
Cast:
-
Park Hae Il as Nam Yi
-
Ryu Seung Ryong as Jyuushinta
-
Moon Chae Won as Ja In
-
Kim Moo Yeol as Kim Seo Goon
-
Park Ki Woong as Prince Dorgon

Film ini berdasarkan sejarah pada tahun 1636, di mana
terjadi invasi kedua Manchu (China) ke Joseon
(Korea). Dalam sejarah aslinya, Raja Gwanghae yang memimpin Joseon pada masa
itu memiliki kemampuan diplomasi tinggi hingga bisa berdamai dengan Later Jin
(Manchu) dan Dinasti Ming. Tetapi karena kurang dukungan politik, ia tersingkir
oleh Raja Inho yang merebut tahtanya hingga membuat hubungan Joseon dan Manchu
memburuk, sampai terjadi dua kali invasi.
Ayah Nam Yi, Choi Pyeong Ryeong, adalah pejabat/menteri yang
memihak pada Raja Gwanghae, maka ia tertuduh sebagai pemberontak dan
keluarganya harus dihabisi. Nam Yi dan Ja In yang masih kecil harus
dikejar-kejar oleh sekelompok anjing. Ja In terjatuh dan hampir saja dilahap
anjing, namun ia beruntung karena sebuah anak panah melesat menusuk anjing itu.
Ayah datang menggendongnya, lalu menyuruh Nam Yi kabur bersama adik ke sebuah
desa tempat tinggal sahabatnya, dan dibekali busur panah warisan keluarga. Ayah
berpesan, bahwa Nam Yi harus menjaga adik dengan baik “Mulai sekarang, kau
adalah ayah Ja In.” Di hutan, Ja In merengek ingin pulang untuk menolong ayah.
Rengekan itu mendatangkan anjing-anjing yg akhirnya melukai tangan Nam Yi,
tetapi Nam Yi memukuli anjing itu sampai mati. Dari kejauhan, mereka
menyaksikan ayah mereka terbunuh dg sadis. Nam Yi menutup mata adiknya ketika
pasukan memenggal kepala ayah mereka.

Ketika sampai di rumah sahabat ayah, Kim Moon Jeon, mereka
pun tinggal di sana sampai tiga belas tahun kemudian. Nam Yi tumbuh menjadi
pria yang jago memanah, tetapi tampak suka malas-malasan, tidak mau latihan
silat, tidak mau belajar. Kerjaannya mabuk dan berburu saja bersama 2 pelayan
yg jadi sahabatnya. Suatu malam ketika habis berburu rusa, Seo Goon, anak Tuan
Kim, mengajaknya minum di Gibang dg para Gisaeng yg cantik. Saat itulah Seo
Goon menuangkan arak sambil minta restu untuk menikahi Ja In. Nam Yi awalnya
menolak, namun ia memberi syarat, bahwa Seo Goon harus mengalahkannya duel dulu
karena ia tak mau adiknya menikah dengan pria lemah. Tak disangka, Seo Goon yg
hanya seorang pelajar, rupanya jago silat juga.
Gara-gara berkelahi di Gibang, mereka pun dihukum. Tuan Kim
memukul betis Nam Yi dengan rotan dan mengomelinya yang suka bermalas-malasan,
tidak mau jadi pejuang seperti ayahnya. Nam Yi tertegun, lalu menjawab bahwa ia
tidak ingin seperti ayahnya yang hebat namun dituduh sebagai pemberontak,
bukannya pejuang. Saat hendak keluar ruangan, Tuan Kim berkata bahwa yang
memberi nama Ja In adalah dirinya, sedangkan yang memberi nama Seo Goon adalah
ayah mereka. Dan dia akan merestui pernikahan Ja In dan Seo Goon. Nam Yi tidak
menjawab apapun, sementara Seo Goon cengengesan happy.


Hari pernikahan tiba dan dirayakan dengan meriah. Nam Yi meletakkan
sepasang sepatu cantik untuk adiknya yang sedang dirias. Nyonya Kim datang dan
mengusirnya (mungkin, jika seorang gadis menikah, maka dia adalah milik
keluarga pihak lelaki, nggak tinggal sama keluarganya lagi. Jadi karena Nam Yi
adalah keluarga perempuan, dia nggak boleh lagi tinggal bersama mereka.). Saat
naik tandu, Ja In membuka jendala tandunya, menatap sang kakak yang berdiri
jauh di belakangnya dengan tatapan sedih. Tetapi ia tersenyum pada calon suami
yang naik kuda di samping tandunya.

Ketika prosesi upacara dimulai, Ja In melihat teh dalam
gelas kecil bergetar-getar. Firasatnya buruk. Hal yang sama juga dirasakan oleh
Nam Yi yang memutuskan untuk berburu di hutan. Angin yang berhembus dan burung
yang terbang rendah, membuat perasaannya tidak enak. Benar saja, karena dari
kejauhan, tampak sekelompok pasukan berkuda dengan bendera Manchu menuju desa
mereka. Nam Yi berlari untuk kembali ke desa. Tetapi tampaknya ia terlambat
karena desa telah porak poranda. Banyak yang mati, banyak pula yang ditawan.
Pesta pernikahan Ja In kacau dan sang mempelai ditawan dua-duanya. Ibu Seo Goon
sempat menahan tali yang mengikat leher Ja In, tetapi pasukan menebasnya hingga
tewas, di depan mata anak mantunya. Tuan Kim juga berusaha melawan mereka
dengan keahlian silatnya, tetapi ia kalah jumlah, juga karena sudah tua. Ia
mati tertusuk tombak, di depan mata anak mantunya.


Sementara itu, di tengah jalan, Nam Yi berpapasan dengan
kepala-kepala pasukan Manchu, termasuk Putra Mahkota Dorgon. Awalnya mereka
hanya menganggap Nam Yi sebagai warga desa biasa yg lemah. Nam Yi lari dan dikejar satu prajurit yang
menebasnya dengan pedang. Saat prajurit itu kembali, rupanya di lehernya sudah
tertancap panah. Jadi Nam Yi belum mati. Ia pun lari dan dikejar oleh mereka
semua. Ia terdesak di jurang dan jatuh. Ia divonis mati oleh pasukan Manchu.
Tetapi ia tidak mati (kalo mati, filmnya tamat ^^). Entah bagaimana caranya, ia
bisa kembali ke desanya yang sudah hancur. Ia menemukan sebelah sepatu Ja In,
juga Tuan Kim yang sudah tewas. Ia mengangkat mayat Tuan Kim ke dalam rumah.
Sementara itu, tawanan dibagi dua, cewek2 yg cantik2 dibawa
ke perkemahan tempat Putra Mahkota, sedangkan yg tua2 dan para lelaki akan
menyeberang laut ke Manchu dijadikan budak. Ja In dan Seo Goon terpisah.
Beberapa cewek sudah dibawa masuk untuk ‘melayani’ pangeran. Hingga tiba
giliran Ja In, tetapi sampai di dalam ia melawan dan membunuh prajurit. Namun
Pangeran malah merasa tertantang menaklukannya. Pengawal pribadinya berhasil
melumpuhkan Ja In dan melepas baju atasnya, saat ia berkata dalam bahasa Manchu
“Aku sudah berkeluarga!” Pangeran dan Ja In saling adu mulut dalam bahasa
Manchu hingga Pangeran memutuskan dia diikat tanpa makan dan minum sampai dia
menyerah dan melayani Pangeran.

Di tawanan satunya, ketua pasukan memberi pengumuman,
dibantu oleh seorang penerjemah dari salah satu tawanan. Tapi diterjemahkan
berbeda. Dan pengumuman terakhir, ketua memberi kesempatan siapa saja boleh
pulang kembali ke desanya dalam hitungan 5 detik. Beberapa orang lari pulang
termasuk istri dari si penerjemah. Penerjemah yg tahu kalau orang yg pulang itu
malah tidak akan selamat, ia pun mengejar istrinya yg sedang menggendong putri
mereka yg masih bayi. Ketua pun menyuruh anak buahnya membunuh mereka semua yg
lari, termasuk si penerjemah. Saat istri penerjemah lari ke hutan dan akan
ditebas, sebuah panah melesat menyelamatkannya. Sementara Seo Goon mulai
bangkit semangatnya. Ia memilih untuk berjalan pulang (melawan perintah),
walaupun 2 pelayan sudah melarangnya. Seorang prajurit berkuda datang hampir
menebas kepalanya, tetapi seperti punya mata di belakang kepala, ia menunduk
dan menjatuhkan lawannya, membunuhnya. Ketua tampak terkejut dan menyuruh
prajurit lain melawannya, tetapi tetap kalah. Ia pun memanah Seo Goon, membuat
cepol rambutnya lepas terurai. Panah kedua akan dilepaskan, tetapi sebuah panah
melesat memutuskan tali busurnya. Nam Yi datang. Para tawanan memberontak dan
para prajurit termasuk ketua pun mati. Nam Yi mencari2 Ja In, tetapi Ja In
tidak ada diantara tawanan ini.


Nam Yi, Seo Goon dan 2 pelayan mengintai perkemahan. Seo
Goon geram saat melihat istrinya yg diikat dan terhuyung jatuh. Tetapi teman2
menahannya, mereka harus pakai taktik, karena mereka kalah jumlah. Nam Yi
berencana menculik pangeran agar ditukarkan dg Ja In (Ja In doang? Cewek2
lainnya gimana? Kasihan..). Ja In menyerah dan dipersilakan makan dengan
lahapnya. Pangeran bertanya, kenapa dg mudahnya Ja In menyerah, apa karena
kelaparan? Ja In menjawab, bahwa untuk mulai menyerang, harus mengisi perut
terlebih dahulu. Tiba-tiba ia mengambil benda tajam dan menyerang Pangeran.
Tapi tentu saja pria lebih kuat. Saat itu Nam Yi dkk sudah menyerang. Pengawal
pribadinya melapor dan meminta pangeran untuk kabur menyelamatkan diri, tap
Pangeran sedang asyik menindih Ja In (belum begituan, masih dalam proses).
Akhirnya pangeran pun ditawan oleh Nam Yi. Badannya disiram alcohol dan diikat
dg selimut. Seo Goon akan membawa Ja In pergi, tapi Ja In tak mau dipisahkan
dengan kakaknya, sampai kakaknya menamparnya agar ia sadar bahwa sang kakak
menginginkan keselamatannya. Para prajurit dibunuh dan Pangeran dibakar.
Seo Goon dan Ja In menunggu Nam Yi di pondok dekat
sungai/laut. Seo Goon melepaskan alas kaki Ja In yg dari kain, diganti dengan
kain berbulu yg lebih hangat. Ja In menyimpan sebelah sepatu dari kakaknya di
balik bajunya. Tiba2 prajurit datang menyerang, tetapi berhasil Seo Goon
kalahkan, namun Ja In pingsan saat ikut melawan dan dilempar ke dinding pondok.

Sementara itu para prajurit pemanah yang hebat yg dipimpin
oleh Jyuushinta, tiba di perkemahan yg sudah hancur dan Pangeran mereka sudah
hangus. Mereka pun mengejar Nam Yi dan 2 pelayan. Terjadi kejar2an di hutan. 2
pelayan akhirnya mati, mengorbankan diri sementara Nam Yi harus terus lari.
Nam Yi melompati jurang ke tebing
seberang. Ia dihujani panah, namun bertahan di balik batu besar. Jyuushinta
punya ide, kalau mereka tidak bisa menyerang dari jauh, mereka harus menyerang
dari dekat. Ia melepaskan baju perangnya dan melompati tebing juga, diikuti teman2nya.
Beberapa mati, termasuk rekan yg paling dekat dengannya (atau saudara,
entahlah). Nam Yi pun berhasil kabur, tapi tidak lama karena ia ditemukan dan
tangannya terkena panah. Ia mencabut panah itu (ouch!), menempelkan darahnya ke
bambu2 sambil teriak2. Ia pun tersudut. Saat itulah, seekor harimau datang
menyerang para prajurit, hanya tersisa 4 orang.

Nam Yi menyiapkan panah baru dari bamboo dan beberapa ia
ambil dari panahnya anak buah Jyuushinta. Di balik semak, ia menghitung sisa prajurit
pemanah, lalu melepas panah ke kaki salah satu dari mereka. Saat saudara yg
terpanah itu datang untuk memapah saudaranya, Nam Yi memanah dengan teknik
entah apa sampai langsung menancap dua-duanya (sekali memanah, dua musuh mati –
peribahasa baru^^). Ia juga memanah Jyuushinta, tapi anak buah melindungi.
Jyuushinta kena sedikit dan ikutan jatuh, tapi Nam Yi pikir mereka semua sudah
mati.
Nam Yi menaiki kuda, melintasi padang rumput, di mana Ja In
dan Seo Goon sudah menunggu di ujung sana. Tetapi Ja In dan Seo Goon melihat
Jyuushinta mengarahkan panah pada Nam Yi dari jauh. Ja In melambai2 agar Nam Yi
sadar tanda bahaya, tapi Nam Yi tidak sadar. Seo Goon mau memanah, tetapi
tangannya luka hingga panahnya bergetar. Ja In mengambil alih panah Seo Goon
dan membidik Jyuushinta, tetapi mendadak ia menggeser bidikannya, kearah Nam Yi
yang terkejut. Dua panah dilepas, panah Ja In mengenai kaki kuda hingga Nam Yi
jatuh dan terhindar dari panah Jyuushinta. Jyuushinta memanah Ja In, tapi Seo
Goon melindungi dengan tubuhnya hingga ia yang terpanah. Jyuushinta berlari
mendekat ke arah Nam Yi, begitu pula dg Ja in yg sudah membawa pedang.

Nam Yi sadar dan bangkit dengan busur dan panahnya.
Jyuushinta juga membidik. Tetapi di tengah2 mereka ada Ja In yang menghalangi
dengan pedang. Ia ingin melindungi kakaknya. Dua panah sama2 dilepas. Panah Nam
Yi tidak kena sasaran karena terhalang badan Ja In, hingga ia menggeser
bidikan, sedangkan panah Jyuushinta menembus pinggir dada Ja In dan menancap di
dada/jantung/paru Nam Yi. Jyuushinta mengambil pedang Ja In, meletakkan di
leher Ja In sebagai tameng bagi dirinya. Nam Yi mencabut panah yang menancap di
dadanya hingga darahnya mancur. Dengan panah itu, ia membidik Jyuushinta. Panah
dilepas, melewati leher Ja In dan menancap di leher Jyuushinta.

(sampai di sini, dvdnya macet. Huaaahhhh). Akhirnya, Nam Yi
tewas. Ja In dan Seo Goon membawa mayat Nam Yi yang memeluk busurnya ke atas
perahu. Mereka bertiga naik perahu, entah kemana, mungkin kembali ke desa
mereka.
Ann Notes:
Film ini… KEREN!!! Alurnya memang biasa saja, termasuk ngga
masuk akal sih, bagaimana bisa satu orang melawan segitu banyak prajurit
pemanah yg terlatih. Tetapi ketegangan di film ini membuatku melupakan
misslogic itu. Teknik memanahnya keren, apalagi pas di akhir2.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar