Quotes

"Write is my World"

Senin, 15 April 2013

War Of The Arrow




Cast:
-          Park Hae Il as Nam Yi
-          Ryu Seung Ryong as Jyuushinta
-          Moon Chae Won as Ja In
-          Kim Moo Yeol as Kim Seo Goon
-          Park Ki Woong as Prince Dorgon
 
Film ini berdasarkan sejarah pada tahun 1636, di mana terjadi invasi kedua Manchu (China)  ke Joseon (Korea). Dalam sejarah aslinya, Raja Gwanghae yang memimpin Joseon pada masa itu memiliki kemampuan diplomasi tinggi hingga bisa berdamai dengan Later Jin (Manchu) dan Dinasti Ming. Tetapi karena kurang dukungan politik, ia tersingkir oleh Raja Inho yang merebut tahtanya hingga membuat hubungan Joseon dan Manchu memburuk, sampai terjadi dua kali invasi.
 
Ayah Nam Yi, Choi Pyeong Ryeong, adalah pejabat/menteri yang memihak pada Raja Gwanghae, maka ia tertuduh sebagai pemberontak dan keluarganya harus dihabisi. Nam Yi dan Ja In yang masih kecil harus dikejar-kejar oleh sekelompok anjing. Ja In terjatuh dan hampir saja dilahap anjing, namun ia beruntung karena sebuah anak panah melesat menusuk anjing itu. Ayah datang menggendongnya, lalu menyuruh Nam Yi kabur bersama adik ke sebuah desa tempat tinggal sahabatnya, dan dibekali busur panah warisan keluarga. Ayah berpesan, bahwa Nam Yi harus menjaga adik dengan baik “Mulai sekarang, kau adalah ayah Ja In.” Di hutan, Ja In merengek ingin pulang untuk menolong ayah. Rengekan itu mendatangkan anjing-anjing yg akhirnya melukai tangan Nam Yi, tetapi Nam Yi memukuli anjing itu sampai mati. Dari kejauhan, mereka menyaksikan ayah mereka terbunuh dg sadis. Nam Yi menutup mata adiknya ketika pasukan memenggal kepala ayah mereka.
 
Ketika sampai di rumah sahabat ayah, Kim Moon Jeon, mereka pun tinggal di sana sampai tiga belas tahun kemudian. Nam Yi tumbuh menjadi pria yang jago memanah, tetapi tampak suka malas-malasan, tidak mau latihan silat, tidak mau belajar. Kerjaannya mabuk dan berburu saja bersama 2 pelayan yg jadi sahabatnya. Suatu malam ketika habis berburu rusa, Seo Goon, anak Tuan Kim, mengajaknya minum di Gibang dg para Gisaeng yg cantik. Saat itulah Seo Goon menuangkan arak sambil minta restu untuk menikahi Ja In. Nam Yi awalnya menolak, namun ia memberi syarat, bahwa Seo Goon harus mengalahkannya duel dulu karena ia tak mau adiknya menikah dengan pria lemah. Tak disangka, Seo Goon yg hanya seorang pelajar, rupanya jago silat juga.
 

Gara-gara berkelahi di Gibang, mereka pun dihukum. Tuan Kim memukul betis Nam Yi dengan rotan dan mengomelinya yang suka bermalas-malasan, tidak mau jadi pejuang seperti ayahnya. Nam Yi tertegun, lalu menjawab bahwa ia tidak ingin seperti ayahnya yang hebat namun dituduh sebagai pemberontak, bukannya pejuang. Saat hendak keluar ruangan, Tuan Kim berkata bahwa yang memberi nama Ja In adalah dirinya, sedangkan yang memberi nama Seo Goon adalah ayah mereka. Dan dia akan merestui pernikahan Ja In dan Seo Goon. Nam Yi tidak menjawab apapun, sementara Seo Goon cengengesan happy.
 
Hari pernikahan tiba dan dirayakan dengan meriah. Nam Yi meletakkan sepasang sepatu cantik untuk adiknya yang sedang dirias. Nyonya Kim datang dan mengusirnya (mungkin, jika seorang gadis menikah, maka dia adalah milik keluarga pihak lelaki, nggak tinggal sama keluarganya lagi. Jadi karena Nam Yi adalah keluarga perempuan, dia nggak boleh lagi tinggal bersama mereka.). Saat naik tandu, Ja In membuka jendala tandunya, menatap sang kakak yang berdiri jauh di belakangnya dengan tatapan sedih. Tetapi ia tersenyum pada calon suami yang naik kuda di samping tandunya.
 
Ketika prosesi upacara dimulai, Ja In melihat teh dalam gelas kecil bergetar-getar. Firasatnya buruk. Hal yang sama juga dirasakan oleh Nam Yi yang memutuskan untuk berburu di hutan. Angin yang berhembus dan burung yang terbang rendah, membuat perasaannya tidak enak. Benar saja, karena dari kejauhan, tampak sekelompok pasukan berkuda dengan bendera Manchu menuju desa mereka. Nam Yi berlari untuk kembali ke desa. Tetapi tampaknya ia terlambat karena desa telah porak poranda. Banyak yang mati, banyak pula yang ditawan. Pesta pernikahan Ja In kacau dan sang mempelai ditawan dua-duanya. Ibu Seo Goon sempat menahan tali yang mengikat leher Ja In, tetapi pasukan menebasnya hingga tewas, di depan mata anak mantunya. Tuan Kim juga berusaha melawan mereka dengan keahlian silatnya, tetapi ia kalah jumlah, juga karena sudah tua. Ia mati tertusuk tombak, di depan mata anak mantunya.
 
Sementara itu, di tengah jalan, Nam Yi berpapasan dengan kepala-kepala pasukan Manchu, termasuk Putra Mahkota Dorgon. Awalnya mereka hanya menganggap Nam Yi sebagai warga desa biasa yg lemah. Nam  Yi lari dan dikejar satu prajurit yang menebasnya dengan pedang. Saat prajurit itu kembali, rupanya di lehernya sudah tertancap panah. Jadi Nam Yi belum mati. Ia pun lari dan dikejar oleh mereka semua. Ia terdesak di jurang dan jatuh. Ia divonis mati oleh pasukan Manchu. Tetapi ia tidak mati (kalo mati, filmnya tamat ^^). Entah bagaimana caranya, ia bisa kembali ke desanya yang sudah hancur. Ia menemukan sebelah sepatu Ja In, juga Tuan Kim yang sudah tewas. Ia mengangkat mayat Tuan Kim ke dalam rumah.
 
Sementara itu, tawanan dibagi dua, cewek2 yg cantik2 dibawa ke perkemahan tempat Putra Mahkota, sedangkan yg tua2 dan para lelaki akan menyeberang laut ke Manchu dijadikan budak. Ja In dan Seo Goon terpisah. Beberapa cewek sudah dibawa masuk untuk ‘melayani’ pangeran. Hingga tiba giliran Ja In, tetapi sampai di dalam ia melawan dan membunuh prajurit. Namun Pangeran malah merasa tertantang menaklukannya. Pengawal pribadinya berhasil melumpuhkan Ja In dan melepas baju atasnya, saat ia berkata dalam bahasa Manchu “Aku sudah berkeluarga!” Pangeran dan Ja In saling adu mulut dalam bahasa Manchu hingga Pangeran memutuskan dia diikat tanpa makan dan minum sampai dia menyerah dan melayani Pangeran.
 
Di tawanan satunya, ketua pasukan memberi pengumuman, dibantu oleh seorang penerjemah dari salah satu tawanan. Tapi diterjemahkan berbeda. Dan pengumuman terakhir, ketua memberi kesempatan siapa saja boleh pulang kembali ke desanya dalam hitungan 5 detik. Beberapa orang lari pulang termasuk istri dari si penerjemah. Penerjemah yg tahu kalau orang yg pulang itu malah tidak akan selamat, ia pun mengejar istrinya yg sedang menggendong putri mereka yg masih bayi. Ketua pun menyuruh anak buahnya membunuh mereka semua yg lari, termasuk si penerjemah. Saat istri penerjemah lari ke hutan dan akan ditebas, sebuah panah melesat menyelamatkannya. Sementara Seo Goon mulai bangkit semangatnya. Ia memilih untuk berjalan pulang (melawan perintah), walaupun 2 pelayan sudah melarangnya. Seorang prajurit berkuda datang hampir menebas kepalanya, tetapi seperti punya mata di belakang kepala, ia menunduk dan menjatuhkan lawannya, membunuhnya. Ketua tampak terkejut dan menyuruh prajurit lain melawannya, tetapi tetap kalah. Ia pun memanah Seo Goon, membuat cepol rambutnya lepas terurai. Panah kedua akan dilepaskan, tetapi sebuah panah melesat memutuskan tali busurnya. Nam Yi datang. Para tawanan memberontak dan para prajurit termasuk ketua pun mati. Nam Yi mencari2 Ja In, tetapi Ja In tidak ada diantara tawanan ini.
 
Nam Yi, Seo Goon dan 2 pelayan mengintai perkemahan. Seo Goon geram saat melihat istrinya yg diikat dan terhuyung jatuh. Tetapi teman2 menahannya, mereka harus pakai taktik, karena mereka kalah jumlah. Nam Yi berencana menculik pangeran agar ditukarkan dg Ja In (Ja In doang? Cewek2 lainnya gimana? Kasihan..). Ja In menyerah dan dipersilakan makan dengan lahapnya. Pangeran bertanya, kenapa dg mudahnya Ja In menyerah, apa karena kelaparan? Ja In menjawab, bahwa untuk mulai menyerang, harus mengisi perut terlebih dahulu. Tiba-tiba ia mengambil benda tajam dan menyerang Pangeran. Tapi tentu saja pria lebih kuat. Saat itu Nam Yi dkk sudah menyerang. Pengawal pribadinya melapor dan meminta pangeran untuk kabur menyelamatkan diri, tap Pangeran sedang asyik menindih Ja In (belum begituan, masih dalam proses). Akhirnya pangeran pun ditawan oleh Nam Yi. Badannya disiram alcohol dan diikat dg selimut. Seo Goon akan membawa Ja In pergi, tapi Ja In tak mau dipisahkan dengan kakaknya, sampai kakaknya menamparnya agar ia sadar bahwa sang kakak menginginkan keselamatannya. Para prajurit dibunuh dan Pangeran dibakar.
Seo Goon dan Ja In menunggu Nam Yi di pondok dekat sungai/laut. Seo Goon melepaskan alas kaki Ja In yg dari kain, diganti dengan kain berbulu yg lebih hangat. Ja In menyimpan sebelah sepatu dari kakaknya di balik bajunya. Tiba2 prajurit datang menyerang, tetapi berhasil Seo Goon kalahkan, namun Ja In pingsan saat ikut melawan dan dilempar ke dinding pondok.
 
Sementara itu para prajurit pemanah yang hebat yg dipimpin oleh Jyuushinta, tiba di perkemahan yg sudah hancur dan Pangeran mereka sudah hangus. Mereka pun mengejar Nam Yi dan 2 pelayan. Terjadi kejar2an di hutan. 2 pelayan akhirnya mati, mengorbankan diri sementara Nam Yi harus terus lari. Nam  Yi melompati jurang ke tebing seberang. Ia dihujani panah, namun bertahan di balik batu besar. Jyuushinta punya ide, kalau mereka tidak bisa menyerang dari jauh, mereka harus menyerang dari dekat. Ia melepaskan baju perangnya dan melompati tebing juga, diikuti teman2nya. Beberapa mati, termasuk rekan yg paling dekat dengannya (atau saudara, entahlah). Nam Yi pun berhasil kabur, tapi tidak lama karena ia ditemukan dan tangannya terkena panah. Ia mencabut panah itu (ouch!), menempelkan darahnya ke bambu2 sambil teriak2. Ia pun tersudut. Saat itulah, seekor harimau datang menyerang para prajurit, hanya tersisa 4 orang.
 
Nam Yi menyiapkan panah baru dari bamboo dan beberapa ia ambil dari panahnya anak buah Jyuushinta. Di balik semak, ia menghitung sisa prajurit pemanah, lalu melepas panah ke kaki salah satu dari mereka. Saat saudara yg terpanah itu datang untuk memapah saudaranya, Nam Yi memanah dengan teknik entah apa sampai langsung menancap dua-duanya (sekali memanah, dua musuh mati – peribahasa baru^^). Ia juga memanah Jyuushinta, tapi anak buah melindungi. Jyuushinta kena sedikit dan ikutan jatuh, tapi Nam Yi pikir mereka semua sudah mati.
 
Nam Yi menaiki kuda, melintasi padang rumput, di mana Ja In dan Seo Goon sudah menunggu di ujung sana. Tetapi Ja In dan Seo Goon melihat Jyuushinta mengarahkan panah pada Nam Yi dari jauh. Ja In melambai2 agar Nam Yi sadar tanda bahaya, tapi Nam Yi tidak sadar. Seo Goon mau memanah, tetapi tangannya luka hingga panahnya bergetar. Ja In mengambil alih panah Seo Goon dan membidik Jyuushinta, tetapi mendadak ia menggeser bidikannya, kearah Nam Yi yang terkejut. Dua panah dilepas, panah Ja In mengenai kaki kuda hingga Nam Yi jatuh dan terhindar dari panah Jyuushinta. Jyuushinta memanah Ja In, tapi Seo Goon melindungi dengan tubuhnya hingga ia yang terpanah. Jyuushinta berlari mendekat ke arah Nam Yi, begitu pula dg Ja in yg sudah membawa pedang.
 
Nam Yi sadar dan bangkit dengan busur dan panahnya. Jyuushinta juga membidik. Tetapi di tengah2 mereka ada Ja In yang menghalangi dengan pedang. Ia ingin melindungi kakaknya. Dua panah sama2 dilepas. Panah Nam Yi tidak kena sasaran karena terhalang badan Ja In, hingga ia menggeser bidikan, sedangkan panah Jyuushinta menembus pinggir dada Ja In dan menancap di dada/jantung/paru Nam Yi. Jyuushinta mengambil pedang Ja In, meletakkan di leher Ja In sebagai tameng bagi dirinya. Nam Yi mencabut panah yang menancap di dadanya hingga darahnya mancur. Dengan panah itu, ia membidik Jyuushinta. Panah dilepas, melewati leher Ja In dan menancap di leher Jyuushinta.

 
(sampai di sini, dvdnya macet. Huaaahhhh). Akhirnya, Nam Yi tewas. Ja In dan Seo Goon membawa mayat Nam Yi yang memeluk busurnya ke atas perahu. Mereka bertiga naik perahu, entah kemana, mungkin kembali ke desa mereka.

Ann Notes:
Film ini… KEREN!!! Alurnya memang biasa saja, termasuk ngga masuk akal sih, bagaimana bisa satu orang melawan segitu banyak prajurit pemanah yg terlatih. Tetapi ketegangan di film ini membuatku melupakan misslogic itu. Teknik memanahnya keren, apalagi pas di akhir2.
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar