Jung Woo dan Soo Yeon sampai dikantor polisi, disambut oleh
rekan2 Jung Woo. Saat mau masuk, mereka dicegat Kepala Polisi yg menuduh Jung
Woo sudah melarikan tersangka pembunuhan. Jung Woo dg tenang memperkenalkan
wanita disampingnya sbg Lee Soo Yeon yg
14 th lalu sudah nyatakan mati oleh Kepala. Tapi Kepala menyangkal, itu bukan
salahnya. Lalu bagaimana dg nama Kepala yg ada di daftar penerima suap Bang
Saegil? Kasus itu sudah masuk ke kejaksaan. Kepala marah, mengatai Jung woo
gila, gara2 seorang wanita, ia bisa menjebloskan ayahnya sendiri ke penjara.
Tapi Jung Woo membantah, ia gila karena dipimpin oleh Kepala Polisi yg tidak
tahu tugas polisi yg sebenarnya. Kepala marah, dan akan menuntut mereka semua
karena bekerjasama menyembunyikan tersangka. Kini Soo Yeon yg buka suara, bahwa
walaupun ayahnya seorang pembunuh, tapi dia bukanlah pembunuh. Semua yg ada
disana terkejut, berarti ibu Soo Yeon belum bilang kalo ayah bukan pembunuh.
Soo Yeon pun kaget dg kenyataan ini. Senior menyarankan Soo Yeon untuk
menanyakan sendiri pada Kepala polisi yg lebih tahu masalah ini daripada yg
lainnya. Skak mat. Jung Woo membalikkan kalimat Kepala Polisi waktu memecatnya,
“Lepaskan lencanamu, menyingkirlah dari masalah ini, keluarlah dari sini. Tiga
hal ini, adalah hadiah saya untuk anda.” Mereka semua masuk, meninggalkan
Kepala yg masih berdiri kaku.
Soo Yeon di ruang interogasi dan dipertemukan dg Yoon. Yoon
tampak terkejut melihat Soo Yeon, tapi wajahnya berubah marah ketika melihat
tangan Jung Woo dibahu Soo Yeon. Atasan yg menginterogasi mereka berdua,
bertanya kapan mereka pertama kali ketemu. Soo Yeon menjawab di acaranya Han
Tae Joon, tapi Yoon menjawab waktu fashion show di macau. ketika Kang Sang
Deung dikeluarkan dari penjara, saat itulah pertama kali ia menerima perintah
pembunuhan dan memperkenalkan diri dg nama Lee Soo Yeon. Soo Yeon tercengang dg
jawaban itu yg sama sekali bohong. Di ruangan sebelah, Jung Woo pun kaget
karena Yoon menyerang Soo Yeon seperti itu. Senior berkata kalau Yoon adl versi
junior-nya Joon, ia melihat mata laser Yoon saat melihat Jung Woo di sisi Soo
Yeon tadi. Kakek berasumsi, kalau bagi Yoon, hubungannya dengan Joon sangat
penting dan penuh kepatuhan. Bahkan mungkin Yoon mengaitkan dirinya dengan
perasaan dan pikrian Joon. Yoon merasa Jung Woo yang merebut Soo Yeon dan
berpikir Soo Yeon meninggalkannya.
Soo Yeon tanya, bagaimana ia menyuruh Yoon membunuh? Yoon
bilang lewat telpon. Lalu kepada Atasan, Soo Yeon mengingatkan waktu pertama
kali diinterogasi, Soo Yeon pernah bilang kalau orang pertama yg ingin ia bunuh
adl Jung Woo. Lalu ia tanya lagi, apa Yoon dan Joon berteman? Yoon menggeram
“tidak.” Soo Yeon mengangguk, “Aku juga yakin seperti itu. Karena seorang teman
tak akan menyuruh temannya untuk membunuh orang lain. Aku tahu Harry menjebakku
karena ia membenciku, Tapi apa yang telah kau lakukan hingga kau harus
menggantikan takdirnya untuk duduk di kursi itu?” Raut Yoon berubah dan ia
menunduk, berkata pelan kalau semua itu tidak benar. Jung Woo merasa lega
karena Soo Yeon dapat menguasai interogasi dg tenang. Sekarang ia malah kasihan
pada Joon, ibunya tak mengenalinya, sikap Soo Yeon tidak seperti yg dia
inginkan, dan tangan kanannya sudah ditahan.
Benar saja, di rumah, Joon mulai menggila. Ia mengetuk2
tongkatnya, memanggil Zoey, Zoey, yg tak akan pernah muncul. Tiba2 ia mendengar
suara denting lift, ia menaruh telunjuk di bibirnya, menyuruh diam “Sssstttt.”
Tapi pintu lift tidak terbuka. Ia memencet2 pintu lift. Tidak ada orang. Lalu
ia mendengar suara2 yg menyalahkannya, mengingat saat Soo Yeon berlutut
padanya. Ia menangis. Sementara itu, Kakek memperingatkan agar mereka tidak
membuat Joon terdesak, karena takutnya akan ada korban lagi. Orang yg melakukan
pembunuhan sejak masih muda, perasaan bersalah dalam hatinya akan terkikis
hingga jadi pembunuh berdarah dingin.
Jung Woo mendatangi Miran di RS, membujuk agar Miran
mengatakan pembunuh yg sebenarnya. Miran hanya berkata kalau ia menyesal pernah
bertemu dan menikah dg Tae Joon. Jung Woo memohon Miran untuk menceritakan
semua padanya, agar tak ada penyesalan yang berikutnya, “Harry, Kang Hyung
Joon, adalah pembunuh. Kita tak tahu apakah ia akan membunuh lagi. Tak
khawatirkah pada Ah Reum? Ah Reum juga adikku.” Tapi Miran tetap tidak buka
suara. Jung Woo keluar dan bertemu Ah Reum yg menunggu didepan. Jung Woo pun
mengatakan kalau dia sudah menemukan Soo Yeon. Ah Reum terkejut. Tapi Soo Yeon
sekarang di kantor polisi karena dituduh sbg pelaku yg mencoba membunuh Miran.
Ia menyuruh Ah Reum untuk membujuk mamanya agar bisa menyelamatkan Soo Yeon.
Kepala Polisi mendatangi Tae Joon untuk memberi dukungan
agar ia tidak mundur dari jabatan, tapi Tae Joon malah menyuruhnya bertanggung
jawab atas ‘bangkitnya’ Soo Yeon. Ia sudah tak mau mendukung karena anak Kepala
Polisi sudah disekolahkan Tae Joon sampai menikah. Kepala Polisi minta duit
untuk mengurus Soo Yeon, tapi Tae Joon tak mau. Lalu tiba2 Joon muncul, Tae
Joon mengusir Kepala Polisi dg kasar. Joon mengancungkan tongkat, menyalahkan
Tae Joon, gara2 kebenciannya yg mendalam pada Tae Joon, ia kehilangan Soo Yeon.
Tapi Tae Joon merasa tidak bersalah, itu salahnya Joon sendiri, kenapa masih
menyimpan dendam padanya. Lagipula dia sudah memberi info ttg persembunyian Soo
Yeon seperti yg diminta dan ia merasa tugasnya sudah selesai. Tae Joon memberi
saran, sebaiknya Joon membawa Soo Yeon ke Prancis saja seperti 14 tahun lalu.
Sementara itu, Jung Woo pulang ke rumah Soo Yeon saat ibu
Soo Yeon lagi menemani Hyun Joo makan. Jung Woo ingat kata2 Soo Yeon ttg
penculikan mereka yg didalangi oleh Hyun Joo, membuat Jung Woo merasa gak
nyaman. Sementara Hyun Joo pun merasa bersalah saat mendengar ibu memanggil
nama Jung woo. Ia berlari ke kamar. Jung Woo tiba2 memeluk ibu dan berkata
kalau Soo Yeon sekarang di kantor polisi karena dituduh pembunuhan. Ibu kaget
dan mau melihat wajah Jung Woo, tapi Jung Woo mempererat pelukannya. Jung Woo
menenangkan kalau pembunuh yg sebenarnya pasti akan tertangkap setelah
mendapatkan bukti kuat. Ibu tetap khawatir dan tanya, siapa yg menuduhnya? Jung
Woo berkata kalau papa dan ibu tirinya yg menuduh. Ia minta maaf pada Ibu, tapi
Ibu tahu kalau Jung Woo tidak bersalah. Dia cuman ‘kebetulan’ lahir di keluarga
itu. Lalu Jung Woo masuk ke kamar Hyun Joo, melihatnya berusaha memasukkan
liontin kunci Ah Reum ke bandul hati yg terbelah, tapi tak bisa dan kalungnya
jatuh. Jung Woo mengambil. Hyun Joo yg biasanya langsung merebut, sekarang
malah diam saja tapi berkata dg gemetar “Itu punya Joon.” Jung Woo pun sadar
kalau Hyun Joo mulai waras. Ia mengembalikan kalung dan berkata “Putramu
sekarang sangat menderita… dan itu semua karena kau.” Hyun Joo diam, tapi
tampak berpikir.
Hasil tes DNA Harry Borrison dg DNA dari kaleng alat
pembunuh Detektif Kim sudah keluar dan hasilnya positif. Harry Borrison adalah
Kang Hyung Joon. Senior senang karena berarti sebentar lagi mereka bisa
menangkap Joon dg tuduhan pembunuhan Kim, tapi Joon bisa berkilah menyalahkan
Michele Kim (perawat Jung). Namun walau begitu, menurut Jung Woo, hal ini
membuktikan kalau Harry adalah memang benar Kang Hyung Joon yang ada di tempat
kejadian 14 tahun yang lalu dan saat itu sudah terjadi percobaan pembunuhan. Joon
pasti berpikir kalau saat itu Detektif Kim akan menangkapnya dan ia pasti
menyangka kalau ia akan dipisahkan dengan Soo Yeon. Kakek menduga jika joon
bisa membunuh Kim di usia 12 tahun, maka ia mungkin juga membunuh seseorang di
Perancis jika ia membutuhkannya, “Semakin muda orang mulai melakukan kejahatan,
rasa bersalah orang itu makin lama akan menghilang dan kejahatan yang serupa
pun akan berulang.” Jung Woo pun mengirimkan email dan DNA Joon pada kepolisian
Perancis, siapa tahu ada kasus serupa.
Tiba2 Ibu Soo Yeon datang membawa banyak makanan. Ibu ingin
membawa pulang Soo Yeon. Jung Woo melarang karena Soo Yeon lebih aman di
kantor, siapa tahu pembunuh itu masih berkeliaran dan membahayakan mereka. Tapi
ibu tidak takut. Lalu atasan datang dan malah memberikan ijin untuk membawa Soo
Yeon pulang. Ibu pun menemui Soo Yeon di ruang interogasi. Ibu minta maaf
karena telah membuat Soo Yeon melewati masa2 sulit, dari ayah tukang pukul
hingga sekarang. Tapi Soo Yeon tidak mempermasalahkan itu. Soo Yeon tanya
kenapa Ibu tak pernah bilang kalau ayah bukan pembunuh? Ibu berkata karena itu
untuk pertahanan dirinya. Tak peduli suaminya pembunuh atau tidak, tapi dengan
kematiannya, ia selalu berpikir kalau penderitaannya telah berakhir. Saat
mereka mau pulang, tiba2 Jung Woo datang membawa makanan. Ia memanggil “Pacar
(aein)”, tapi matanya menuju pada Soo Yeon, bukan pada Ibu seperti biasanya.
Dan tiba2 ia mencium Soo Yeon di depan mata Ibu! 3 kali!
Soo Yeon kaget dan malu, begitu pula dg Ibu. Jung Woo mau
mencium pipi ibu juga, tapi Cuma sekali. Ibu pura2 kesal dan pura2 mau ke wc
agar Jung woo dan Soo Yeon bisa berduaan saja. Di luar, ibu berpapasan dg
Senior yg mau masuk, tapi Ibu melarang. Senior yg penasaran membawa ibu ke
ruang sebelah, dimana mereka bisa melihat ruang interogasi tanpa diketahui oleh
orang diruang itu. Ibu menutup mata, gak mau lihat, tapi Senior pura2 memanas2i
kalau mereka lagi ciuman. Ibu penasaran dan melihat, ternyata mereka Cuma duduk
berhadapan. Senior merasa iri pada mereka, ia jadi ingin bertemu dg cinta
pertamanya, sayangnya cintanya sudah nikah ama cowok lain. Aaawww…kasihan. Lalu
alarmnya bunyi, tanda dia harus minum gingseng (jamu lelaki).
Ternyata Jung Woo sedang menginterogasi Soo yeon atas ‘kejahatan
cinta’ dg bukti buku harian Soo Yeon. Di situ tertulis keinginan Soo Yeon
u/mencium Jung Woo dg gambar payung yg menutupi 2 orang. Berarti… “Apakah
sebenarnya kau memberikan payung itu karena kau memang berencana untuk
menciumku?” Soo Yeon malu dan setelah ia merebut buku itu, ia tak mau
memberikan kembali saat Jung Woo mau mengambilnya lagi. Mereka rebut2an dan Ibu
senang melihat mereka dari ruang sebelah.
Sementara itu, Ah Reum terus membujuk ibunya agar memberi
kesaksian yg sebenarnya. Ah Reum meyakinkan kalau Jung Woo tidak sama seperti
papanya yg licik. Jika dia berkata akan melindungi mereka, pasti tidak akan dilindungi.
Sementara itu, Craig berdebat dg Joon. Craig berkata kalau Joon sekarang gak
bisa ke luar negeri, tapi Joon bersikeras ingin ke Jepang atau China, membawa
serta ibunya dan Soo Yeon dg identitas baru. Di rumah, Soo Yeon menghampiri
Hyun Joo yg langsung melindungi hiasan bunganya “Ini milik Joon.” Soo Yeon
menahan tangis dan berkata kalau Joon tak menginginkan hal itu (mungkin hiasan
bunga itu adl lambing uang/harta). Ia mohon agar Hyun Joo cepat sembuh dan
kembali pada Joon. Hyun Joo tampak ingat dg nama itu dan menyebut ‘bayi’
berkali2. “ibu harus
segera sembuh, karena saya tak mampu membenci
ibu bahkan marah pun tak bisa karena ibu seperti ini.” Hyun Joo
meletakkan bunga itu di tangan Soo Yeon.
Soo Yeon duduk minum soju di dapur sambil melihat2 foto Jung Woo di hp
dan menulis ‘bogosippo’. Lalu Eun Joo datang dan bergabung. Ia merasa heran
melihat Soo Yeon yg masih bisa tersenyum ditengah penderitaan. Alasannya
adalah, Soo Yeon tidak melakukan kejahatan itu dan ia mempercayai Jung Woo akan
menyelesaikan semuanya. Mereka minum bersama, Eun Joo pura2 mengancam, jangan
sampai Soo Yeon membullynya karena dia anak kandung ibu. Mendengar kata bully,
Soo yeon jadi tertawa teringat waktu sekolah dia selalu dibully karena ayahnya
pembunuh. “Kau benar-benar telah mengalami semuanya, ya. Tapi bagaimanapun
juga, ibu adalah milikku,” kata Eun Joo. “Ibu.. paling menyukai Han Jung Woo,”
kata Soo Yeon. Eun Joo pun juga mengiyakan karena ia dulu juga menyukai Jung
Woo. Soo Yeon kaget. Tapi Eun Joo menenangkan, “Jangan melotot padaku. Berkat
dirimu, aku hanya bisa memandangi dia
selama 14 tahun ini." Soo Yeon merasa tak enak, tapi Eun Joo menenangkan
karena rasa sukanya tak cukup besar untuk menggantungkan hidupnya pada Jung Woo
yang menyukai Soo Yeon.
Besoknya Hyun Joo diajak beli sepatu. Tiba2
Soo Yeon seperti mendengar hak sepatu dan tongkat Joon. Ia menoleh2, tapi
terlalu banyak orang (cewek) yg mencoba sepatu berhak. Rekan Jung Woo yg
bertugas menjaga mereka, jadi khawatir dan bertanya, tapi Soo Yeon berkata
tidak apa2. Rupanya Joon memang ada di sana, mengawasi mereka dari balik kaca.
Melihat Soo Yeon memakaikan sepatu pada Hyun Joo, “Bodoh! Apakah kau sudah lupa
akan penderitaan yang telah kau lalui karena ibuku?” Lagi2 Soo Yeon mendengar
hak sepatu Joon. Ia menoleh, walaupun ternyata itu hak sepatu cewek, tapi ia
bisa melihat sepatu Joon dari balik tembok. Tetapi karena sedang diawasi rekan
Jung Woo, ia pun berbalik tak mau melihat. “Joon ah, Semakin kau bersembunyi,
pada akhirnya kau hanya akan merasa semakin kesepian.”
Craig datang ke kantor polisi dan
membuat kesaksian dan dokumen palsu bahwa Michele Kim yg membunuh Detektif Kim.
Mereka sudah menduga itu dan hanya bisa berharap pada kepolisian Perancis dan kesaksian
Miran, walaupun itu berarti membongkar kejahatan papa Jung Woo dan
memenjarakannya. Tak lama kemudian, email dari Perancis datang, bahwa Tuan dan
Nyonya Borrison meninggal tahun 99 karena kecelakaan mobil, padahal Joon pernah
bilang kalau orangtua angkatnya meninggal karena kecelakaan pesawat. Penyebab
kecelakaannya adl rem dan kaleng soda. Dan polisi juga sedang memeriksa DNA
yang ada di kaleng soda dengan DNA Kang Hyung Joon yang sudah dikirimkan. Juga,
pasangan suami istri Borrison itu pernah diselidiki atas dugaan penganiayaan
anak di tahun 1999 pada anak angkat mereka, Harry Borrison. Jung Woo pun akan
meminta mereka mengirimkan foto keluarga Borrison, terutama Harry Borrison.
Hyun Joo masih terjaga sementara semua
penghuni rumah tidur lelap. Hyun Joo memeluk sepatu barunya dg sayang dan
meletakkan bunga infus di tangan Soo Yeon yg tidur dipelukan Ibu. Tampaknya ia
suka dg perhatian mereka. Tiba2 ia seperti mendengar jendela diketuk. Ia pun
teringat 14 tahun yg lalu, dari jendela, ia melihat anaknya yg kakinya terluka
berjalan terseok2 menujunya, tapi ia tak bisa berbuat apa2. Ia ketakutan dan
bergelung selimut, tapi kemudian ia malah penasaran, bagaimana kabar bayinya
itu. Ia pun keluar rumah tanpa mantel dan bertelanjang kaki, padahal lagi musim
dingin. Ia berhenti di lampu jalan yg berkedip2, ia pun ingat semuanya,
permusuhannya dg Tae Joon, ancaman Tae Joon pada Joon, juga penculikan yg ia
lakukan untuk Jung woo. Ia jatuh bersujut dan berkata “Jalmugesso… (aku
bersalah)” berkali2. Kalungnya jatuh dan ia memungutnya, tapi malah mengingat
saat Joon memberikan bandul terbelah dan berkata “Aku tak membutuhkannya.” Hyun
Joo menangis, “Aku harus memberikannya pada Joon…” Ia kembali berjalan
sendirian, bertubrukan dengan orang, ia ketakutan dan terus berkata “Jalmugesso.”
Orang2 pun akhirnya tahu kalau ini adl orang gila.
Joon tertidur di sofa, dan terbangun saat melihat pecahan bandul
yang dulu pernah ia berikan pada ibunya. ia melihat sosok anak kecil duduk di
tangga, dirinya sendiri, saat 14 tahun yang lalu , menunduk, seakan tak tahu
apa yang harus ia lakukan. Joon kaget dan berdiri hingga tongkatnya terjatuh,
namun ia tak mempedulikan tongkat itu. Ia berjalan seperti tidak pincang sama
sekali, menghampiri anak itu dan menaruh telunjuk di bibirnya, “Sssttt, Kau
tahu, kan? Han Tae Joon ada di sini. Kau jangan keluar dulu.”Joon
kecil mengangguk patuh dan Joon tersenyum, mengatakan kalau sebentar lagi
mereka akan pergi, “Pada saat itu aku akan mengijinkanmu keluar. Ok?" Joon kecil tersenyum, senang mendengar kata-kata Joon, dan
mengangguk sambil menaruh telunjuk di bibirnya juga. Joon membalas senyum Joon
kecil dan membelai rambutnya. Joon tersenyum sambil menangis. (Wah, scizo! Like
mother like son!)
Soo Yeon terbangun dan tak menemukan Hyun Joo. Ia punya firasat
buruk. Semuanya berpencar mencari. Jung Woo dan Soo Yeon bertemu di tengah
jalan, saat mendengar seorang petugas menemukan orang dari tumpukan sampah.
Mereka pun menemukan Hyun Joo yg sudah
menggigil hypothermia. Mata Hyun Joo terbuka, “Joon-ah… bogosipda…”
Jung Woo dan Soo Yeon mendatangi Joon
di rumahnya, meminta agar Joon mau menemui ibunya yg sudah sekarat. Joon malah
tak tergerak sedikitpun dan menolak untuk pergi. Soo Yeon membujuk, kalau Joon
tidak pergi sekarang, ia tak akan bisa melihat ibu lagi selamanya. Joon malah
membentak, kalau Soo Yeon pura2 memperhatikannya, padahal ia selalu di sisi
Jung Woo. Soo yeon marah, “Bodoh! Ibu yang bertahun-tahun telah kau cari.
Memang kenapa kalau ia tak dapat mengenalimu? Yang selalu ia lakukan adalah
memanggil-manggil namamu. Kalung yang ada ditanganmu, ia memegangnya erat
sepanjang hari, dan berulang-ulang kali mengatakan kalau kalung itu untukmu.
Ibu yang telah kau tinggalkan hanya tetap memanggil namamu.”
Jung Woo langsung menarik Joon berdiri,
“Bocah, berhentilah marah. Kalau ingat semua kejahatanmu, aku tak ingin
bersimpati padamu seperti ini. Tapi karena aku mengasihanimu, kasihan karena
kau menjadi rusak seperti ini, maka aku bersimpati padamu. Jadi keluarlah
sekarang.”
Tapi Joon mendorong Jung Woo dan
membentak, “Terus bagaimana? Setelah itu kau akan menahanku? Sampai aku mengaku
kalau aku adalah Kang Hyun Joon? Jadi aku pergi atas kemauanku sendiri,
menangis dengan ibu di dalam pelukanku dan mengakui kalau aku adalah Kang Hyun
Joon?” Joon memukul meja dg tongkatnya. Jung Woo refleks melindungi Soo Yeon.
Jung Woo: Kang Hyung Joon. Apakah akhirnya akan seperti ini? Setelah kau
menangis menyebut ‘ibu.. ibu..’ setiap saat, akhirnya kau bersembunyi untuk
menyelamatkan dirimu sendiri?Walaupun kau telah
menjebaknya menjadi seorang pembunuh,Soo Yeon masih memberi kesempatan pada
orang sepertimu walau kau tak pantas menerimanya. Hanya inikah imbalan yang
dapat kau berikan?Walau aku lebih suka memukulimu sampai mati, tapi Soo Yeon tak
menginginkannya karena ia tak ingin melihatmu lebih terluka lagi. Itu yang
disebut melakukan keinginan Soo Yeon.”
Joon tertawa mengejek, “Apa kau kesini untuk menyatakan perasaan
cintamu? Kalau memang begitu, keluar saja dan lakukan hal itu.” Ia pun bertanya
pada Soo Yeon, apakah Soo Yeon melakukan hal ini karena rasa tanggung jawabnya
atas apa yang terjadi padanya sehingga hatinya akan merasa lebih tenang? “Aku
tak mau. Aku.. berharap kalau bukan ibuku, melainkan kau yang akhirnya mati.”
Soo Yeon shock dg kata2 itu. Joon mengatakan kalau rumah ini adl surga hingga
ia tak mau pergi meninggalkannya, juga jangan ada yg datang tanpa ijin. Jung
Woo berkata “Tak ada surga yang kau tinggali sendiri. Kau memenjarakan dirimu
sendiri karena dosa atas kejahatan yang kau lakukan. Ini adalah nerakamu.”
Tae Joon dikabari ttg kematian Hyun Joo dari telpon, sedangkan
Miran yg mendengarnya dari tempat tidur, diam2 memencet nomor hp seseorang.
Joon di rumahnya mendengarkan lagu untuk menenangkan diri. Jung Woo dan Soo
Yeon mendatangi rumah persemayaman, menziarahi abu Hyun Joo. Soo Yeon
meletakkan bunga infus di dekat guci abu berkata betapa Hyun Joo merindukan Joon
selama belasan tahun. Jung Woo berkata kalau Hyun Joo tak meninggalkan apapun
kecuali luka untuk putranya. Mereka pun pergi karena Joon tak akan berziarah
jika ada mereka di sana. Lalu mereka mendengar suara tongkat Joon. Jung Woo
bertanya kenapa Soo Yeon membuatkan tongkat itu? “Agar dapat menemukannya
dimanapun dia berada.”
Joon berselisih jalan dg mereka. Ia mendatangi abu ibunyadan
melihat kunci yang mirip dengan yang ia pegang. Pada foto ibunya, ia
menunjukkan kunci aslinya dan berkata, “Inikah surga yang dulu pernah ibu
katakan? Sekarang aku harus mengembalikan dan lari bersembunyi. Sepanjang
hidupku sampai aku mati, dengan kaki seperti ini. Terima kasih.”
Foto Harry Borrison telah keluar. Senior menelepon,
memberitahukan kalau laporan polisi Perancis sudah ada. DNA kaleng pembunuh
keluarga Borrison cocok dengan DNA Kang Hyung Joon, “Mereka tak pernah memberi
keringanan pada kejahatan di bawah umur. Jadi entah itu Perancis ataupun Korea,
Kang Hyung Joon tak punya tempat untuk melarikan diri. Tangkap ia sekarang
juga. Kami sekarang sedang menuju rumah Harry.” Jung Woo siap dg borgolnya,
menyuruh Soo Yeon yg tampak cemas, diam di dalam mobil saja. Lalu Joon muncul
dg sepedanya, tersenyum mengejek pada mereka. Hp Jung Woo bunyi lagi, sms dari
Ah Reum bahwa mama sudah mengaku, bahwa yg meracuni bukan Soo Yeon, melainkan
Joon. Jung Woo tersenyum sinis sedangkan senyum Joon mulai memudar. Soo Yeon
hanya menatap mereka dengan penuh kecemasan.
Notes:
Aku penasaran sama si lampu jalan itu. Kayaknya mistis
banget. Semua kejadian dimulai dari si lampu jalan : Soo Yeon – Jung Woo hampir
ciuman, penculikan waktu masih kecil, jadi ancer2 waktu Jung Woo disekap bibi
Choi, Juga Hyun Joo yg merasa terhakimi oleh si lampu jalan hingga mengingat
semua kejahatannya. Lampu jalan yg mistis… Jadi pengen bikin cerita tentang si
lampu jalan ini hehehe…








































Tidak ada komentar:
Posting Komentar