
Cast
- Kwon Sang Won = Kang Chul Kyu / Key
- Lee Bo Young = Eun Won / Cream
- Lee Bum Soo = dr. Cha Joo Hwan
Key - You Don’t Know That I Love You
Penyanyi Lee Seung Chul sedang merekam untuk lagu terbarunya, tetapi tiba-tiba ia berhenti menyanyi, membuat manajernya bertanya-tanya.
“Pak, apa kau yakin menyukai lagu ini?” tanya Seung Chul.
“Tentu saja, para fansmu akan tergila-gila dengan lagumu ini!” Manajer mencoba meyakinkan.
“Ah, menyanyikan tentang wanita yang kembali padaku ketika usiaku sudah segini… rasanya aneh. Aku tidak yakin menyanyikannya,” kata Seung Chul sambil melepas headphone-nya dan keluar dari ruang rekaman.
Manajer terus mengejarnya, hingga mereka sudah berada di dalam mobil. Ketika mereka masih berargumen, nada-nada sendu mengalun dari dalam speaker mobil, menghentikan pertengkaran mereka.
‘To give you everything and all my love’
“Wow, liriknya bagus sekali. Kau dapat dari mana lagu ini?” tanya Seung Chul pada sang supir.
“Seseorang memberikan padaku, Pak,” jawab supir.
“Kau tahu penulisnya?” tanya Manajer.
“Uhm, aku kurang tahu. Aku mendapatkannya dari temanku yang pernah bekerja di radio. Sekarang ia membuka café. Kalau tidak salah dia asistennya Kang Chul Kyu, mantan produser radio.”
“Oh, aku kenal Kang Chul Kyu. Tolong bawa kami menemui temanmu!” perintah Manajer.
Ketika malam mulai menyapa, Manajer dan Seung Chul sudah duduk di depan api unggun. Di hadapan mereka, duduk seorang pria berkumis yang menyodorkan sebuah kaset CD.
“Apa judul lagunya?” tanya Manajer sambil membolak-balik cover CD.
“Di track yang kedua,” jawab pria itu sambil meminum cappucinonya.
“Oh, ‘No One Else’ oleh Cream? Cream? Siapa nama aslinya?”
“Kurasa namanya Eun Won.”
“Kau punya nomor handphone-nya?” tanya Seung Chul.
Mata pria itu meredup, “Dia… sudah pergi.”
“Pergi? Ke mana?”
“Setelah Kang Chul Kyu pergi, dia pun pergi.”
“Oh, Kang Chul Kyu mengenalnya? Kau tahu nomornya?”
Pria itu tersenyum tipis, “Dia… sudah meninggal.”
“Apa? Kapan? Kenapa aku tidak tahu?” Manajer terkejut.
“Sebulan setelah ia menikahkan Eun Won, wanita yang sangat dicintainya.”
“Menikahkan wanita yang dicintanya? Apa maksudnya?” tanya Seung Chul tak mengerti.
Pria itu menghela napas panjang, “Ceritanya sangat panjang…”
***


Aku melihatnya… Gadis itu… Dia berdiri di samping pagar besi, dengan sebatang rokok yang terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, sedang terkekeh melihatku yang sedang berlari keliling lapangan. Aku bukannya sedang tidak ada kerjaan hingga keliling lapangan di tengah hari bolong, tetapi aku sedang dihukum karena tidak mengerjakan pe-er.
Aku terengah-engah dan berbaring di atas bangku panjang ketika dia datang, memanggil namaku, menyemburkan asap rokoknya ke wajahku. Aku terbatuk. Tiba-tiba dia menyelipkan rokok itu ke bibirku. Aku bangun, menatapnya yang berlari pergi. Ketika aku membalikkan badanku…
PLAK!!!
Pak guru menamparku!
Sialan, gara-gara gadis itu, aku dihukum lagi. Betisku dipukul dengan kayu. Tetapi dia datang lagi, menawarkan diri untuk mengantarku pulang dan mengobati lukaku.
“Kau tinggal sendirian di sini?” tanyanya.
“Hm,” Aku hanya menggumam.
“Apa tidak membosankan tinggal di rumah sebesar ini sendirian? Bagaimana kalau aku tinggal bersamamu?”
“Hah?” aku menoleh, tepat ketika wajahnya berada sangat dekat dengan wajahku. Hidungku menghirup napas yang ia hembuskan, membuat paru-paruku sesak dan jantungku berpacu lebih kencang. Otakku belum bisa memikirkan apapun ketika bibir merahnya mengecup bibirku. Dia… mencuri ciuman pertamaku. Oh, juga rumahku. Dia merombak habis rumahku, menjadi lebih cerah dan berwarna.
Dia juga memberi nama panggilan baru. Dia Cream, dan aku Key. Karakternya dingin seperti es, tetapi lembut seperti es krim, makanya aku memanggilnya Cream. Sedangkan menurutnya, namaku terlalu sulit untuk disebut. Ia memanggilku Key, dari huruf K dalam lafal Inggris.
A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K…
Kami memiliki banyak kesamaan. Umur kami sama, kami sama-sama menyukai ramyeon, kami menyukai musik, kami menyukai kopi, kami menyukai hujan. Dan kami sama-sama membenci sekolah. Dia menyukaiku. Dan aku menyukainya.
Penjara dan cinta, sama-sama membelenggu. Jika kau sudah terbelenggu oleh keduanya, kau akan sulit lepas. Dan aku… aku jatuh cinta pada Cream. Namun aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku, bahwa aku sangat mencintainya, karena ada sel kanker di dalam darahku, yang akan membunuhku setiap saat…
***
Aku baru saja pulang dari radio tempatku bekerja saat melihat Cream bergelung selimut sambil sesenggukan.
“Hei, ada apa?” tanyaku sambil menyingkap selimutnya.
Ia memelukku erat dan menangis di pundakku, “Si brengsek itu menyuruhku menulis ulang.”
Aku mengusap-usap punggungnya, mencoba memberi ketenangan. Dia kini bekerja sebagai penulis lagu, sedangkan aku adalah produser sebuah stasiun radio. Jika liriknya sukses di pasaran, terkadang dia kuajak untuk jadi bintang tamu di radioku. Saat itu, kami sering bercengkerama tanpa suara dari kaca tebal yang membatasi kami. Entah itu menanyakan akan makan apa setelah ini, ataupun saling mengejek.
“ ‘If I Could Live Again’, bagaimana dengan judul itu?” tanyanya setelah ia menyelesaikan tangisnya.
“If I Could Live Again?”
“Ya. Jika kau bisa hidup kembali, kau ingin menjadi apa?”
Aku berpikir sejenak, “Hm… cincin…”
“Tunggu!” Cream melepas pelukannya dan menyalakan recorder. “Lanjutkan.”
“Cincin… sepasang gelas… kasur… buku harian.”
“Heh? Apa enaknya menjadi benda-benda itu?”
“Kau bisa membeliku. Akan menjadi sangat menyenangkan bisa terus berada di sisimu.” Aku merapikan rambutnya yang acak-acakan dan menghapus air matanya, “Ayo makan malam.”
Selagi aku memasak, dia duduk menatapku, “Key, apa ada yang ingin kau katakan?”
“Maksudmu?” tanyaku sambil menyeruput sup. Ugh, belum cukup asin.
“Rahasia tergelap? Anggap saja sedang pengakuan dosa di gereja. Aku akan diam dan mendengarkan.”
“Rahasia?” Aku meletakkan panci sup di meja makan dan menuangkannya ke mangkuk kami masing-masing. “Aku menyukaimu.”
Kami terdiam beberapa saat, hanya kecapan dari mulutku yang terdengar.
“Apa kau memiliki sebuah keinginan?” tanya Cream.
Aku berhenti mengunyah, “Pertama, pegang sendokmu.”
Ia memegang sendoknya, “Lalu?”
“Makanlah.”
Ia menyendok nasinya dan mulai mengunyah, “Lalu?”
“Temuilah lelaki terbaik dan menikahinya.”
Ia diam sejenak, “Tak bisakah aku menikah denganmu?”
Aku terkekeh, “Aku bukan lelaki terbaik.”
***
***
Sarangiran keu mareun mothaedo

***
“Aku jatuh cinta,” kata Cream ketika aku sedang menggosok rambutku yang penuh shampoo.
“Dia dokter tamu di radio. Dokter gigi,” lanjutnya.
Aku membiarkan air pancuran mengguyur tubuhku yang terpaku membeku. Bukankah ini yang kuinginkan? Melihat Cream menikah dengan pria baik dan sehat. Tetapi… seperti ada duri yang menusuk-nusuk hatiku. Sesak… sakit… perih…
Tanpa sepengetahuannya, diam-diam aku menyelidiki dokter yang dimaksud. Namanya Cha Joo Hwan, dokter gigi yang cukup terkenal di Seoul. Dia berasal dari keluarga baik-baik dan cukup kaya. Aku bahkan mengecek medical recordnya, dia sehat wal’afiat. Tetapi sayangnya, dia memiliki seorang tunangan. Oh, Cream pasti akan patah hati.
***
Pagi ini aku memasak rumput laut, telur dadar dan jajjangmyeon, tetapi Cream begitu buru-buru. Ia hanya sempat memakan beberapa sumpit telur dan minum susu. Ah, bagaimana aku menghabiskan makanan sebanyak ini sendirian?
Ketika aku sedang makan dengan mulut penuh, aku mendengar ringtone handphone Cream berdering. Astaga, saking buru-burunya, dia meninggalkan handphonenya.
“Halo?”
“Ini… handphone Eun Won?”
“Ya?”
“Bisa bicara sebentar dengannya?”
“Oh, dia baru saja keluar rumah.”
“Aku Cha Joo Hwan. Kami janjian bertemu hari ini, tapi terjadi sesuatu di klinik. Bisakah anda memberitahunya?”
“Di mana kalian janjian?”
Aku mendatangi sebuah café. Ia tampak terkejut melihatku yang sudah duduk di sampingnya.
“Dia tidak datang,” kataku sambil menyerahkan handphonenya yang ketinggalan.
Aku beranjak pergi, tetapi ia menahanku untuk menemaninya makan kari. Setelah menemaninya makan, aku menemui seorang manajer artis yang selalu mengejar-ngejarku untuk mengorbitkan artis barunya. Kebetulan dia tahu tentang dr. Cha, sehingga aku pun mengabulkan keinginannya yang ditukar dengan informasi tentang dokter itu. Dia memberiku beberapa lembar foto seorang wanita yang sedang bercinta dengan seorang pria di dalam mobil.
“Ini tunangannya dr. Cha,” bisiknya.
“Dan pria ini…”
“Selingkuhannya.”
Bersama Min Chul, asistenku, aku menemui wanita itu di tepi sungai Han. Ia tampak menggeram marah setelah kutunjukkan foto-foto itu.
“Apa yang dia inginkan?” tanyanya pada Min Chul sambil menggemelutukkan giginya.
“Me… memutuskan hubungan pertunanganmu,” Min Chul tergeragap.
Tanpa kuduga, ia menamparku, juga Min Chul. Ia memukuli kami dan mengambil foto-foto itu dari tanganku. Uhm… lebih tepatnya aku yang memberikan foto-foto itu agar ia berhenti memukuli kami.
“Aish… apa yang kau lakukan, Bos? Kau itu produser radio yang terkenal, kenapa kau mengancam wanita dan dipukuli seperti itu? Apa kau tidak malu?” omel Min Chul ketika kami sedang minum-minum untuk menghilangkan stress pasca dipukuli wanita.
“Aku tidak punya kesempatan untuk merasa malu.”
“Heh? Kau bicara apa? Oh, kepalaku…” rengeknya sambil memegang keningnya.
Aku mengusap wajahnya, “Sakit ya? Aku juga sakit.” Sakit yang kumaksud bukan sakit fisik, tetapi sakit di dalam hatiku. Tetapi aku tidak ingin menangis, juga tak ingin membuat seseorang menangis.
Entah mengapa aku jadi teringat masa kecilku. Ayahku meninggal karena penyakit yang sama denganku. Ibuku meninggalkanku di sebuah panti asuhan. Aku tidak menyalahkannya. Mungkin hati ibu selalu merasa sakit, karena saat melihatku selalu mengingatkannya pada ayahku. Tetapi setelah ia meninggalkanku, aku merasa kesepian. Aku mengerti rasa sepinya ditinggalkan. Jadi aku tak ingin meninggalkan Cream sendirian. Karena manusia tidak dapat hidup sendiri.
Aku menulis surat untuk tunangan dr. Cha, plus medical record-ku yang menyatakan bahwa umurku tak lama lagi. Aku berharap ia mengasihaniku dan mengabulkan keinginanku. Kami bertemu lagi di sebuah café, berdua saja. Di luar dugaan, dia menyetujuinya, asal aku mau jadi modelnya. Dia adalah seorang fotografer bernama Jenna. Menurutnya, memotret orang yang hampir mati adalah sesuatu yang menarik. Entah menariknya di mana, tetapi aku menyetujuinya. Apapun, asal Cream bahagia.
***

Aku, Cream dan beberapa rekan kami berpesta soju di sebuah kedai. Dr. Cha juga datang. Aku mendorong Cream untuk duduk berdampingan dengan pria itu.
“Hai, aku yang mengangkat telponmu waktu itu. Aku Kang Chul Kyu,” kataku memperkenalkan diri pada pria itu.
Ia menyapaku hangat dan memperkenalkan dirinya juga. Ia begitu ramah dan sopan. Benar-benar lelaki yang baik. Ia mengambilkan beberapa potong cumi untuk Cream. Aku senang melihat mereka mengobrol akrab.
Ketika aku baru mulai makan, aku merasakan pusing hebat di kepalaku. Aku tak ingin pingsan di dalam kedai dan membuat kehebohan, terlebih lagi jika membuat Cream khawatir. Aku berpamitan dengan alasan ada pekerjaan yang belum selesai. Cream menahanku, tetapi rasa pusing ini tak tertahankan lagi bila aku tetap berada di sini.
Butiran salju berjatuhan di rambutku begitu aku keluar dari kedai. Tangan kananku memijit-mijit keningku yang mulai berkunang-kunang. Tubuhku sempat oleng dan membentur tembok. Kusempatkan diri untuk menoleh ke kedai, takut bila ada yang melihatku hampir pingsan. Tapi untungnya tidak ada yang melihat. Cream tampak sedang berdiri membelakangi jendela. Aku meneruskan perjalananku dan berharap dapat sampai di rumah dengan selamat.
Sampai di rumah, aku memakan ramyeon dengan kerupuk beras. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka.
“Loh, kok cepat pulangnya?” tanyaku pada Cream yang meletakkan mantelnya di meja.
“Kau sendiri? Katanya ada rekaman.”
“Tidak jadi.”
Ia menarik mangkukku, juga sumpitku dan memakan ramyeon-ku. Aku mengambil sumpit lagi dan kami makan semangkuk berdua. Romantis, bukan? Yah, romantis, seandainya kami memang sepasang kekasih.

***
“Jika kau dapat menghentikan waktu, apa yang akan kau lakukan pertama kali?” tanya Jenna sambil menekan tombol kameranya. Aku mengerjap silau oleh kilat blitz-nya.
“Bagaimana seandainya semua orang membeku, dan hanya kau yang dapat bergerak?” Jenna terkekeh sendiri sambil terus memotretku, “Jika waktu berhenti, tentu saja kau tidak akan mati, bukan? Apa kau ingin hidup?”
Aku hanya menengadah menatapnya dan tetap diam.
“Kenapa kau diam saja? Okay, kau akan mati dan meninggalkan wanita yang kau cintai. Tetapi aku tak habis pikir dengan rencanamu yang membiarkan wanitamu menikahi orang lain,” katanya sambil merapikan rambutku. “Kau belum mati.”
Aku mengacuhkan ocehannya dan menagih janjinya, karena sampai hari ini dia belum memutuskan pertunangannya. Ia hanya menghela napas tak senang, tetapi ia berkata bahwa ia tak pernah mengingkari janji.
Beberapa hari kemudian, aku sudah melihat dr. Cha sering mengunjungi Cream di radio. Mereka bercengkerama tanpa suara saat Cream ada di dalam ruang rekaman, seperti yang biasanya kami lakukan. Tetapi kini Cream melakukannya dengan dr. Cha. Aku… merasa sedikit iri.
Aku berpaling ke pojok ruangan. Bukan, aku bukannya merasa sedih atau sakit hati, karena bukankah memang ini yang ku mau? Aku menyingkir karena direktur menelponku untuk segera ke ruangannya. Kabar buruk, aku diminta untuk mengundurkan diri, alias dipecat. Ini karena aku sering mengundang Cats, artis orbitannya Manager Kim yang sudah membantuku mencari informasi tentang dr. Cha. Yah, ini memang semacam KKN dan sudah sepantasnya aku mendapatkan pemecatan ini. Namun aku mengaku-ngaku pada semua orang bahwa aku mengundurkan diri dengan sukarela karena akan pergi ke Amerika. Ya, aku memang akan pergi dan tak akan kembali.
***

Cream menyalakan sebuah cd instrument lagu ballad. Kali ini ia akan membuat lirik lagu ballad. Ia bertanya tentang pendapatku mengenai sebuah pernikahan sambil merekam suaraku.
“Pernikahan itu seperti sebuah sikat gigi, di mana hanya ada satu gagang, tetapi banyak sikatnya…. Menikah itu… bergabung menjadi satu seperti sikat di satu gagang.”
“Menurutmu, apa aku harus segera menikah?”
Aku terkekeh, “Bodoh, bagaimana kau akan menikah kalau belum dilamar?”
Ia mematikan rekamannya dan beranjak pergi. Beberapa hari kemudian, ia mengabari bahwa dia akan segera menikah dengan dr. Cha. Dia bahkan mengaku bahwa dialah yang melamar pria itu duluan. Aku hanya terkekeh mendengarnya. Dia memang gadis yang berbeda. Dan karena itulah aku mencintainya.
Karena Cream sudah yatim piatu dan sebatang kara, hanya akulah yang dia punya, sebagai teman juga sebagai kakak. Jadi dr. Cha mengajakku ke sebuah café untuk melamar Cream secara resmi. Aku menjelaskan status hubunganku dengan Cream agar pria itu tidak salah paham.
“Kami memang tinggal bersama, tetapi tidak pernah ada apa-apa di antara kami. Dia sudah kuanggap seperti adik sendiri.”
“Ya, aku tahu. Terima kasih karena kau sudah menjaganya selama ini. Kapan-kapan ayo kita jalan-jalan bertiga.”
Aku terkekeh, “Kedengarannya menyenangkan.”
Pelayan datang meletakkan dua cangkir teh hangat.
“Dia juga memintamu menemaninya memilih gaun pengantin.”
Aku terkejut, “Hah? Mengapa aku?”
“Aku hanya mengikuti apapun yang dia inginkan. Tolong lakukan itu untuknya.”
Aku mengaduk-aduk tehku ketika dia melanjutkan, “Dan kuharap ini adalah hal terakhir yang dapat kau lakukan untuknya, karena dia kini adalah wanitaku, bukan?”
Sendok yang berputar-putar di dalam gelasku terhenti. Aku menengadahkan wajahku, “Tentu. Jagalah dia baik-baik, Dokter.”

***
Sebuah tirai tersibak, memunculkan seorang bidadari cantik yang bersembunyi di dalamnya. Cream mengenakan sebuah gaun putih tanpa lengan yang sangat anggun. Sebuah mahkota kecil tersemat di rambutnya, disertai cadar brokat yang menjuntai ke belakang. Ia benar-benar seperti bidadari. Walaupun aku memang tidak pernah bertemu dengan bidadari, tetapi aku yakin bahwa tidak ada satupun dari mereka yang lebih cantik dibandingkan dengannya.
“Bagaimana?” tanyanya sambil bergaya ala model karpet merah.
“Sangat cantik,” pujiku setulus hati.
“Sekarang saatnya pengantin pria mencoba jas,” kata pemilik butik.
Aku melongo, “A… aku bukan pengantin pri…”
“Coba saja,” Cream memotong kata-kataku.

Aku tertegun, tetapi akhirnya aku mengenakan jas pengantin pria juga. Ia menarik tanganku dan menggandengku sambil meletakkan kepalanya di bahuku. Ia meminta pemilik butik untuk memotret kami. Foto itu langsung jadi, sehingga kami bisa langsung melihatnya. Tetapi aku tak ingin melihatnya. Aku turun dari ruang fitting sementara Cream ingin mencoba gaun yang lain lagi.
Aku melepas jas serta dasi pengantin pria sambil bercermin dan berusaha menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar dari kelopaknya. Sejenak tadi aku sempat benar-benar merasa seperti menjadi seorang pengantin pria bagi Cream. Ini adalah impianku yang sesungguhnya. Impian yang tak akan pernah bisa kuwujudkan.
Enam buah jam dinding tergantung dihadapanku. Tapi tidak ada satupun jarum jam yang bergerak. Aku berdiri dan menyalakan salah satu jam hingga jarum detik mulai bergerak maju. Aku kembali duduk di samping Jenna.
Tak bisa tertahan lagi, aku berlari keluar dari butik itu dengan berlinang air mata. Aku menangis dengan suara yang cukup kencang, tetapi aku tak peduli dengan pandangan orang-orang yang berjalan di sekitarku. Hatiku terlampau perih. Terluka parah. Sekarat.
Bagaimana seandainya semua orang membeku, dan hanya kau yang dapat bergerak?
Jika itu terjadi, aku akan menggunakan waktu itu untuk menangis sepuasnya, sekencang-kencangnya. Seperti saat ini, aku menganggap waktu telah berhenti, orang-orang di sekitarku mematung. Dan aku duduk di tengah jalan, menangis sepuasnya, sekencang-kencangnya.
***

“Boleh aku meminta sesuatu darimu?”
“Apa?”
“Maukah kau mengirimkan dia bunga beberapa tahun di ulang tahun pernikahan mereka?” Jenna tampak melengos, tetapi aku melanjutkan, “Dia pasti curiga jika aku menghilang tiba-tiba.”
Tiba-tiba Jenna menarik wajahku dan mencium bibirku. “Meninggallah di sisiku…”
***
Cream sedang memasak sambil menelepon ketika aku baru saja pulang. Tiba-tiba ia menghampiriku, mengambil ponselku dari kantong mantelku dan menelepon seseorang, “Oh, maaf tadi handphoneku low-bat. Aku akan men-charge dan meneleponmu lagi. Bye…”
Ia kembali ke pantry sambil tetap menggenggam handphoneku. Lalu handphoneku berbunyi, “Oh, ini untukmu,” katanya sambil menyodorkan benda itu padaku. Aku mengambilnya, tetapi langsung membantingnya. Ia berhenti memotong sayur dan menatapku bingung.
“Kau pikir kau siapa? Siapa yang memperbolehkanmu menyentuh handphoneku? Kau…” tangisku hampir pecah, aku menelan liurku yang terasa asin, “siapa bilang kau dapat melakukan apapun bersamaku?”
Aku berjalan menuju kamar dan membanting pintu. Tak lama kemudian, dia mengetuk pintu kamarku, mengatakan bahwa ada seseorang yang datang mencariku. Aku keluar dan melihat Jenna sudah berdiri di depan pintu rumahku.
Kami pergi berdua ke sebuah toko bunga.
“Dia cantik. Pantas kau menyukainya. Tetapi apa menurutmu dia bahagia? Aku rasa tidak.”
“Aku ingin kau mengirimkan bunga ini padanya tiga tahun berturut-turut,” kataku mengalihkan pembicaraan sambil mengambil pot bunga kaktus mungil.
Jenna menyeringai sambil mendengus pendek, “Cantik. Tapi terlihat palsu. Seperti cintamu.”
“Jadi, apa yang asli?”
“Asli?” Ia memotretku, “Ketika kau lapar, kau makan. Ketika kau terluka, kau menangis. Kalau kau bahagia, kau tertawa. Tidak menahan perasaan seperti yang selama ini kau lakukan. Kau sungguh ingin mati seperti ini?”
Aku menoleh padanya. Mataku telah penuh dengan air mata. “Tidak. Aku tak ingin mati seperti ini. Aku ingin hidup bahagia. Aku ingin menikahi Eun Won. Tapi… itu cuma mimpi. Mimpi yang sedih. Aku telah berhenti untuk bermimpi.”
Ketika aku pulang, rumah sudah sepi. Di dalam kamar, aku mengirim sms padanya, mengucapkan selamat tidur. Tetapi dia mengajakku untuk makan malam. Kami makan bubur di dapur dalam diam. Kami hanya bicara lewat sms, saling meminta maaf, untuk segalanya. Aku mengetik ‘aku mencintaimu’, tetapi segera kuhapus dan mengetik ‘aku menyayangimu’.
Besok pagi, saatnya aku melepas dirinya untuk selamanya. Kami bergandengan tangan berjalan menuju depan altar gereja. Dia mengenakan gaun pengantin yang sangat anggun, sedangkan aku mengenakan jas hitam yang keren. Sepintas, kami seperti sepasang pengantin yang serasi. Tetapi di depan altar sudah ada pria lain yang menunggunya. Aku melepas genggaman tangan Cream untuk menyerahkan ke dr. Cha. Cream tampak enggan melepas gandengannya, tetapi aku menepuk lembut punggung tangannya dan menyerahkan tangan yang terbungkus sarung tangan brokat itu ke tangan dr. Cha.
Ketika mereka telah berdiri di hadapan altar, aku berbalik dan berjalan keluar dari gereja. Aku sudah selesai. Kini aku dapat pergi dengan tenang.

~~~
Cream – I Know That You Love Me
Api unggun masih membara. Lee Seung Chul dan Manajer sama-sama menghela napas panjang setelah mendengar cerita tragis nan romantis tentang Kang Chul Kyu dari asistennya itu. Ketika dalam perjalanan pulang, tiba-tiba Seung Chul mengajak rekaman. Ia ingin menyanyikan lagu yang ditulis oleh Cream itu.
Sementara itu, di sebuah studio foto, Jenna meletakkan sebuah pot bunga kaktus di atas meja. Di depan meja itu terpasang puluhan foto Kang Chul Kyu alias Key. Di sana kini telah berdiri tiga bunga kaktus. Tiga bunga kaktus, tiga tahun telah berlalu.
Jenna berjalan melewati enam buah jam dinding yang mati, hanya satu yang detiknya berjalan maju. Tik… tok…. Tik… tok… Jarum jam itu mendadak berhenti sejenak, kemudian tiba-tiba ia berjalan mundur… Mundur… Mundur…
***
Kriiiinnnggg…
Aarrrgghhh… bunyi alarm ini sangat menggangguku! Segera kumatikan alarm jam bekerku sambil terus bergelung di atas ranjang. Sayup-sayup aku mendengar suara Key berpamitan dan menyuruhku untuk segera bangun. Aku merayap menuju meja kecil di dekat kasurku, di mana ada sebuah laptop yang masih menyala, menampilkan halaman kosong Microsoft word. Aku ingin mengetik sebuah lirik lagu, tetapi otakku buntu.
Ah, aku ingat kalau Key mempunyai sebuah vitamin, entah vitamin apa itu. Katanya dia bisa jadi pintar setelah meminumnya. Siapa tahu ide lirik laguku bisa keluar jika aku meminumnya. Aku memeriksa mantel-mantelnya dan menemukan botol vitamin itu.
Uweeekkk… rasanya tidak enak. Vitamin apa yang rasanya pahit sekali? Aku memakan dua biji dan tiba-tiba aku merasa rumah ini bergoyang-goyang. Gempa, kah? Aku harus keluar sebelum atap rumah meruntuhiku. Tetapi aku kesulitan berjalan. Kepalaku terasa sangat pusing. Akupun terjatuh ke atas ranjang sebelum mataku benar-benar tertutup.
***
“Dari mana kau dapat pil ini?” tanya seorang dokter ketika kutunjukkan pil itu.
“Itu milik temanku.”
“Sejak kapan dia mengkonsumsinya?”
“Me… memangnya kenapa?”
“Penyakitnya pasti sangat parah sehingga ia mengkonsumsinya. Obat ini untuk penyakit kanker yang ganas seperti leukemia...”
Tiba-tiba aku seperti merasa berada di dalam sebuah kegelapan. Butir-butiran salju berjatuhan. Aku melihat orangtua dan adikku berada di dalam mobil, melambaikan tangannya padaku. Mobil itu melaju, dan aku melihat Key ada di antara mereka. Aku berlari mengejar mereka sambil menangis. Tidak… mereka tidak boleh pergi… Tetapi semakin jauh aku berlari, aku tetap tidak bisa menggapai mereka.
Ketika aku mengetahui fakta tentang vitamin ABCD itu, ketika aku mengingat kematian keluargaku, ketika seluruh duniaku berubah menjadi gelap gulita, aku merasa sudah lebih dulu mati daripada Key.
Sebenarnya, jauh sebelum dia mengenalku, aku telah mengenalnya lebih dahulu. Setahun setelah kepergian keluargaku, aku bertemu dengannya. Dia duduk bersama ibunya di belakangku. Aku merekam pembicaraan mereka. Aku melihatnya berdiri di depan jendela ketika ibunya pergi. Ia berdiri membeku seperti batu, menangis sambil melihat kepergian ibunya. Dia tampak lebih kasihan daripada aku. Dia lebih membutuhkan pelukan daripada aku.
Aku menangis di dalam gelungan selimut, menangisi kenyataan bahwa dia akan pergi meninggalkanku selamanya. Selimutku terbuka. Dia… masih ada di sampingku. Aku memeluknya erat, aku tak ingin melepaskan.
“Apa kau memiliki sebuah keinginan?” tanyaku
“Temuilah lelaki terbaik dan menikahinya,” jawabnya.
“Tak bisakah aku menikah denganmu?”
Key terkekeh, “Aku bukan lelaki terbaik. Seseorang yang sehat dan baik, yang tahu bagaimana melindungi keluarganya.”
Aku sudah menemukan pria yang baik itu, tetapi dia menyuruhku untuk mencari pria yang lain.
***
Ketika aku mendengar dia pingsan, aku bergegas ke rumah sakit, berlari-lari seperti orang gila.
“Bagaimanapun, dia harus tahu keadaanmu,” aku mendengar suara dokter yang sedang berbicara dengannya.
“Jangan, Dok.”
Dokter itu menghela napas, “Jadi apa yang ingin kau lakukan?”
“Aku tidak tahu. Rasanya seperti ada jarum yang tersangkut di dalam tenggorokanku…” Key menunjuk lehernya, “di sini.”
Tanganku menutup mulutku agar tangisku tak terdengar.
“Aku tidak bisa mengatakannya. Dia berbeda. Dia butuh seseorang di sampingnya.”
Aku tak tahan lagi. Aku bisa memuntahkan tangisku di sana dan Key pun akan tahu bahwa aku mengetahui segalanya. Aku segera keluar dari kamarnya dan menangis di luar.
Baiklah, jika ia menginginkan aku menikahi pria baik selain dirinya, apapun yang dia inginkan, akan aku lakukan. Aku memilih seorang pria. Dari yang kudengar, dia adalah seorang dokter gigi yang kaya dan baik hati. Juga sehat tentunya. Dokter dan kesehatan. Sempurna.
Kebetulan dia diundang oleh radio tempat kami bekerja. Ketika sedang break, kulihat ia sedang duduk santai sambil minum kopi. Aku berjalan ke mesin kopi dan menekan tombol. Kopi mengucur keluar, tetapi tidak ada gelas yang menampungnya. Aku menoleh padanya.
“Hei, gelas itu masih kau pakai?”

Ia menatapku bingung, tetapi tetap menyodorkan gelas kertas yang sudah kosong kepadaku. Aku menerimanya dan mengisi gelas itu dengan kopi, lalu meminumnya.
“Hm… di mana tadi kau meminumnya?” tanyaku setelah aku meminum separuh.
“Hah?”
Aku menyodorkan gelas itu kembali kepadanya, “Ini bukan ciuman tak langsung, kan?”
Aku meninggalkan pria yang masih terbengong-bengong itu. Keesokan harinya, aku mendatangi tempat prakteknya. Setelah ia memeriksa gigiku, aku berkumur dan berkata, “Di hari pertama bertemu, kita ‘berciuman’. Di hari kedua, kau melihat ke dalam diriku. Jadi apa yang akan kita lakukan di hari ketiga?”
Lagi-lagi ia bengong sambil melirik perawatnya yang juga bengong. Di pertemuan kami yang ketiga, kami minum bersama.
“Kau pernah jatuh cinta? Rasanya seperti menjadi sebuah batu yang dibuang, syuuuu… ke dalam jurang.”
Aku meminjam cincin yang melingkar di jari manisnya, mencemplungkan cincin itu ke dalam gelas berisi wine, lalu meminumnya. Glup… Aku memasukkan jariku ke dalam mulut dan mengeluarkan cincin itu, “Seperti ini, rasa cinta menurutku.”
“Aku sudah bertunangan.”
Aku menyemburkan tawa, lalu menyodorkan gelasku yang telah kuisi lagi, “No problem. Cheers.”
Bodoh, aku tidak peduli apakah kau sudah tunangan ataupun menikah sekalipun. Kita hanya perlu bermain-main sebentar dan bertemu dengan Key. Ugh, apa aku ini pelacur? Cih, aku tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan hal seperti itu. Lelaki yang kucintai akan mati.
***

Suatu malam, Aku dan Key makan bersama dengan Cha Joo Hwan dan rekan-rekan yang lain, aku begitu khawatir ketika dia pamit pulang duluan. Aku terus memperhatikannya yang berjalan keluar kedai. Aku tersentak berdiri ketika tubuhnya oleng dan menabrak tembok, hingga gelas-gelas dan botol soju bergelimpangan karena ulahku. Semua rekan mengkhawatirkanku. Joo Hwan menyeka tanganku yang basah karena soju. Tetapi aku segera meninggalkan mereka.
Aku berjalan di belakang Key, mengikutinya. Jika kali ini ia berbalik badan hingga keberadaanku ketahuan, aku bersumpah pada diri sendiri akan mengaku bahwa aku telah mengetahui segalanya. Aku akan memeluknya dan tak akan pernah melepaskannya. Tetapi ia tidak menoleh ke belakang, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Apalagi setelah beberapa hari kemudian, Joo Hwan mengumumkan padaku bahwa ia telah putus dengan tunangannya dan mengajakku berkencan. Aku menerimanya, semata-mata demi mewujudkan keinginan dari pria yang kucintai.

***
“Menurutmu, apa aku harus segera menikah?”
“Bodoh, bagaimana kau akan menikah kalau belum dilamar?”
Dia ingin aku menikah, jadi aku mendatangi Joo Hwan dan langsung menghujani bibirnya dengan ciuman. Ia hanya menatapku bingung tanpa membalas ciumanku.
“Bisakah kita menikah secepatnya?”
Wajahnya tampak begitu sumringah. Ia menarik wajahku dan mencium bibirku dengan begitu menggebu.
Aku mengajak Key menemaniku fitting baju pengantin. Aku menyuruhnya memakai jas pengantin pria dan berfoto denganku. Jika aku tidak pernah bisa menikah dengannya, setidaknya aku ingin punya sebuah foto dengan pakaian pengantin bersamanya.
Tetapi setelah melihat hasil foto itu, aku tak tahan untuk membanjiri pipiku dengan air mata. Aku menyuruhnya keluar dari ruang fitting agar aku dapat menangis sepuasnya. Aku berjongkok, membenamkan wajahku ke dalam kedua lengan yang bertumpu di lututku. Pemilik butik terkejut melihatku dan beberapa kali menanyakan, apakah aku baik-baik saja? Tidak. Aku tidak baik-baik saja. Pria yang sangat ingin kunikahi, menyuruhku menikahi pria lain. Pria yang sangat kucintai akan mati.
Setelah puas menangis, aku mencoba gaun lain. Ketika tirai ruang fitting dibuka, Key sudah tidak ada di sini.
Ini terlalu menyakitkan. Aku ingin menikah dengannya! Bukan dengan Cha Joo Hwan atau pria manapun! Hanya dengannya. Kang Chul Kyu. Key.
***
Key membanting handphonenya setelah aku meminjamnya tanpa ijin. Ia marah dan membanting pintu kamarnya. Aku tak mengerti mengapa ia jadi begini. Apa salahku? Bukankah aku telah menuruti apapun keinginannya?
Kemudian bel rumah berbunyi. Seorang wanita berambut pendek berdiri di depan pintu rumah. Dia tinggi dan sangat cantik.
“Cari siapa?”
“Apa Key ada?”
“A… apa?”
“Key.”
Aku tertegun sejenak. Tidak ada yang pernah memanggil inisial kami selain kami sendiri. Semua orang memanggilku Eun Won, sedangkan dia Kang Chul Kyu. Hanya dia yang boleh memanggilku Cream, dan hanya aku yang boleh memanggilnya Key. Tetapi wanita ini…
Aku mengetuk pintu kamar Key. Ia pun pergi keluar bersama wanita itu. Padahal makan malam yang kubuat baru saja selesai. Makan malam terakhir bersamanya, sebelum aku menikah besok dan tidak bisa makan bersamanya lagi selamanya. Selain karena aku harus makan bersama suamiku, juga karena dia akan pergi selamanya.
Aku membuang masakanku beserta wadahnya sekaligus ke dalam tempat sampah. Aku menangis di tengah kesendirian di dalam kamarku ketika kudengar bunyi sms di handphoneku.
‘Sleep tight and sweet dream. Key.’
‘Apa kau sudah makan?’ balasku.
Untungnya bubur tadi siang masih ada. Aku memanaskannya dan kami makan bersama dalam diam. Kami hanya bertukar kata lewat sms, padahal kami sedang duduk berdampingan. Kami saling mengucapkan maaf dan berbaikan kembali. Aku ingin mengatakan padanya, bahwa aku sangat mencintainya. Tetapi air mataku akan jatuh sebelum aku mengatakannya. Jadi aku diam. Lagi.
***
Dalam balutan gaun putih aku menggandeng tangannya. Sesaat aku merasa bahagia, kami seperti sepasang pengantin sungguhan ketika kami berjalan menuju altar. Aku berharap altar yang kami tuju tak kunjung sampai, karena aku masih ingin berjalan bersamanya. Tetapi itu tidak mungkin terjadi.
Ketika kami sudah sampai di depan, ia menyodorkan tanganku kepada Joo Hwan. Aku menahan jemariku di telapak tangannya. Aku tidak ingin melepasnya! Namun ia menepuk punggung tanganku dan meletakkan tanganku kepada Joo Hwan.
Kini aku berdiri bersama Joo Hwan sambil menahan tangis. Aku ingin berbalik dan mengejarnya. Aku ingin memeluk punggungnya. Aku ingin lari bersamanya. Namun kakiku memaku. Aku hanya bisa berdiri di sisi Joo Hwan, menerimanya sebagai suamiku yang sah.
Aku sudah memenuhi keinginanmu. Apakah kau tenang sekarang?

Cha Joo Hwan – I Know That They’re In Love
Hidupku terlalu sempurna. Sangat sempurna hingga terasa membosankan. Hingga aku bertemu dengannya.
Aku terlahir di dalam sebuah keluarga kaya dan terhormat. Sejak kecil aku diberi pendidikan yang terbaik, hingga membentukku tidak hanya menjadi orang pintar, tetapi juga berkepribadian baik. Kini aku adalah seorang dokter gigi. Tempat praktekku selalu ramai tiap hari. Biasanya orang-orang takut untuk ke dokter gigi, jadi aku berusaha membuat para pasienku merasa nyaman.
Begitu sibuknya aku dengan pekerjaanku, membuatku tidak sempat mencari jodoh. Oleh karena itu, orangtuaku menjodohkanku dengan anak sahabat mereka. Namanya Jenna. Dia adalah seorang fotografer professional. Dia cantik. Walaupun wataknya sedikit keras dan dia seorang perokok berat, tetapi aku tidak mempermasalahkannya. Dia sendiri juga menerima perjodohan ini, sehingga kami pun bertunangan.
Cinta? Aku tidak tahu apa itu cinta. Jika ditanya, apa aku mencintai Jenna? Aku tidak tahu. Menurutku, cinta bukanlah segalanya. Jika kita sudah merasa cocok, bisa menerima segala kelebihan dan kekurangannya, orang tua juga sudah setuju, maka hubungan pun bisa berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Cinta hanya sebagai pemanis saja. Mungkin jika kami sudah menikah, memiliki buah hati, lama kelamaan, cinta itu akan muncul dengan sendirinya.
Itu pendapatku tentang cinta dan pernikahan. Tetapi ketika aku mengenalnya, pendapat itu berubah. Cinta dan pernikahan, harus berjalan berdampingan.
Ketika pertama kali aku melihat wajahnya, aku bisa merasakan darahku berdesir dengan derasnya di bawah kulitku. Jantungku berdegup dengan kencang. Kurasa bukan karena aku kena serangan jantung mendadak, mengingat aku tidak memiliki riwayat sakit jantung, juga pola hidupku yang sehat. Aku melihatnya ketika diundang untuk tampil di sebuah stasiun radio. Dia sedang bercanda tawa dengan seorang pria. Kekasihnya? Aku tidak tahu.
Kali kedua pertemuan, ketika aku sedang duduk sambil minum kopi sebelum melanjutkan siaran. Dia datang menghampiriku. Tidak. Tepatnya menghampiri mesin kopi di depanku. Setelah memencet tombol, tiba-tiba ia menoleh kepadaku, meminta gelas kertas yang sedang kupegang. Aku tertegun sesaat, merasa tak percaya, benarkah dia sedang berbicara denganku?
Aku menyerahkan gelas itu yang kemudian dipakainya untuk minum kopi. Tiba-tiba ia bertanya, ““Hm… di mana tadi kau meminumnya? Ini bukan ciuman tak langsung, kan?”
Dia mengembalikan gelas itu dan pergi meninggalkanku yang masih tertegun. Aku menatap punggungnya yang menjauh, lalu mengalihkan tatapanku ke bekas lipstick yang menempel di tepi gelas. Aku mendekatkan bekas lipstick itu ke mulutku, meminum sisa kopi yang masih ada di dalamnya. Ini ciuman tak langsung.

***
Dia datang ke klinikku. Namanya Eun Won. Aku membacanya di daftar pasien. Entah kedatangannya atau masker yang kukenakan membuatku sesak napas. Aku membersihkan giginya yang sebenarnya sudah cukup bersih.
“Di hari pertama bertemu, kita ‘berciuman’. Di hari kedua, kau melihat ke dalam diriku. Jadi apa yang akan kita lakukan di hari ketiga?”
Dia mengajakku minum bersama di pertemuan ketiga. Entah mengapa aku tidak bisa menolaknya. Pesonanya membuatku tergila-gila. Sejenak aku merasa masih single, tidak punya tunangan.
Tunangan. Jenna. Ah, apa ini yang disebut selingkuh? Sepertinya semua ini salah. Tidak seharusnya aku terpesona pada gadis ini. Aku sudah punya Jenna.
“Aku sudah bertunangan.”
Dia malah menyemburkan tawa tertahan dan mengajakku bersulang. Mungkin lebih baik kami berteman saja. Aku harus menyingkirkan debaran aneh ini. Karena aku sudah punya Jenna.
***
Jenna mematikan rokok yang baru separuh dihisapnya ke atas asbak. Ia keluar dari ruang merokok, lalu duduk di hadapanku.
“Cih, sejak kapan di sini dilarang merokok,” omelnya.
“Tidak tahu,” jawabku singkat.
Kami terdiam sejenak dengan memalingkan wajah kami masing-masing. Dia baru saja memutuskan hubungan pertunangan kami tanpa alasan. Aku cukup terkejut. Hanya terkejut. Selebihnya, malah ada rasa kelegaan yang menelusup ke dalam hatiku.
“Orang tua kita pasti akan terkejut,” kataku.
Dia hanya mengangguk. Aku mengambil cangkir cappucinoku, tetapi hanya menatap cairan kecokelatan di dalamnya, “Seharusnya aku marah saat ini, bukan? Memakimu, atau semacamnya.” Aku terkekeh pelan, “Lucu. Sebaliknya aku malah merasa sedikit bersyukur.”
Ia menaikkan sudut bibirnya dan mendengus pelan, “Aku akan keluar untuk merokok. Cih, sungguh tidak menyenangkan,” katanya sambil meraih bungkus rokoknya dan keluar dari café.
***

“Pertunanganku sudah bubar,” kataku ketika Eun Won menuangkan anggur merah ke gelasku.

“Pertunanganku sudah bubar,” kataku ketika Eun Won menuangkan anggur merah ke gelasku.
Ia meletakkan botol anggur dan bertopang dagu, “Aku tidak punya orang tua. Waktu di sekolah dasar, seorang guru tiba-tiba masuk ke kelasku, menyuruhku untuk segera ke rumah sakit. Ketika aku tanya kenapa, dia bilang bahwa orang tua dan adikku meninggal karena kecelakaan.”
“O… oh… turut berdukacita.”
“Key selalu bersamaku selama ini.”
Aku menoleh, “Key?”
“Kau mengenalnya, Produser Kang Chul Kyu. Karena namanya aneh, kupanggil Key saja.”
Oh, pria itu… Pria yang bercanda bersamanya dan terlihat mesra ketika pertama kali aku melihat Eun Won.
“Di rumah, dia menjadi ibuku. Waktu bekerja, dia menjadi ayahku. Ketika aku sedih, dia menjadi kakakku. Terkadang dia seperti kekasihku.”
Aku meminum anggur untuk meredakan api amarah yang membakar dadaku. Aku benci mendengarnya membicarakan pria itu. Atau pria manapun. Apakah ini rasa cemburu? Secepat ini aku merasakannya?
“Bolehkah aku menciummu?” tanyaku memotong ceritanya.
Ia menoleh menatapku, “Kau mau menciumku?”
Aku mendekatkan wajahku. Tak sengaja tanganku menyenggol gelas wine hingga pecah berantakan dan menumpahkan isinya berceceran. Aku tidak berhasil menciumnya, karena ia memalingkan wajahnya. Karena terkejut mendengar gelas yang pecah, atau…?
***
Kami resmi berkencan. Aku sering mengunjunginya di radio. Ketika ia sedang siaran, kebetulan ada Produser Kang duduk memperhatikannya dari balik kaca. Kami saling menyapa dengan ramah, lalu aku fokus melihat Eun Won. Kami berbincang tanpa suara. Dia menanyakan apakah aku sudah makan? Aku pun mengajaknya makan bersama.
Tiba-tiba Produser Kang menggeser kursinya dan beranjak pergi. Aku meliriknya dari manik mataku. Aku tidak tahu apakah aku salah lihat, atau hanya perasaanku saja, tampaknya ia tidak suka dengan kedekatanku pada Eun Won. Tetapi aku tidak peduli. Aku mencintai Eun Won. Aku ingin memiliki Eun Won.
***
Ketika aku baru mengganti baju praktekku, pintu ruang ganti mendadak terbuka. Eun Won tampak bergegas menghampiriku dan menciumi bibirku dengan begitu menggebu. Aku yang masih belum bisa mencerna apapun yang sedang terjadi, hanya bisa tertegun.
“Bisakah kita menikah secepatnya?”
Dia… melamarku? Aku tak percaya ini. Tentu saja aku mau. Inilah yang kuinginkan, menikah dengan wanita yang kucintai. Kutarik wajahnya, kucium bibirnya.
“Aku ingin mencari gaun pengantin.”
“Baiklah, aku akan mengosongkan jadwalku hari ini.”
“Aku ingin mencarinya dengan Key.”
Aku terdiam. Dalam hatiku membara, tetapi senyumku masih terpatri di wajah, “Terserah kamu saja.”
Aku menemui Produser Kang di sebuah café, mengucapkan terima kasih atas segala yang telah ia berikan pada Eun Won selama ini, juga memintanya menemani Eun Won.
“Kuharap ini adalah hal terakhir yang dapat kau lakukan untuknya, karena dia kini adalah wanitaku, bukan?” kataku sambil mengeraskan rahangku, menahan api cemburuku.
Ia hanya tersenyum, namun kulihat matanya memancarkan kesedihan, “Tentu. Jagalah dia baik-baik, Dokter.”
“Tentu saja. Karena dia adalah wanitaku sekarang.”
Dia tampak menunduk. Kurasa dia tahu apa maksudku. Sepulang dari minum teh bersama, tanpa mereka sadari, aku mengikuti mereka ke butik baju pengantin. Dari jendela kaca, aku melihat calon pengantinku yang sangat cantik di balik gaun pengantin putihnya. Ia tampak tersenyum bahagia. Aku pun bahagia melihatnya.
Tetapi senyumku memudar ketika aku melihat Produser Kang menghampirinya dengan mengenakan jas untuk pengantin. Mereka berdiri berdampingan, Eun Won menggandeng lengannya dan meletakkan kepala di bahunya. Pemilik butik memotret mereka. Tak lama kemudian, Produser Kang keluar dari butik sambil menangis keras. Sepertinya ia tidak menyadari kehadiranku, karena ia melewatiku begitu saja. Aku menoleh kembali ke dalam butik, melihat tirai yang telah kembali menutup. Cukup lama, mungkin Eun Won mencoba gaun yang lainnya. Dan ketika tirai dibuka, wajahnya tampak muram. Sesekali ia mengusap matanya dan tampak sesenggukan.
Eun Won dan Produser Kang saling mencintai. Aku tahu itu, setiap kali melihat pancaran mata keduanya ketika mereka saling memandang. Namun pancaran cinta itu seperti terhalang oleh sesuatu. Diriku, kah? Jika aku merupakan penghalang mereka, mengapa Eun Won tidak menolakku, bahkan mengajakku menikah? Itu yang masih belum kumengerti.
***
Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Eun Won. Aku sudah berdiri di depan altar, menunggu wanitaku yang sedang berjalan ke arahku sambil bergandengan dengan Produser Kang. Dia sudah tidak memiliki orang tua, juga sebatang kara. Hanya Produser Kang yang ia punya.

Ketika mereka berjalan berdampingan, jujur, mereka benar-benar serasi. Tampan dan cantik. Wajah mereka juga memancarkan kebahagiaan. Sepertinya hari ini merekalah yang menikah, bukan aku.
Tetapi ketika mereka sudah sampai di depan, ketika aku mengulurkan tanganku untuk menerima tangan Eun Won, jelas sekali perubahan ekspresi wajah mereka. Masing-masing tampak tak rela melepaskan genggaman mereka. Aku melihat Eun Won semakin mempererat genggamannya di tangan Produser Kang. Tetapi pria itu menepuk tangan lentik itu dan meletakkannya ke tanganku.
Aku menggandeng –tepatnya menarik- tangan Eun Won ke depan altar, siap untuk mengucapkan janji pernikahan. Hari ini kami resmi menikah. Aku tidak peduli jika mereka masih saling mencintai, karena Eun Won sudah jadi milikku sekarang. Aku akan berusaha membahagiakannya hingga ia bisa memberikan hatinya padaku seutuhnya.
***
Mobil sedan hitam yang kukendarai memasuki sebuah rumah duka. Aku melangkah pelan memasuki rumah duka dan berhenti di depan tempat penyimpanan abu. Aku duduk di bangku panjang di sana sambil menatap sebuah perekam suara dan selembar foto. Foto Eun Won dan Produser Kang yang diambil ketika Eun Won fitting baju pengantin.
Kini aku mengerti mengapa cinta mereka tidak dapat bersatu. Mengapa mereka saling menutupi perasaan mereka, bahkan melibatkan orang lain – yaitu aku - untuk mengubur perasaan mereka. Dan kini, setelah semua yang telah terjadi, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hati Eun Won tidak pernah berpaling dari cintanya pada Produser Kang, meskipun aku telah melakukan segala cara agar Eun Won bisa sedikit saja membagi cintanya padaku. Walaupun Produser Kang sudah meninggal, cinta Eun Won tak pernah mati.
Setelah menyeka setitik air mata yang keluar dari manik mataku, aku berdiri, meletakkan foto dan perekam suara di samping guci abu. Abu Eun Woo.
Aku berjalan pergi, membiarkan perekam suara itu menyala. Rekaman suara Eun Woo yang terakhir kalinya, sebelum ia pergi untuk menyusul cinta sejatinya.
Jadi, apakah kalian sudah tenang sekarang?
***
Chul Kyu… aku datang untukmu.
Jangan khawatir, aku percaya padamu.
Ingatkah, ketika aku berkata bahwa aku dapat melihatmu,
walaupun kau tidak bersamaku?
Pergi ke manapun yang kau mau,
aku akan segera menemukanmu.
Jangan marah ketika kau melihatku.
Jangan tanya mengapa aku mengikutimu atau memarahiku.
Setelah segala yang terjadi, kalau kau masih memarahiku, aku akan menangis.
Ketika kita bertemu lagi, kita tidak boleh menangis lagi.
Tunggu aku…
Aku akan segera sampai…
THE ANN

***
No One Else – Lee Seung Chul
Jeon beonigo
(Event though)
Dashi taeeonandeaedo
(i am reborn a thousand more times)
Keureon saram tto eopseul tejyo
(there will not be another one like you)
Seulpeun nae salmeul
(the one who)
Ttaatteuthage haejun
(would warm up my sad life)
Jam komaun saramimnida
(i’m really gratefull for that person)
Keureon keudael wihaeseo naui shimjang jjeumiya
(for that person, my heart could)
Eolmadeun apado joheunde
(be hurt indefinitely)
(even though i can’t tell that i love you)
Meon goseseo ireohke
(the fact i’m able to)
Baraman boado
(look at you from far away)
Modeun geol julsu isseoseo saranghalsu isseosseo
(give you everything and love you)
Nan seulpeodo haengbokhamnida
(although i’m sad, i’m happy)
Na taeeona cheoeum gaseum tteollineun
(there is no other love in this world)
Ireon sarang tto eopseul tejyo
(that could make my chest shiver with a such anticipation
Mollae gamjweo dun oraen gieok sogui
(i’ve buried so deep in my memories)
Tan hanaui sarangimnida
(my only love)
Keureon keudael wihaeseo
(to someone like you)
Apeun nunmuljjeumiya
(all the painful tears)
Eolmadeun jameul su ittneunde
(i could endure it indefinitely)
Sarangiran keu mareun mothaedo
(even though i can’t tell that i love you)
Meon goseseo ireohke
(the fact i’m able to)
Baraman boado
(look at you from far away)
Modeun geol julsu isseoseo saranghalsu isseosseo
(give you everything and love you)
Nan seulpeodo haengbokhamnida
(although i’m sad, i’m happy)
Amugeotdo baraji anhado
(i don’t want anything else except)
Keudae useo jundamyeon nan haengbokhal tende
(your laugh with it, i’ll be happy)
Sarangeun juneun geonikka
(because love is about giving everything)
Keujeo juneun geonikka
(only about giving)
Nan seulpeodo haenbokhamnida
(so although i’m sad, i’m happy)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar