannya, karena Han Jung Woo yg terus disebut Soo Yeon sudah mencampakkannya. Ia mengompor2in Soo Yeon hingga Soo Yeon menjerit histeris. Malamnya, Soo Yeon sudah tenang, merenung mengingat Jung Woo. Joon memegang ujung celana Soo Yeon, memohon Soo Yeon tidak meninggalkannya. "Aku sudah tidak punya siapapun setelah ibuku meninggal. Jangan tinggalkan aku. Temani aku. Cukup satu orang saja..." Soo Yeon bergumam "Cukup satu orang saja..."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar