Siapa bilang jadi wanita itu gampang ?
Apalagi
di jaman modern begini. Emansipasi, justru mensyaratkan tanggung jawab
lebih bagi para wanita. Perempuan dituntut untuk maju, cerdas, cantik,
dan punya peran penting di masyarakat, tapi harus tetap menjadi istri
dan ibu yang ideal bagi keluarganya.
Dania
Kartanegara adalah tipikal perempuan urban masa kini.. Ia seorang
presenter acara memasak terkenal sekaligus pemilik wedding organizer
ternama di Indonesia. Sekilas, hidupnya terlihat sempurna. Namun, tidak
banyak yang tahu kalau di balik kesuksesannya, ia menyimpan kesedihan
luar biasa akibat ketidakmampuannya menjadi seorang ibu. Di saat ia
berusaha menenggelamkan diri pada kariernya yang semakin meroket,
pernikahannya pun terguncang.
Haruskah ia meninggalkan karir yang telah dibangunnya dengan susah payah demi menyelamatkan pernikahannya ?
Sementara
itu Dion Dirgantara adalah seorang lelaki modern dan mapan. Ia selalu
berpendapat bahwa wanita dan pria harus berjalan sejajar, beriringan.
Namun di saat karier istrinya melesat tajam, membuat sang istri menjadi
idola masyarakat dan semakin sibuk sehingga nyaris tak punya waktu
untuknya, egonya sebagai lelaki mulai berontak. Kerenggangan hubungannya
dengan sang istri membuatnya mudah terbujuk wanita lain.
Akankah Dion tergoda ?
The Wedding Games,
Sebuah
cerita tentang cinta, dengan bumbu feminisme dan dilatarbelakangi oleh
kehidupan metropolitan yang sibuk dan modern. Bercerita dari sisi dua
anak manusia yang masih saling mencintai, tapi sama-sama keras kepala
dan merasa paling benar sendiri. Tapi di saat tak ada yang mau mengalah,
bukankah semua pihak akhirnya jadi kalah ?

Novel ini cocok dibaca bagi:
1. Pasangan suami istri yang masih mesra, biar tambah mesra
2. Pasangan suami istri yang kemesraannya sudah meredup, bahkan mungkin diambang perceraian seperti tokoh di novel ini, supaya mereka bisa baikan lagi.
3. Pasangan kekasih yg mau atau sedang merencanakan pernikahan(kayak gue), supaya bisa bersiap2 dalam menyongsong kehidupan pernikahan yg tak semudah yg dibayangkan.
Dari novel ini, Ann dapat kesimpulan kalau dunia pernikahan itu tidak mudah. Pasangan harus saling memahami dan ngga boleh ada namanya perang dingin. Mending berantem pakai acara piring terbang dan dikerumuni tetangga sekalian, dari pada diem2an karena kalo marah2an setidaknya kita bisa saling tahu apa kesalahan masing2 dan bisa diselesaikan(tapi ngga pake KDRT kalee). kalo diem2an kan ngga jelas siapa yg salah, ngga ada penyelesaian, ujung2nya cari "jajanan" di luar dan berakhir di pengadilan(cerai).
Soal masalah emansipasi(istri kerja di luar dan lebih dari suami), masing2 ngga boleh egois. Si istri harus bisa mengatur jadwal antara diluar dengan di rumah harus seimbang. Jangan terlalu banyak kegiatan di luar karena walau sudah emansipasi, tetap aja kodrat istri tuh ngemong suami dan anak di rumah. sementara si suami juga jangan egois, jangan minta diberi terus, tapi harus memberi juga.

Sejak kecil kita perempuan sudah dicekoki dg ide klasik pernikahan yg dianggap sbg happy ending, seperti di dongeng2 - sang putri menemukan pangerannya dan happily ever after, end- tapi kita tak pernah tau kalo setelah menikah, ternyata si pangeran menjelma menjadi lelaki bau ketek yg pemalas ^^ .
Semua cerita indah tentang pernikahan membuat kita begitu mengagungkan momen itu, mendambakan pesta spektakuler. Ini membuat kita lupa bahwa perikahan bukan akhir yg penuh kebahagiaan tapi awal baru. Pernikahan tak hanya sebatas pesta yg gemerlap, tapi proses panjang dan berliku. Pernikahan adl perjalanan dalam hidup yag terkadang penuh duri dan luka. Akan ada masanya kamu jadi begitu terbiasa dg pasanganmu sehingga kamu melupakan romantisme yg kalian miliki. Akan ada juga masa ketika kamu begitu marah padanya, sehingga kamu merasa tidak mencintainya lagi. akan ada masanya kamu begitu terluka hingga kamu merasa dia tidak mencintaimu lagi.
Tapi harus kamu ingat bahwa pernikahan adl komitmen yg sakral yg harus dijaga keutuhannya. Jika kalian menepati janji kalian, memupuk cinta dan saling menghormati, kalian akan mampu melewati banyak rintangan di depan nanti.
About Fanny:
Fanny Hartanti mulai menulis tak lama setelah ia meninggalkan kota kelahirannya, Jakarta. Buku pertamanya, Four Seasons in Belgium terbit th 2006. Sejak itu ia ketagihan menulis dan menelurkan C'est La Vie dan The Wedding Games. Saat ini dia bekerja di perusahaan multinasional di Antwerp, Belgia, dan tinggal di sana bersama suami dan putri semata wayangnya.Blog: http://veryfanny.blogspot.com
Twitter : @fannyhartanti

Tidak ada komentar:
Posting Komentar